Setelah semua urusan toko selesai kita langsung jalan kerumah ibu mertuaku,ada ayah dan bunda tadinya mau ikut tapi ada saudara bunda yang meninggal jadinya dicancel.Mungkin lain kali bakalan berkunjung bareng ibu sekalian nanti biar makin rame,semoga saja ya aamiin.Mas Satya konsentrasi dengan jalan dan aku sibuk memandangi hamparan perkebunan sayur yang ada didepan mata.Masya Allah indahnya, udaranya begitu seger bahkan kaca mobil sengaja dibuka biar udara segar bisa kami hirup banyak-banyak.
"Suka sayang?"mas Satya menggenggam tangan kananku dan menciumnya pelan.
"Banget,ini beneran kaya yang pernah aku gambar waktu SD ada gunung didepan,di tengahnya ada jalan dan juga banyak pohon disekelilingnya.Liburan nggak perlu jauh-jauh cukup kerumah ibu sama bapak aja."kataku pada mas Satya.
"Alhamdulillah kalau suka,besok pagi mas ajak jalan-jalan disekitar rumah sampai kebun sayur."
"Mau banget, pasti udaranya segar banget."
"Iya disini masih banyak pohon jadi udaranya masih seger,bahkan disini ada tradisi kalau tebang pohon satu harus tanam 2,begitu juga kelipatannya."jelas mas Satya padaku.
"Masya allah keren ya warga sini,itu salah satu bentuk menjaga lingkungan dan ekosistem alam lainnya.Masih jauh?"aku baru pertama kali berkunjung kerumah ibu dan bapak mertuaku.
"Sebentar lagi."
Tak lama setelah itu kita sampai disebuah perkampungan yang lumayan padat,ada beberapa rumah yang sudah dibangun dengan gaya modern tapi masih banyak yang mempertahankan dengan bangunan rumah joglonya.Kita sampai diplataran rumah yang sederhana, bangunan depan sudah tembok semua tapi bangunan belakang masih mempertahankan bentuk aslinya.Rumah ibu halamannya luas banget mungkin bisa dibangun 5 rumah subsidi menurutku,banyak pohon buah yang ditanam tapi yang aku liat ada pohon jambu air dan mangga yang sedang berbuah lebat.
"Kok sepi mas?"kelihatan sepi, rumahnya dikunci nggak ada penghuninya.
"Jam segini biasanya masih dikebun,itu rumah Ayu juga sepi mungkin masih kulakan pupuk ke kota."mas Satya menunjuk rumah Ayu yang ada diseberang rumah ibu dan bapak.Rumah bergaya modern minimalis,ada toko pupuk yang lumayan besar disampingnya.
"Walah salah kita nggak ngabarin,tapi bisa masuk kan?"aku turun dulu setelah mas Satya memarkirkan mobilnya dibawah kanopi rumah,ada mobil pickup milik bapak mungkin batinku.
"Bisa tapi lewat pintu belakang biasanya nggak dikunci,yuuk."mas Satya menggandeng tanganku,aku mengikuti langkah kakinya.Pertama kali aku melihat dapur kotor yang terdapat tungku dan juga kayu bakar.Masuk lagi kedalam ada dapur bersih dengan kompor gas dan beberapa peralatan elektronik lainnya.Rumah ibu dan bapak besar banget kaya lapangan bola.
Ruang makan saja luasnya masya Allah,ini beneran rumah khas orang-orang desa jaman dulu.Ruang tv pun tak kalah luas,
entah ada berapa kamar dirumah ini.
"Assalamualaikum"ucapku saat memasuki kamar yang aku yakini kamar mas Satya.
"Waalaikumsalam yuuk masuk,maaf ya nggak sebagus dirumah ayah tapi insya Allah nyaman."ucap mas Satya saat aku memasuki kamar.
"Mas apaan sich ngomongnya,kamarku dikontrakan lebih kecil dari ini,jangan ngomong gitu lagi aku nggak suka."lah sejak dulu kamarku malahan pada bocor,sejak pindah rumah baru dapat kamar yang lebih layak menurutku.
"Maaf sayang,duduk dulu aja pasti capek kan.."mas Satya langsung merebahkan diri diatas kasur,kamar ini luas banget menurutku kaya lapangan bola.
"Iya dimaafkan asal nggak diulangi lagi,ibu biasanya pulang jam berapa mas?"aku melepas jilbabku dan meletakkannya dimeja rias.
"Dzuhur biasanya sampai rumah,sini tiduran dulu aja baru jam 10 kok."mas Satya langsung menarik tubuhku kedalam dekapannya.
"Mas ngantuk? semalam tidur jam berapa?"
semalam itu ada pak Fahri dirumah ayah,
jadi mas Satya ikutan ngobrol banyak dan aku tidur lebih dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ceritaku
RomansaWAJIB Follow dulu ya sebelum membaca thanks !!!! Ini berisri kumpulan cerita dan yang pasti dengan konflik yang ringan dan berakhir dengan happy ending karena aku nggak suka sad ending. Ini murni karangan saya pribadi dan masih dalam tahap belajar.J...
