Back to Indonesia

3 1 0
                                        

Selesai telponan, gue kasih hpnya lagi ke Aunty Camilli sekaligus menceritakan obrolan kita dan rencana gue buat balik ke Indo nanti. Aunty Camilli sih dukung-dukung aja. Pokoknya dia selalu jadi back up kalo gue kenapa-napa. Dia membujuk gue untuk mendengarkan papi dulu untuk yang sekali ini aja, kali aja ini yang terbaik buat gue. Semoga ya. Meskipun gue udah selesai pengobatan, tapi tetep aja gue masih merasa hampa karena kabur dari masalah, bukan diselesaikan. Mungkin dengan gue balik ke Indonesia, masalahnya bisa selesai, or at least terurai sedikit.

Dua hari kemudian, sebelum gue dijemput grandma dan grandpa di Swiss, Elzano ke apart Aunty buat say good bye gue ke Finland dan sekalian gue ke Indo nanti. Katanya kalo gue lebih dari tiga bulan di Indo, dia bakal main-main ke Indo buat ketemu gue haha. Dia semester depan tinggal tesis, jadi dia bisa kerjain dari mana aja sebenernya, gak harus di kampus. Entahlah, gue masih maju mundur sama dia.

Setelah dijemput grandma dan grandpa, gue pamitan sama mereka semua, terutama Aunty Camilli yang udah ajak gue ke Paris meskipun cuma sebentar. Nanti dia dan Uncle Deryl akan ikut ke Indonesia. Grandma sama grandpa kayaknya gak ikut.

Dua minggu sebelum ke Indo, gue sempet konsultasi lagi sama psikiater gue lewat online. Beliau bilang ini adalah langkah yang tepat, supaya pengobatan ini gak berakhir 'fana' karena masalah sebenarnya belum selesai.

Persiapan balik ke Indo, Aunty Camilli, Uncle Deryl, grandma, grandpa, dan Elzano ke bandara. Gue gak bawa semua barang gue karena sesuai dengan rencana, gue bakal balik lagi ke sini. Mungkin 2-3 bulan aja di Jakarta. Test drive dulu. Elzano keliatan sedih sih haha. Katanya nanti kalo ada waktu dia akan samper gue ke Indonesia.

Meskipun rencananya baru test drive 2-3 bulan, tapi entah kenapa gue takut gak balik lagi ke sini. Ya ... kalo masalah udah selesai juga gue gak papa sih di Indonesia terus, tapi seakan gue ke sini cuma minta diobatin terus pergi gitu. Gak enak banget!

"I will follow you wherever you go, Estella. Keep contact with me!" Elzano peluk gue sebelum gue masuk ke ruang tunggu penumpang.

"Thank you." Dia mau cium gue, tapi gak mungkin lah ya haha. Walaupun di sini gak taboo, tapi gue gak mau aja memberi kesan udah senempel itu sama Elzano.

"Jagain ya, Camilli, Deryl. She only have you," pesan grandma.

"She has her own father, Mom. Don't worry. I'll keep my eye on her!"

Gue pelukan sama grandma dan grandpa untuk terakhir kali sebelum pergi. Makasih sebanyak-banyaknya buat mereka yang udah rela menjadi tempat penampungan gue ketika sedang buruk-buruknya. Mengobati gue yang sedang sakit-sakitnya. Gue berjanji, meskipun nanti gue bakal balik tinggal di Indonesia, minimal setahun sekali gue harus ke sini buat jenguk mereka!

Akhirnya kita berpisah setelah berpelukan lumayan lama. Gue, Aunty Camilli, dan Uncle Deryl melanjutkan perjalanan sampai di Indonesia.

Perasaan gue selama perjalanan ini cukup campur aduk. Bahagia, takut, cemas, sedih, malu, dan banyak emosi lainnya. Gak ada yang bisa gue bayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah ini akan jadi turning point hidup gue? Atau kembali menjadi cobaan baru lagi? Entahlah. Gue gak mau konsumsi obat penenang lagi karena mikirin ini.

Berjam-jam perjalanan, akhirnya sampe juga di Bandara Soekarno Hatta. Ketika keluar dari imigrasi, gue melihat-lihat sekitar. Apakah papi akan jemput gue di bandara? Karena sampe saat ini pun gue gak ada komunikasi sama papi. Selalu dari Aunty Camilli.

Sambil dorong-dorong koper, tengok kanan-kiri, tiba-tiba ada yang berlari dan peluk gue dari samping. Ternyata itu papi. Langsung lah gue lepas kopernya dan peluk papi balik. Kita nangis berdua di tengah-tengah jalan lalu-lalang orang. Aunty Canilly dan Uncle Deryl membawa kita ke pinggiran supaya gak menghalangi orang lain. Kita masih pelukan sambil nangis di sini.

Crush with BenefitsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang