Pengumuman: SEMESTA JATI

3.3K 185 50
                                        

Baby Jazz: a flash back

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Baby Jazz: a flash back

Nisa baru selesai memandikan Jati, dia menggendong bocah itu dari kamar mandi, dengan handuk menyelimuti seluruh tubuh bayi itu. Veron mengambilkan satu stel pakaian si bayi, meletakkannya di atas kasur. Lalu dia mengambil minyak telon yang terletak di laci nakas di samping tempat tidur.

"Sa, bajunya di ranjang ya," ucap Veron sambil mencium pelipis perempuannya, lanjutnya, "Aku mandi dulu."

Nisa mengangguk dan tersenyum.

"Bump, pake minyak telon dulu," ucap Nisa.

Jati kemudian dibaringkan di atas ranjang. Nisa mengoleskan minyak telon ke tubuh Jati. Mulai dari dada, perut, kemudian Nisa membalikkan tubuh bayi itu, mengoleskan minyak itu ke punggung si bocah dengan sedikit memberi pijatan ringan. Aroma minyak telon langsung memenuhi kamar itu, aroma kesegaran yang lembut.

"Sekarang pakai baju, bajunya warna ungu, ada gambar ikan," ucap Nisa terus mengajak anaknya bicara sambil memakaikan pakaian Jati.

"Da... da... da..."

Si bocah mengeluarkan celoteh kecil, tanpa makna. Tapi seperti paham ucapan bundanya.

"Kenapa, Bump? Lapar ya? Iya, habis ini nen, pakai ini dulu. Kaos kakinya..." ucap Nisa sambil memakaikan kaos kaki pada Jati. Dia memberi tahu apa-apa yang akan dikerjakan oleh si bocah.

Nisa sudah terampil mengurus Jati sendiri. Memandikan Jati sudah tidak perlu dibantu doula. Dia bisa mengerjakan semuanya sendiri. Nisa belajar dengan cepat. Dan segala sesuatu yang dikerjakan sepenuh hati, seperti memudahkan semuanya.

Seperti yang Nisa ucapkan pada Jati, setelah selesai dengan pakaian, Nisa kemudian memangku si bocah. Perempuan itu membuka dua kancing teratas kemeja yang ia kenakan, lalu menyusui anaknya. Nisa meringis, si bocah menyusu dengan kuatnya.

Jati tumbuh dengan sehat, kenaikan berat badannya sungguh pesat. Nisa berusaha memberinya ASI eksklusif. Tanpa tambahan apapun. Membuat tangan dan kaki Jati berbuku-buku seperti roti sobek. Gendut, menggemaskan. Membuat yang menggendong langsung pegal kalau tidak terbiasa.

Memberi ASI eksklusif bukan sesuatu yang mudah, Nisa harus mengatur pola makannya. Kurang nutrisi bikin si bocah mudah lapar. Kadang salah makan akan membuat pup si bocah jelek. Paling parah kalau sampai si bocah sakit.

Nisa juga harus membawa Jati kalau pergi lebih dari dua jam. Apalagi dia masih memiliki tanggungan mengurus revisi tesisnya. Untungnya dia memiliki suami dengan jadwal fleksibel yang bisa membantunya. Juga dukungan Maya, mertuanya, yang bisa ikut membantu menjaga Jati kalau Nisa ada urusan dengan kampusnya. Kalau tidak, pergi lama hanya akan membuat payudaranya sakit, karena si bocah sudah ingin menyusu. Ikatan Ibu dan anak memang seerat itu.

Nisa tidak melakukan pumping dan menyimpan susu di freezer. Bukan karena menolak cara itu, tapi menurut Nisa karena kondisinya masih memungkinkan untuk tidak memakai cara itu. Nisa ingin merawatnya sendiri. Sebuah keputusan untuk menuruti egonya; memberi yang terbaik untuk anaknya.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang