Sejak subuh kesibukan dirumah sudah mulai terlihat,ibu sudah siap dengan seragam batik dari tour dan travelnya,
sudah sarapan juga dengan menu sederhana sejuta umat yaitu nasi goreng.
Aku masih sibuk mengeluarkan semua isi kulkas takutnya ada yang busuk,tapi ternyata kulkas ibu sudah kosong kayaknya beneran sudah diperhitungkan sama ibu.
Mas Satya lagi membantuku menjemur pakaian kami yang barusan aku cuci,aku nggak bisa ninggal rumah dalam keadaan berantakan.Setelah semuanya selesai kami bergantian mandi,aku sudah memastikan semuanya aman saat kita tinggal nanti.Kran air sudah dimatikan semuanya, regulator gas sudah dilepas,kulkas juga tak cabut karena memang nggak ada isinya.Nanti cuma lampu teras dan ruang kamu yang akan aku nyalakan.Kita akan menginap disini sesekali mungkin saat weekend.
"Kita langsung ke bandara kan nduk?"ibu sedang memakai kaos kaki dan sepatu saat aku baru selesai bersiap.
"Harusnya kumpul dikantor biro tournya tapi aku sudah bilang kok sama mbak Dista kalau kita langsung ke bandara.'jawabku pada ibu .
"Nggak apa-apa,disana sudah ada yang nunggu nanti.Hanin siap-siap dulu ya."aku langsung masuk kamar dan berganti pakaian kerja,nanti setelah nganter ibu langsung berangkat kekantor.Mas Satya sudah siap dari tadi bahkan koper milik ibu sudah dimasukan ke bagasi.
"Sudah siap sayang?"mas Satya muncul dari balik pintu,cuma kepalanya aja.
"Sudah."aku mengecek sekali lagi barang kali ada barang yang lupa dibawa,aku juga mencabut semua colokan listrik dirumah.
Setelah semuanya siap kami langsung berangkat menuju bandara,sengaja berangkat lebih pagi biar nggak kemrungsung.Mas Satya yang menyetir sedangkan aku duduk dibelakang sama ibu,
rasanya masih pengin meluk nggak mau lepas pokoknya.Sampai bandara sudah ada petugas yang standby disana,ibu didata terlebih dahulu sambil menunggu rombongan lain yang belum tiba.Ada breafing dan doa bersama sebentar sebelum pesawat check-in.
"Ingat ya nduk,harus baik-baik,jaga kesehatan,harus bahagia dan saling sayang."ibu memelukku erat,air mataku sudah nggak bisa ditahan lagi sejak tadi dirumah tapi ibu selalu tersenyum merekah nggak ada kegelisahan apa pun didalam pancaran matanya.
"Iya Hanin ingat,ibu juga harus jaga kesehatan selama disana,harus pulang dalam keadaan sehat walafiat."kataku saat pelukan kami terlepas.
"Pasti nduk."ibu bergantian memeluk mas Satya dan mengumamkan beberapa pesan untuknya,ibu bahkan menepuk bahu mas Satya sesaat sebelum beliau check-in.
Kita berdua melambaikan tangan pada ibu,
rasanya kok berat ya melepas ibu kali ini,
bismillahirrahmanirrahim semoga dilancarkan semuanya aamiin.
"Sudah nangisnya sayang,air matanya habis nanti."mas Satya menghapus air mataku yang sudah turun sejak dirumah.
"Nggak bisa berhenti ini,keluar sendiri."aku menghapus ingus dengan tissue yang ada dimobil,kita barusan sampai parkiran dan akan bersiap kekantor.
"Istigfar biar hatinya lebih tenang,ibu itu mau ibadah kita doakan semuanya lancar,
ibu sehat-sehat dan pulang nanti juga dalam keadaan sehat walafiat."
"Aamiin ya rabbalalamin."
Mobil mulai bergerak meninggalkan area parkir bandara,mataku masih sembab dan harus dikompres ini begitu sampai kantor.
Apa lagi nanti mau meeting dengan klien nggak mungkin juga mukaku bengep gini.
Beneran sampai kantor yang aku tuju adalah pantry,aku langsung ambil es batu buat ngompres mataku yang bengkak.
"Lho mbak Hanin tumben telat?"mbak Dian tiba-tiba muncul dibelakangku.
"Iya mbak tadi nganter ibu ke bandara dulu mau umroh."kataku sambil menekan nekan es batu yang sudah aku bungkus sapu tangan milik mas Satya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ceritaku
RomanceWAJIB Follow dulu ya sebelum membaca thanks !!!! Ini berisri kumpulan cerita dan yang pasti dengan konflik yang ringan dan berakhir dengan happy ending karena aku nggak suka sad ending. Ini murni karangan saya pribadi dan masih dalam tahap belajar.J...
