"Ron, gue nggak suka cara Lo gitu," ucap Salma saat keluar dari kamar mandi.
"Eh?"
"Bangun tidur gitu," Salma melipat wajahnya, cemberut.
"Kenapa emangnya?"
"Ya gue belum sadar belum apa, Lo maen gitu aja,"
Rony menghampiri perempuannya. Memeluknya dari belakang.
"Enak, Sa..."
"Nggak, gue nggak suka, berasa diperkosa," Salma marah.
"Lah..."
"Lo bisa bangunin gue dulu, ngomong dulu,"
"Enak kan?"
"Ron! Gue serius," ucap Salma masih dengan nada marah.
"Iyah, sorry. Jangan marah gitu dong,"
Salma melepas pelukan lelakinya.
"Mandi sana," ucap Salma sambil berlalu.
Rony menurut, menuju kamar mandi. Sedangkan Salma ke teras, membawa laptopnya. Menulis catatan mengenai konser-konser yang ddidatangi selama di Bali. Dari kemarin dia tidak ada waktu untuk menulis. Semalam dia dan lelakinya malah keasyikan membuat lagu. Iya, setelah berendam.
Suasana pagi yang mulai menyingsing, dengan kabut tipis dan pemandangan yang indah di penginapan itu. Suasana yang asik untuk menulis. Rony menghampiri perempuannya setelah mandi, handuk putih tersampir di pundaknya dia pakai untuk mengeringkan rambutnya.
"Gue minta sarapannya diantar kesini aja mau?" tawar Rony.
Salma hanya mengangguk.
"Sa, masa masih ngambek si? Ini suasananya asik gini,"
"Lo gak asik,"
"Ya udah gue bilang dulu minta sarapan," ujar Rony ke dalam kamar dan menelpon pengelola, meminta diantar sarapan.
Salma masih berkutat dengan laptopnya. Rony tetap di dalam membiarkan perempuannya sibuk sendiri. Mungkin sedang tidak mau diganggu. Kelakuannya tadi pagi mungkin terlalu kurang ajar. Rony sekarang berkutat dengan hp-nya, membalas beberapa pesan dan sedikit mengurus pekerjaan.
Seorang pelayan hotel membawa nampan sarapan mereka. Makanan itu diletakkan di meja dengan dua kursi yang berada di sisi lain teras bangunan itu. Rony keluar saat sarapan mereka datang.
"Sa, makan dulu," ucap Rony.
Salma mengela nafas, mematikan laptopnya. Meletakkan di kamar, lalu mendekat ke meja dimana makanan di letakkan. Matahari sedikit mengintip dari balik pohon kelapa. Keduanya makan dengan khidmat, ah bukan, diam. Saling diam. Rony selesai makan lebih dulu, dia langsung menyalakan sebatang rokok. Ia menunggu Salma selesai makan.
"Sa, sorry. Masa cuma gitu aja marah banget si," ucap Rony setelah perempuannya selesai makan.
"Itu nggak 'cuma', Ron!"
Rony berdecak.
"Iya, maaf. Udah ya marahnya,"
"Lo nggak tau kan gue lagi mood apa enggak,"
"Lah semalam asik gitu, masa paginya ga mood. Gue udah bangunin, tapi Lo tidur kek kebo,"
"Berarti gue secapek itu, Ron!"
"Iya, Sa. Maaf. Serius, nggak bakal diulangi," ucap Rony meraih tangan perempuannya.
"Ya udah..." ucap Salma masih ketus.
"Masuk list pinky agreement deh," Rony mengulurkan jari kelingkingnya.
Salma sedikit senyum, senang lelakinya mengingat itu. Dia menautkan kelingkingnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dengarkan [end]
Fiksi PenggemarCerita sekuel dari 'Katakan: karena sebuah cerita berawal dari sebuah kata Meraih cinta itu mudah, tidak semudah itu memang. Mungkin tampak lebih mudah karena memiliki pembanding, mempertahankannya. Rony dan Salma sudah bertemu cinta. Keduanya salin...
![Dengarkan [end]](https://img.wattpad.com/cover/352460083-64-k793784.jpg)