62. Jangan peduli

217 7 0
                                        

"Eh ada orang penyakitan, kenapa masih bertahan sih Al? Penyakit lo itu gak bakalan sembuh!"

Matanya menatap tajam pada gadis berdress putih itu, andai saja saat ini dia tidak memakai kursi roda mungkin dia sudah mencakar wajah menyebalkannya.

"Gak usah sombong Al, sadar diri lo itu udah gak bisa apa-apa," ucapnya.

"Lo bisa diem gak sih? Dasar muka polos hati nenek sihir!" sentak Alya kesal.

Gadis itu tertawa renyah, dia berjongkok dihadapan kemudian berkata, "Gue kasian lihat Ilham kalo tau ternyata pacarnya yang tersayang itu penyakitan."

"Nara!!"

Keduanya mengalihkan atensinya pada asal suara itu.

"Lo mau ngapain Alya? Ngapain juga lo disini?"

Nara menatap sinis cowok itu, "kak Aldian kenapa disini? Harusnya pacarnya Alya yang nemenin dia kok jadi kakak?" tanyanya.

"Lo gak usah ngalihin pembicaraan!" ucap Aldian.

"Iya, gue habis jenguk nenek gue dan kebetulan gue liat temen sekelas gue juga di rawat disini jadi sekalian aja," jawab Nara jujur.

Aldian menarik lengan Nara kemudian menghempasnya kasar.

"Awww," ringisnya. Nara menatap tajam pada cowok itu, "Lo banci banget ya! Lo berani kasar sama cewek?"

"Bodo amat!" ucap Aldian tepat di wajah Nara.

Cowok itu membiarkan gadis itu merutuk, saat ini tujuannya adalah untuk menjauhkan Alya dari gadis jahat itu.

Iya, Aldian tahu bagaimana sifat asli Nara karena tanpa sengaja dia mendengarkan rencana jahat gadis itu tentang memecah belah persahabatan antara Alya dan Resta.

"Ehh tunggu!" seru Nara.

Gadis itu menghalangi jalan Alya, dengan cepat dia mendekat kemudian membisikkan sesuatu di telinga Alya. "Ilham gak bakalan mau hidup sama cewek penyakitan kayak lo Al, apalagi sisa umur lo itu gak bakalan bisa nemenin Ilham sampai tua-"

"Heh! Udah gak usah lo hasut adek gue!" sentak Aldian.

"Sok tau lo!" bentak Nara.

Dengan kaki yang di hentakkan gadis itu berlalu pergi meninggalkan keduanya.

Kejadian kemarin selalu terputar di otaknya, ucapan Nara selalu menghantuinya hingga membuatnya memutuskan untuk menyerah mempertahankan Ilham.

"Kenapa lo nyakitin diri sendiri?"

Alya mendongak menatap Aldian yang mengulurkan tangannya.

"Tanpa menyakiti diri sendiri pun gue udah penyakitan," balas Alya.

Gadis itu berdiri tanpa bantuan Aldian. Dia tidak akan selemah itu hanya karena kanker yang di dalam tubuhnya.

"Lo jangan terus bantuin gue dan jangan peduli sama gue karena gue gak perlu di kasihani," jelas Alya kemudian meninggalkan Aldian sendirian.

Bukan Aldian namanya jika membiarkan gadis itu pulang sendiri, mau bagaimanapun Devan sudah mewanti-wantinya agar selalu mengikuti Alya dan menjaganya. Namun bukan itu saja alasannya, dirinya sendiri juga terdorong untuk melindungi gadis itu, karena Alya sudah seperti adiknya sendiri.

"Alya tunggu! Pulang bareng gue," teriak Aldian sambil berlari.

Alya menulikan pendengarannya sampai suara klakson mengagetkannya.

You My Bucin [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang