Katanya Cinta Pertama 🍂

363 30 13
                                        

Sejak pembangunan RS dimulai,aku jadi sering bolak-balik ke kampung halamanku dan aku juga jadi sering berkunjung kemakam ibu,mbah Uti dan mbah kakung.
Beberapa kali aku melihat mbah Rasti datang ke proyek pembangunan,aku bisa lihat dari cctv yang bisa aku akses dari sini.
Beberapa kali juga para pekerja bilang padaku kalau ada yang mencariku tapi aku selalu berpesan untuk bilang tidak ditempat,walau sebenernya kadang aku juga berada dilokasi proyek tapi nggak setiap hari hanya sesekali waktu.Hari ini juga aku berkunjung ke lokasi,lebih tepatnya mendampingi pak Arif.
Rencananya kita akan menginap semalam tapi bisa juga berubah sesuai keadaan dilapangan.Kadang aku suka heran sama pak Arif,beliau CEO tapi mau terjun langsung kelapangan,bukan enggak percaya pada anak buahnya tapi beliau selalu bilang ingin memastikan kalau apa yang direncanakan dan dibangun sesuai dengan keinginan beliau dan juga memastikan tidak ada kendala dilapangan.Kami sudah sampai villa sekitar setengah jam yang lalu,pak Arif sudah naik ke kamarnya sedang aku masih asyik melihat kebuh teh dari tempatku berdiri sekarang.

"Lho saya cariin ternyata kamu disini?"itu suara pak Damar tapi kok bisa disini,aku membalikan badan ternyata benar itu pak Damar,bukannya dia kantor batinku.

"kapan bapak sampai?"tanyaku langsung.

"Barusan dan langsung kesini,pak Arif harus kembali ke kota sekarang karena putranya sakit dan saya yang menggantikan beliau disini."jelas pak Damar.

"Ohh iya,pak Arif berangkat jam berapa?"
tanyaku lagi.

"Sehabis magrib,kalau tidak ada perubahan jadwal."

"Ohh iya,saya permisi kekamar dulu pak sudah sore."pamitku undur diri.

"Silahkan,nanti setelah pak Arif berangkat kita makan malam diluar."

"Baik pak."

Aku melangkahkan kaki pergi kekamar yang ada di lantai satu,sengaja aku pilih kamar ini karean view kamar ini menghadap ke hamparan kebun teh.Habis magrib aku langsung bersiap dan ternyata pak Arif jadi pulang hari ini.Setelah mengantar pak Arif,aku dan pak Damar pergi keluar untuk mencari makan.Disini ada dapur sebenernya dan bisa digunakan buat memasak,tapi dikulkas tidak ada bahan masakan hanya ada mie instan,telur dan juga minuman kaleng lainnya.

"Kamu tahu tempat makan yang enak disekitar sini nggak?"tanya pak Damar.

"Saya nggak tahu pak."gimana tahu makanan enak,sejak kecil aja selalu makan dirumah,makan masakan ibu.Setelah ibu meninggal,aku makan makanan sisa mbak Rasti dan bapak,bisa beli bakso aja itu baru aku lakukan dengan gaji pertamaku kerja di toko sembako dulu.

"Pecel lele mau kan?"tanyanya padaku.

"Saya pemakan segala pak."jawabku.

Kami putuskan makan di pecel lele deket dengan proyek pembangunan,kata pak Damar banyak para pekerja proyek yang langganan disana.Aku turun duluan,sambil menunggu pak Damar yang sedang nyari parkiran, ternyata beneran rame seperti apa yang dikatakan pak Damar tadi.

deg

Dari tempatku berdiri aku bisa melihat ada bapak,mbak Rasti dan seorang pria duduk dimeja tepat didepanku.Aku berbalik cepat sebelum mereka tahu keberadaanku.

"Lho kenapa nggak jadi?penuh ya didalam?"pak Damar muncul dihadapanku.

"Kita bisa pindah nggak pak?"ucapku pelan.

"Kenapa?"tanya pak Damar dan memandangku dengan tatapan bingung.

"Ada mbak Rasti dan bapak didalam."aku bingung harus alasan apa,akhirnya aku pun berkata jujur.

"Ayo, jangan takut ada saya."

Tampa menunggu persetujuanku pak Damar sudah menarik tanganku untuk masuk dan langsung memesan makanan.
Bapak langsung melihat kearahku,tatapan mata kami bertemu sejenak sebelum bapak akhirnya memutuskan kontak.Kita berdua duduk tepat dibelakang bapak,aku ingin menyapa tapi segan takut kalau akhirnya buat keributan disini.

CeritakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang