Malik beneran ngikutin Gocarnya di belakang mobil. Abang Gocarnya sampe takut dan curiga karena diikutin terus. Gue bilang aja itu emang temen yang searah rumah. Anjing emang Malik! Kenapa gue bisa disukain sama orang kayak dia! Aneh!
Ketika sampe di rumah, gue turun dari Gocar. Malik tetep ada di belakang mobil, nunggu gue masuk rumah.
"You can actually go now. Perlu gue panggilin papi gue buat usir lo?" ancam gue setelah keluar dan menutup pintu mobil, menghadap ke arah Malik si belakang mobil.
"Gua gak ada masalah sama papi lu. Dia enggak menyalahkan gua."
"Be his child, then! He didn't have a kid, no more." Gue masuk aja ke gerbang dan ninggalin Malik begitu aja di depan gerbang. Terserah lo deh klo emang mau terus di situ sampe hujan badai. Gak peduli!
Saat gue masuk rumah, ternyata ada papi di ruang tamu. Dia berdiri dari sofa dan samper ke gue yang baru masuk pintu rumah dengan tatapan yang marah. Gue cuma diem di tempat sambil melipat kedua tangan. Ahh, here we go again. Ribut lagi, ribut lagi.
"Dari mana kamu?"
"Abis dari APART AKU DAN ARANDA sama Malik."
"Ngapain?!"
"Idk. Have sex with him, probably?" Gue ngomong gini tanpa rasa bersalah sambil pura-pura liatin kuku tangan sendiri.
"No, you didn't! You won't do that!"
"Oh, you trust me finally? Haha."
"ESTELLA! PAPI BUKAN MARAH SAMA KAMU KARENA KAMU PERGI SAMA MALIK YA! PAPI MARAH KARENA KAMU MAU KE FINLAND GAK BILANG-BILANG PAPI! KOK BISA MALAH ORANG LAIN YANG BILANG KE PAPI!" Jadi para asisten di sini juga milik papi ya? Udah kayak karyawan penjilat muka dua yang lapor-lapor~
"Bukannya aku juga udah jadi orang lain buat papi? Buat apa bilang-bilang?" Pas gue ngomong gini, papi udah siap-siap mau tampar gue. Gue gak gentar sedikit pun sama gertakan papi. Gue udah gak bisa melampiaskan emosi di sini.
"Tampar aja sampe puas! Aku udah tau semuanya! Papi emang dalang dari segala kehancuran aku!" Gue liat papi nangis, tapi masih gak bikin gue bergetar, mungkin emang udah mati rasa. He should cry for destroying his daughter's life.
"Kamu gak bolehh keluar dari rumah lagi! Dan papi gak akan biarin kamu pergi ke Finland!"
"Okey. One thing you should know, my soul has been dying, and my body will follow if I don't get out from this hell!" Gue lanjut berjalan ke kamar dan meninggalkan papi sendiri.
Bener-bener gak ada manusia yang gue percaya! Gak akan gue komunikasi apalagi cerita-cerita sama senua orang yang ada di sini! Muka dua semuanya!
Perut gue bunyi-bunyi karena belum makan dari kemarin, bahkan kemarinnya lagi. Cuma minum air putih aja yang ada di kamar dan sisa camilan yang ada di kamar. Sekarang udah abis. Gue cuma punya minuman yang tadi gue bawa dari apart. Not bad lah~ Bisa bikin gue lupain semua momen bajingan ini!
Gue minum langsung dari botolnya. Kebetulan salah satunya ini kadar alkoholnya lumayan tinggi. Bisa bikin gue melayang terbang ke awan. Gak usah balik lagi kalo bisa. Maaf ya mami, aku gak berniat buat bunuh diri, tapi aku juga gak ada niat untuk melanjutkan hidup.
Awal-awal gue masih sempoyongan dan tipsy, tapi lama-lama semuanya gelap dan gue gak bisa lagi merasakan badan gue. Bangun-bangun, gue udah ada di bilik ruangan dengan gordyn biru di depan gue. Gue nengok kanan-kiri, ternyata tangan gue diinfus, ada papi di sebelah gue.
"Estella!" Oh shitt! Kayaknya gue ada di UGD nih. Gak asing tempatnya.
"Kamu aneh-aneh ajaaa sih! Kalo kenapa-napa gimana! Jangan gini dong, La!" Ekspresi papi khawatir banget, tapi gue gak ada energi untuk merespon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crush with Benefits
Romance"Hidup di belakang topeng dan menari di atas panggung." Kiasan yang cocok untuk Estella Beatrice dan Mischa Arananda di saat kehidupan sempurna mereka terbantah dengan preferensi menyimpang yang mereka lakukan untuk melampiaskan beban kehidupan.
