Sesuai permintaan Abi hari ini kita berangkat kerumah ayah.
Aku menyetir sendiri bersama ibu,bapak dan juga Abi,om Cahyo tidak bisa ikut karena ternyata ada tugas kampus yang nggak bisa ditinggalkan.Mas Rama sudah bilang ingin menjemput tapi aku menolak.
Kami sampai sekitar pukul 12 siang dan langsung disambut oleh hujan deras.
"Papa!"selalu begitu Abi selalu heboh jika ketemu ayahnya.
"Jangan lari nak nanti jatuh."aku berucap sambil turun dari mobil,
bapak dan ibu sudah turun dan masuk rumah terlebih dahulu.
"Biar mas yang parkir mobilnya,
kamu langsung masuk aja ay."
aku meminta kunci mobil pada Aira,dia itu nggak mau dijemput.
"Ohh ok makasih."aku langsung masuk kedalam rumah dan lihat Abi sudah manja ke ayah."nak jangan pangku kakung gitu,Abi berat lho??"aku berucap sambil mencium punggung tangan ayah.
"Nggak papa lagi kangen,kamu langsung naik aja nduk,pintu coklat disebelah kiri."ucap ayah padaku.
"Ohh ya yah,Aira keatas dulu,Abi jangan buat kakung capek ya."
ingatku pada Abi.
"Ok mama."jawabnya padaku.
Aku langsung naik kelantai 2 rumah ini,aku melihat ada 2 pintu dilantai atas.Mungkin itu kamar mas Rama dan ayah pikirku.Aku membuka pintu bercat coklat,aku tertegun sejenak sebelum melangkah masuk.Kamar ini seperti kamar kita dulu waktu di Malang,dari cat dan perabotannya hampir sama.Aku juga melihat foto pernikahan kita yang tergantung indah didinding sebelah kiri.Ini mungkin kamar mas Rama,aku langsung berbalik ingin keluar tapi Abi sudah masuk bersama ayahnya.
"Wachh kamarnya luas banget,
nanti kita tidur bertiga ya ma."
ucapnya padaku.
"Ya nak,mama mau mandi dulu ya,Abi ganti baju dulu yukk nak."
aku meminta koper yang dibawa mas Rama.
"Ya udah kalian bersih² dulu,mas tunggu dibawah,papa ke bawah dulu ya nak,Abi sama mama di buat ganti baju."ucapku.
"Mau sama papa aja."ucapnya.
"Ya udah sama papa yuuk di kamar sebelah tapi ya."aku ingin mengambil baju yang ada ditangan Aira tapi ucapan Abi menghentikan gerakanku.
"Kenapa nggak disini?"tanyanya.
"Mama kan mau bersih² juga,jadi kita jangan ganggu."jawabku.
"Ohh ok papa."jawabnya.
Aku mengajak Abi untuk keluar kamar,berpindah kekamarlu disebelah.Kamar ini memang aku buat khusus buat Aira jauh sebelum kita bertemu.
🌸🌸🌸🌸🌸
Setelah kupastikan mas Rama keluar kamar bersama Abi,aku langsung mengunci pintu kamar.
Tubuhku luruh seketika ketika aku memandang seluruh penjuru kamar ini,harum kamar ini pun wangi vanilla wangi kesukaanku.Aku menatap foto pernikahan kami,walau difoto itu tidak ada senyum diantara kita berdua,tapi foto itu jadi saksi awal kita mengarungi bahtera rumah tangga.Awal kita meniti kebahagiaan sampai pada akhirnya kita harus berpisah.
Flashback on
Air mataku luruh saat melihat benda ditanganku masih garis satu,entah sudah berapa puluh testpack yang habis selama 4 tahun belakangan ini.Saat aku keluar mas Rama langsung memeluk tubuhku erat,tumpah sudah air mataku dipelukannya.
"Sudah jangan nangis, berarti belum rejeki ay."aku memeluk tubuh Aira yang sudah bergetar hebat karena tangisnya.
"Tapi ini kesempatan terakhir yang ibu kasih buat aku,itu artinya kita bakalan pisah mas."
Kurasakan pelukanku mulai mengendur,mas Rama menatapku penuh amarah.
"Kamu bilang apa ay,kita masih bisa jelasin semuanya ke ibu.!"
Ucapanku naik satu oktaf itu malahan membuat ibu masuk kekamar kita.
"Masih negatif lagi?kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan jika Aira masih belum hamil.Kamu harus nurut sama ibu nggak ada bantahan."ucapan ibu begitu menggelegar dikamarku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ceritaku
RomantizmWAJIB Follow dulu ya sebelum membaca thanks !!!! Ini berisri kumpulan cerita dan yang pasti dengan konflik yang ringan dan berakhir dengan happy ending karena aku nggak suka sad ending. Ini murni karangan saya pribadi dan masih dalam tahap belajar.J...
