istri kedua(end)🍰

683 26 6
                                        

Pov Andini

Satu bulan setelah aku dirawat di RS, semuanya masih sama tidak ada yang berubah.Ritme hidupku,kebiasaan pun masih sama,bang Darma sekarang jarang kesini kalau kesini juga nggak pernah nginep.Aku denger mbak Ayu kondisinya semakin memburuk,aku mau jengguk tapi takut kalau malahan nambah masalah disana.Aku denger dari ibu juga kalau mbak Ayu sudah nggak mau dibawa ke RS,dia minta dirawat dirumah.
Jadi ada perawatan khusus yang merawat dan menjaga mbak Ayu setiap hari dirumah.

Pagi ini aku disibukkan dengan pesanan catering untuk acara di masjid,aku bahkan meminta bantuan dua orang tetangga untuk membantuku.Aku mulai proses masak dari jam 4 pagi karena nanti Dzuhur akan diambil,katanya untuk acara peresmian mushola baru jadi diakan syukuran kecil -kecilan.
Jam 11 siang semuanya sudah ready dan sudah diambil juga oleh pak RT,kini tinggal bersih² rumah dan juga semua peralatan masak.Kami bagi tugas aja biar cepet selesai,saat aku sibuk bebersih ibu datang dengan raut muka panik.

"Ada apa bu?"aku menyambut ibu yang kelihatan panik.

"Ayu meninggal satu jam yang lalu,kamu siap² kita kesana sekarang."ucap beliau.

"Inalillahiwainailaihirojungun ya bu tunggu sebentar,Dini mau mandi dan bersiap."aku pamit kepada Laras dan nitip biar dia yang selesaikan semuanya.Aku bergeges mandi dan mengambil beberapa baju ganti.Mungkin ini akan kepakai,kupikir sekalian aja mampir kerumah masa kecilku karena nggak mungkin aku menginap dirumah abang.

Perjalanan yang biasanya cepet ini kurasakan lebih lama,satu jam lebih baru sampai padahal biasanya hanya 45 menit kalau ngebut.Aku digandeng ibu masuk untuk menemui keluarga,
aku menyalami satu persatu keluarga dan sanak saudaranya yang sudah hadir disana.Aku melihat jenazah mbak Ayu bersama ibu dan ayah,kami juga sempat melakukan sholat jenazah terlebih dahulu.

Ibu menuntunku untuk duduk diruang tengah,tapi sedari tadi datang aku tidak melihat bang Darma,mungkin lagi sibuk mempersiapkan pemakaman atau lainnya pikirku.

"Nduk,liat masmu dikamar sebelah,pasti dia menyendiri disana."ucap ibu padaku sambil menunjuk kamar disebelahku.

"Itu kamar siapa bu?"aku nggak mau masuk kekamar yang ditempati mbak Ayu dulu,sesak aja rasanya walau ini dalam keadaan berduka sekalipun.

"Kamar tamu,kata bapak sejak pagi dia belum mau makan,coba kamu tawari makan dulu ya."
ucap ibu lembut.

"Enjih bu."baru mau melangkah sebuah tarikan membuatku kaget,belum sempat melihat siapa yang menarik tubuhku sudah dikagetkan dengan sebuah tamparan di pipi kananku,
disusul dipipi kiriku.

plakk

plakk

"Dasar perempuan murahan!ini kan yang kamu mau,kamu seneng kan liat anak saya meninggal!bahagia kamu liat anak saya meninggal!"ibu Ani sudah mengeluarkan sumpah serapahnya padaku,bahkan semua orang sudah melihat kearahku dan bu Ani.

"Kenapa diam!kamu bahagia kan sekarang karena anak saya meninggal, seneng karena madumu mati juga akhirnya.
Kami bisa puas menguasai Darma dan juga hartanya ia.!"

"Astaghfirullahhalazim saya tidak seperti itu."ucapku pelan.

"Bu Ani sabar,ini masih dalam kondisi berduka jangan buat keributan disini."ucap ibu yang ingin menenangkan bu Ani.

"Halah kalian sama saja,seneng akn Ayu meninggal,nggak jadi beban buat Darma dan keluarganya!ibu bahagia kan karena sudah punya menantu baru lagi!"ucapnya sarkas pada ibu dan juga bapak.

"Astaghfirullahhalazim kami nggak berfikir seperti itu."bapak ikut angkat bicara.

"Munafik!liat Darma pasti senang karena bebannya sudah nggak ada.Habis ini bisa langsung bahagia sama istri mudanya.Sementara saya harus kehilangan anak perempuan saya!kalian nggak punya hati berani membawa madunya ke rumah ini bahkan saat jenazah anak saya belum dimakamkan."

CeritakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang