Hari ini beneran pak Satya kaya hilang ditelan bumi,chat juga cuma waktu pagi sebelum aku berangkat kekantor.Biasanya kalau aku sudah pulang kantor dia sesekali akan telefon ini blass nggak ada,bolak-balik ngecek hp nggak ada notifikasi apa pun.Aku mendesah nafas pelan,nggak biasanya dia kaya gini,apa dia sakit atau terjadi sesuatu ya sama pak Satya,batinku berucap.
"kenapa to nduk,sejak pulang kerja kok mukanya suntuk gitu "ibu masuk kekamar dan duduk disebelahku.
"Pak Satya seharian ini beda,biasanya kan sibuk chat ini nggak sama sekali.Sekali cuma telfon waktu siang pas aku lagi meeting di luar sama pak Bagas,telfonnya kaya orang buru-buru terus dimatiin."
kataku pada ibu.
"Sibuk mungkin dia nduk,lagi banyak kerjaan."kata ibu lagi.
"Sibuk apa bu,lah hari ini juga izin nggak berangkat kerja,semua kerjaan aku yang handle."kataku dengan kesal pada ibu.
"Ceritanya kangen ya seharian nggak ketemu?"kata ibu sambil mencolek-colek daguku pelan.
"Enggak kangen,cuma kaya ada yang hilang aja."kilahku pada ibu.
"Itu namanya kangen nduk,kangen kebiasaannya yang suka chat atau telfon tapi hari ini nggak.Sudah mulai nyaman ya?"
Aku memandang wajah ibu lalu mengangguk pelan tapi seketika aku menggelengkan kepalaku.
"Lho kok tadi iya sekarang nggak?yang bener yang mana nduk??"tanya ibu lagi.
"Hanin cuma takut ditolak,kalau bilang nyaman sudah lama Hanin merasa nyaman kalau ada pak Satya dideketku.Entah deket waktu kerja atau apa pun itu,jujur ya bu sejak beberapa bulan ini kita jadi patner kerja Hanin merasa pak Satya itu beda.Cara dia bicara,cara dia berjalan,pokoknya semuanya itu beda dimata Hanin,nggak seperti sebelumnya.Semua yang ada padanya kaya magnet yang bikin Hanin tertarik,tapi Hanin sadar diri kalau banyak perempuan lain yang lebih baik buat pak Satya.Hanin nggak mau terlena sampai akhirnya sakit hati lagi untuk kesekian kalinya,Hanin berusaha membentengi diri agar tidak jatuh semakin jauh tapi kenapa susah ya bu.Susah rasanya buat nggak kagum pada sosoknya,buat nggak tertarik atau memperhatikannya.Hanin bingung harus apa bu?Hanin salah ya menaruh hati pada pak Satya?"jelasku lesu pada ibu,entah mulai kapan rasa itu tumbuh kecil dihatiku, semakin hari semakin bertumbuh besar seperti tumbuhan yang selalu disiram air.
"Nduk,jatuh cinta itu fitrah manusia dan kita nggak bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa.Kalau hatimu ini condong ke nak Satya itu bukan salahmu,itu sudah takdir dan kehendak sang maha kuasa.Tapi kita sebagai manusia juga diberikan akal sehat untuk memilih,apakah kita jatuh cinta pada orang salah atau tidak.Salah dalam artian dia sudah punya istri atau punya seseorang yang ada di hidupnya,menurut ibu baru salah.Tapi disini kalian sama-sama masih sendiri,tidak terikat pernikahan atau hubungan apa pun dengan orang lain."
"Ibu tahu dan paham akan ketakutanmu,
tapi kita tidak bisa menyamakan nak Satya dan keluarganya seperti yang lalu.Nak Satya pernah bilang kalau keluarganya menerima kamu dengan masa lalu ibu,
dengan kisah hidupmu,mereka nggak mempermasalahkan itu.Itu artinya nak Satya sudah bercerita banyak kepada orang tuanya tentang kamu,giliran kamu sekarang yang mau nggak berjuang demi rasa yang kalian punya.Ibu yakin nak Satya dan keluarganya berbeda dengan apa yang ada dalam pikiranmu nduk,kalau kamu ragu mintalah ketetapan hati pada sang pemilik hati kita sesungguhnya."ibu mengusap lembut kepalaku yang ada dipangkuannya,ibu selalu punya cara buat hatiku jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Hanin akan pikirkan semuanya dan minta petunjuk Allah tentang hubungan ini,ibu doakan Hanin ya??"
"Pasti nduk,doa ibu nggak akan pernah putus buatmu nduk.Sudah tenang atau masih galau??"ucap ibu.
"Sidikit lebih tenang tapi masih ada yang ganjel aja rasanya."
"Tentang apa??"
"Tentang ayah,pak Satya bilang kalau akan bantu cari ayah,kebetulan pak Bagas dan bu Ratih berasal dari kota yang sama dengan ayah.Nggak tahu hasil akhirnya nanti seperti apa tapi pak Satya bilang yang penting kita usaha dulu.Kemarin waktu kita kondangan,pulangnya kita mampir disebuah taman dan ngorbol banyak,disana pak Satya tanya apakah mau cari ayah?Hanin jawab aja mau tapi nggak tahu caranya.Setelah itu pak Satya bilang biar beliau yang minta bantuan pak Bagas,kita cukup berdoa saja."jelasku pada ibu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ceritaku
Storie d'amoreWAJIB Follow dulu ya sebelum membaca thanks !!!! Ini berisri kumpulan cerita dan yang pasti dengan konflik yang ringan dan berakhir dengan happy ending karena aku nggak suka sad ending. Ini murni karangan saya pribadi dan masih dalam tahap belajar.J...
