Aku dan Kenanganmu 💔

209 15 2
                                        


Kali ini aku pulang lebih lama dari biasanya,ambil cuti tahunan yang sejak aku kerja nggak pernah diambil.Sebenernya karena aku merasa capek aja sama kerjaan yang nggak ada habisnya,jadinya aku ajukan cuti.Kebetulan ada saudara yang mau nikah,jadi sekalian buat ngajuin cuti.
Aku sengaja nggak ngabari mas Bima kalau aku cuti,kebetulan orangnya juga lagi ngirim barang ke Semarang,biar jadi kejutan dan palingan besok pagi baru ketemu.Aku sampai rumah jam 8 malam,ya karena memang dari sana sehabis magrib.
Sengaja pulang kantor bersih-bersih kostan dulu,nuci dan mandi tentunya,biar besok pas berangkat sudah bersih semuanya.Aku mampir kerumah pak dhe dulu karena dirumah juga nggak ada orang, kunci rumah juga palingan dibawa mas Bima.

"Nginep sini aja nduk?mas Bima besok subuh palingan baru sampai rumah."kata budhe saat aku baru selesai makan malam.

"Iya budhe,lah ini pakdhe kemana kok sepi?"sejak tadi aku nggak melihat pakdhe dirumah,kalau mas Chandra sudah nikah dan tinggal di Jakarta,mbak Shinta sudah nikah tinggalnya masih dideket sini cuma beda desa.Kalau mas Danang atau si ragil masih kuliah di Bandung baru masuk semester 5 kalau nggak salah.

"Ada rapat dikelurahan buat acara 17an biasa,besok datang kenikahan Rani kan?"

"Insya Allah budhe,makanya Sekar pulang sekarang,acaranya jam berapa?"tanyaku.

"Akad nikah jam 10 pagi, resepsi jam 1,
kamu sama mas Bima datang pas resepsi aja bilang aja baru sampai rumah."

"Enggak apa-apa budhe emangnya?nanti nek lik Tari ngomong nggak enak piye?"
ini yang nikah masih sepupu dari pihak bapak tapi lik Tari kadang suka merepet kalau ngomong.

"Enggak apa-apa,lah Sinta aja datang pas resepsi, dia harus ngajar dulu."

"Ohh ya udahlah,paginya bisa bersihin kamar dulu."jawabku pada budhe

"iya nggak apa-apa,sudah punya calon nduk?"

"Belum keliatan hilalnya."jawabku sambil terkekeh pelan.

"Sama kaya mas Bima juga belum ada calon,
kenapa nggak nikah aja kalian?"

"Hah!ya nggak lah budhe kan kita saudara."
aku shock mendengar ucapan budhe barusan,bisanya aku suruh nikah sama mas Bima,kan dia kakakku.

"Reaksi kalian berdua sama."

"Maksudnya?"tanyaku bingung.

"Pakdhe sama budhe pernah ngomong gini juga sama mas Bima,ya reaksinya sama persis seperti kamu.Kalian nggak ada ikatan darah dari nggak apa-apa menikah.Budhe sama pakdhe juga lebih tenang kalau kalian nikah,nggak akan timbul fitnah seperti yang kemarin-kemarin."jelas budhe.

"Tetep aja kita saudara budhe masa nikah,
lagian kalau mas Bima sudah punya calon gimana?"

"Kalau sudah ada calon mesti sudah nikah dari dulu,ini sudah hampir 40 tahun masih diam-diam aja."bantah budhe.

"Iya juga,tapi masa nikah?kita saudara persusuan?"kilahku.

"Enggak,kalau mas Bima sama mbak Sinta iya saudara sepersusuan,lah waktu mas Bima dibawa kesini itu baru 3 minggu dan budhe masih menyusui mbak Sinta yang usianya hampir 2 tahun,kalau nggak salah hampir 6 bulan lah budhe menyusui mas Bima."ucap budhe padaku,lah kok dulu bapak bilangnya kita saudara sepersusuan jadi bingung.Tapi logikanya juga nggak mungkin,masa mas Bima usia 10 tahun saat aku lahir,menyusu pada ibu ya enggaklah.

"Tapi rasanya gimana gitu budhe."sejak kecil tumbuh bersama,bahkan sampai SMA aku masih disuka disuapin mas Damar kalau makan.

"Pikirkan omongan budhe barusan nduk,
kita semuanya ingin yang terbaik buat kalian.Tapi kami juga tidak memaksa kalau memang kalian punya calon sendiri ya alhamdulilah,budhe dan pakdhe ikut senang sebagai orang tua."

CeritakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang