60. Akhirnya Tahu

230 7 0
                                        

"Woilah, ngelamun bae!"

Tanpa dosa Angga duduk di sebelah Melya setelah menggebrak meja yang membuat gadis itu terlonjak kaget.

"Lo bisa gak sih jangan gangguin gue!" ucap Melya dengan nada kesal.

Cowok itu mengedikkan bahunya, "Lo gak mau pulang? Udah malem nih," tanyanya.

"Sebentar lagi."

Angga berdiri lantas memberikan sesuatu dari saku hoodienya. "Buat lo biar mood lagi," ujarnya.

Kepalanya mendongak menatap cowok itu kemudian menolak mentah-mentah coklat yang disodorkan olehnya.

"Gue gak butuh perhatian palsu lo!" ucap Melya ketus.

"Kok lo sewot? kalo gak mau ya udah gak maksa, lagian nih coklat gue beli mahal-mahal buat ayang Resta bukan buat lo!" jelas Angga yang memasukkan kembali coklat itu ke sakunya.

Sudah dia duga, tidak mungkin Angga sepeduli itu padanya. Melya tertawa miris, "Terus kenapa lo kasih ke gue setan?!" tanyanya.

"Karena gue kasian liat sahabat gue dari tadi murung terus ya udah gue kasih ke lo, kalo buat Resta bisa nanti lagi gue beli," jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Saat ini rasanya Melya ingin menangis dan menertawai takdirnya yang begitu buruk.

Lantaran kesal Melya bangkit kemudian menyenggol bahu Angga.

"Woy! Kalo lo kesel sama gue bilang!" teriak Angga sebal.

Melya menulikan pendengarannya, saat ini dia ingin menyendiri dan tidak ingin pulang terlebih dulu. Tujuannya adalah menuju ke dapur dimana tidak akan ada orang yang mengganggunya kecuali cucian piring kotor yang menumpuk.

"Arghh! Angga sialan!" Melya mengumpat kesal.

Dia menangis sambil memukulkan kepalan tangannya ke dinding.

"Kenapa gue gak bisa bahagia? Kenapa? " teriaknya frustasi.

Dia butuh seseorang, dia butuh penguat, dia butuh pelukan.

"Kenapa Tuhan gak adil banget sama gue? Mana bahagia yang Tuhan janjikan untuk semua makhluknya? Kenapa gue selalu menderita?"

Pada akhirnya dia hanya seseorang yang tidak akan dianggap ada, entah itu di keluarga atau di mata Angga. Tidak ada yang benar-benar melihatnya, bahkan Nadira dan Nara pun terkadang tak dapat melihat kehadirannya.

"Gue capek," ucapnya lirih.

"Harusnya lo seneng Melya," seru Nara.

Dengan cepat Melya menghapus air matanya kemudian dia menatap Nara tajam, "Apa maksud lo? Gue harus seneng gitu liat cowok yang gue suka jadian sama cewek lain?" tanyanya kesal.

"Bukan Melya."

"Terus apa? Hal apa yang bisa buat gue seneng?" tanya Melya.

Nara bersedekap dada lalu menyunggingkan senyumnya, "Harusnya lo seneng kalo denger Alya ternyata punya penyakit kanker."

Melya terdiam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

"Seharusnya lo gak khawatir karena satu masalah lo musnah, mungkin besok atau lusa cewek itu-"

"Cukup!"

Nara terkesiap dengan bentak Melya. Baru kali ini dia melihat wajah marah dari Melya yang ditujukan untuknya.

"Lo bentak gue Mel?" tanya Nara tak percaya.

Tanpa takut Melya mendekat kemudian menatap Nara tajam. "Dia kembaran gue sialan!"

You My Bucin [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang