Arshita 🍊

246 18 6
                                        


Siang ini pak Aryan datang kerumah bersama pak Ibnu,ini hari Minggu jadi biasanya akan datang menjemput ibu dan Hani.Besok Senin biasanya akan kembali ke kota naik kereta,kata ibu lebih enak naik kereta tinggal duduk santai,nggak capek buat nyetir tapi memang benar kan.Kami makan siang bersama dengan menu nasi liwet,Hani yang request sejak datang dan baru kali terealisasikan.Hani itu gadis yang cantik,baik dan juga lembut sekali hatinya,
kami punya satu hoby yang sama suka kpop,jadi kalau disini kegiatan kami lebih banyak kita habiskan dengan nobar atau ngobrol banyak seputar kpop.

Ibu dan Hani tadi pamit untuk istirahat,pak Aryan ikut nenek di belakang katanya mau mancing ikan buat dibakar nanti malam.
Aku duduk sendiri di kursi panjang samping rumah,melihat beberapa sayuran yang mulai tumbuh tunas.Aku merasa kursi sebelahku bergerak ternyata pak Ibnu duduk disebelahku,tumben batinku.

"Bisa bicara sebentar nduk?"setelah lama terdiam akhirnya pak Ibnu angkat bicara.

"Bisa pak monggo."aku masih memandang kacang panjang yang baru aku tanam beberapa minggu yang lalu dan mulai keluar tugasnya.

"Ini tentang ibumu dan saya punya andil untuk meluruskan semuanya."

Aku mengalihkan atensiku pada pak Ibnu sepenuhnya,beliau menyerahkan dua map tebal di pangkuanku,aku tak tahu itu map apa,aku memandang beliau sejenak sebelum akhirnya beliau angkat bicara.

"Hani terlahir dengan kelainan jantung  sejak lahir,dia sering bolak-balik RS sejak dia masih bayi.Puncaknya saat dia berumur 5 tahun dokter memvonis umurnya tidak akan lama lagi,kami sebagai orang tua sudah mengusahakan yang terbaik untuk Hani sampai pada akhirnya kita putuskan untuk membawa Hani berobat ke Singapura.Sejak saat itu ibu dan Hani menetap disana,sedang bapak dan Aryan hanya sesekali bolak-balik kesana.Kami baru kembali kesini saat Hani lulus SMA,
dia sudah dinyatakan sehat setelah tiga kali melakukan operasi pembedahan,walau dokter sudah menyatakan sehat tapi Hani masih jarus minum obat setiap hari dan check up rutin setiap bulannya."

"Ibumu sejak pertama nikah sudah bercerita tentang kamu,Shita.Kami bahkan berencana menjemput kamu setelah kita menikah,tapi karena satu dan lain hal akhirnya rencana kami tertunda.Saat Hani lahir pun rencana kita masih sama,kami terhalang kondisi Hani yang sering drop tiba-tiba,sejak saat itu fokus kami hanya untuk kesembuhan Hani.Saat Hani sembuh dan ibu pulang kesini, beliau mengalami kecelakaan bahkan sempat mengalami kelumpuhan sementara sekitar hampir dua tahun,kami terpaksa membawa ibu berobat diluar negeri lagi hingga akhirnya ibu bisa sembuh seperti sekarang.Berbagai macam terapi,obat kita usahakan untuk kesembuhan ibu,bahkan saat Hani wisuda itu ibu baru sembuh dan bisa berjalan sekitar 6 bulan ke belakangan ini."

"Maafkan Hani dan bapak,karena kami kamu jadi terpisah dengan ibu.Ibumu terlalu fokus terhadap kesehatan Hani sampai melupakan kamu,bukan melupakan sepenuhnya karena saya tahu ibumu sering mengigau memanggil namamu.Keadaan yang buat ibumu tidak bisa berbuat banyak,
rasa rindu terhadap putrinya ia simpan sendiri,bahkan ibumu sering sekali menangis disetiap sujudnya.Kalau kamu bilang kenapa ibu nggak bilang sejak awal karena ibumu pasti akan menyembunyikan itu semua,ibumu selalu bilang apa pun alasannya tetap dialah yang salah karena telah meninggalkan kamu selama 27 tahun.
Di map itu adalah rekam medis Hani dan ibu,saya sengaja bawa biar kamu percaya bahwa kami tidak bohong.Satu lagi tolong maafkan ibumu,bukalah sedikit pintu maafmu untuknya,kamu boleh marah benci sama saya tapi tolong jangan sama ibumu.
Ibumu sudah terlalu lelah berjuang demi Hani dan kesembuhannya,jadi kali ini saya ingin melihat dia tersenyum indah seperti saat saya bertemu dulu.Ibumu memang tersenyum tapi kalau diperhatikan ada luka disetiap senyumannya."jelas pak Ibnu.

Semua ucapan pak Ibnu jujur membuatku kaget,aku nggak nyangka ada rahasia yang ibu sembunyikan dariku.Aku terlalu egois jika aku membencinya,padahal kenyataannya ibu sedang berjuang demi kesembuhan adikku.Aku yakin perjuangan ibu tidak mudah demi Hani,banyak hal yang ia korbankan untuk Hani termasuk juga aku.Aku berkaca mungkin jika aku diposisi ibu,aku pun akan melakukan hal yang sama.Aku terlahir sempurna sehat tak kekurangan apa yang pun,sedangkan Hani terlahir dengan tidak sempurna dan memiliki penyakit bawaan sejak lahir.Aku membuka kedua map didepanku,aku sudah tidak bisa membendung laju air mataku.
Aku terlalu jahat terhadap ibu,terlalu larut dalam kesedihanku sendiri padahal kita berdua juga sama-sama terluka bukan cuma aku tapi ibu juga.

CeritakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang