12 Mulai di Titik 0

9.6K 517 109
                                        

Pagi hari kedua di Anyer semua memulai hari dengan sarapan di hotel. Masing-masing mengambil makanan sendiri secara prasmanan. Sekawanan ini duduk di sebuah meja panjang. Danil dan Syarla bergabung terakhir ke meja tersebut. Pagi tadi mereka sepertinya keluar lebih awal.

Salma membuatkan teh untuk Rony. Rony kesal karena perempuannya belum memperbolehkan meminum kopi. Dia kesal, tapi menurut. Ada yang sarapan berbasis nasi, ada yang memilih roti. Paul memakan keduanya, membuka dengan sebuah toast yang Nabila buat, setelahnya makan nasi dengan lauk yang memenuhi piringnya.

Rony ingin roti, tapi Salma lagi-lagi melarangnya, gandum kurang baik untuk gerd. Lagi-lagi ia menurut.

Setelah makan besar sebagian orang sudah selesai, mereka lalu melanjutkan sesi makan kudapan. Anggis memulai panduan acaranya hari ini.

"Gaes pagi hari ini bebas ya, yang penting jam 11 kita mesti check out hotel. Terus kita makan siang deket sini. Buat yang mau beli oleh-oleh nanti kita berhenti di toko oleh-oleh. Sore kita nongkrong disini lagi, ada beach club gitu pas weekend. Sekalian makan malam barbeque disini, baru pulang. Oke kan, Pak Sopir?" tanya Anggis ke Paul yang masih menghabiskan makanannya.

"Iye..." jawabnya dengan mulut masih mengunyah.

"Gue, Syarla sama Nabila abis ini mau mainan air, keknya bisa diurus sama hotel ini sekalian, ada yang mau ikut?"

"Yaaah, gue pengen, tapi gue lagi dapet lagi," keluh Salma.

Rony melihat kekecewaan perempuannya. Sedikit heran, kenapa momen seperti ini perempuan itu selalu sedang datang bulan. Untungnya kali ini tidak ada hal yang membuatnya emosi.

Semua ingin mengikuti acara Anggis, kecuali dua pasangan, Rony dan Salma, serta Neyl dan Novia. Neyl dan Novia punya rencana sendiri untuk mencari pantai lain di sekitar. Salma? Rony mengajaknya jalan-jalan di sekitar saja. Rony menemani perempuannya yang sedang berhalangan.

Selesai makan, Rony menggandeng Salma untuk jalan kaki. Rony yang memimpin langkah. Hari ini langit gloomy. Tidak hujan, tidak juga cerah. Langit seakan berwarna putih keabuan, merata. Kelembabannya tinggi, tidak berkeringat namun kulit terasa lengket. Rony mengenakan kacamata hitamnya, dan menggunakan bucket hat, menghindari wajah kepiting rebusnya.

Rony dan Salma berjalan sekitar 500 meter, keluar dari area hotel lalu menelusuri jalan besar. Tidak ada trotoar, hanya bahu jalan dari tanah. Kendaraan yang melintas sepertinya buru-buru karena ini merupakan jalan besar. Rony mengambil posisi di sebelah kanan Salma, posisi melindungi.

Rupanya Rony mengajak ke Mercusuar yang semalam mereka lihat dari dek kayu. Semakin dekat dengan mercusuar, semakin terasa besar dan tinggi bangunan itu. Membuat manusia di bawahnya merasa semakin kecil. Rony tidak langsung mengajak Salma masuk, dia mengarahkan perempuannya ke sebuah monumen dengan bentuk bola dunia yang disangga dua tangan.

Di bawahnya terdapat obelisk mini berwarna hitam, mungkin dari batu granit. Disana tertulis: 'Di sini awal berdirinya menara suar Cikoneng yang merupakan petanda titik 0(nol) Km Anyer-Panarukan'. Sebuah monumen baru yang dibangun tahun 2014. Di bawahnya ada peta jalan Anyer-Panarukan.

Monumen itu berada di atas lantai yang sedikit ditinggikan berbentuk lingkaran, dibagian terluar lingkaran tersebut terdapat tulisan 'Titik Nol Km' setinggi dada orang dewasa dengan font serif berwarna merah, berderet mengikuti lingkaran lantai. Disebelahnya ada jalan menuju dermaga yang jauh menjorok ke laut.

Ada sebuah plakat dengan tulisan lebih panjang di salah satu titik lingkaran lantai itu. Tulisan itu berbunyi, 'Monumen ini menandai diyakininya lokasi Menara Suar Cikoneng lama sebagai titik nol pembangunan Jalan Anyer-Panarukan. Pada awalnya Menara Suar Cikoneng dibangun pada tahun 1806 sedangkan jalan Anyer-Panarukan dimulai tahun 1825 dan pada saat letusan Gunung Krakatau tahun 1883 Menara Suar (lama) hancur, hanya tersisa pondasinya saja.

Dengarkan [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang