Hari kedua jadi suami istri rasanya aku masih sedikit canggung,bahkan saat malam menjelang aku bingung harus ngapain.Mas Bima masih ngobrol-ngobrol dengan beberapa tetangga didepan sedangkan aku sibuk dengan pikiranku sendiri dikamar.
Aku menghembuskan nafas pelan sambil mencoba rileks,tenang Sekar nggak bakalan diapa-apain lah kamu aja masih halangan.
Lagian mas Bima kan sudah jadi suamiku,
bukan orang lain lagi.Aku melepas kerudung yang sejak tadi menempel dikepalaku,menaruhnya dikeranjang cucian karena emang sudah dipakai sejak pulang dari RS.Aku melirik pintu yang masih tertutup,belum ada tanda-tanda mas Bima mau masuk,suaranya juga masih terdengar pelan didepan.Aku putuskan untuk tidur duluan karena emang sudah ngantuk,nanti juga mas Bima bakalan kekamar kalau dia sudah ngantuk,batinku.
Aku mendengar dengkuran halus disebelahku,saat aku membuka mata ternyata mas Bima sudah tertidur lelap disampingku.Kita tidur berhadapan dengan tanganku yang digenggam erat olehnya.Jam berapa mas Bima masuk kamar kok aku nggak denger.Aku melepas tanganku perlahan tapi mas Bima malahan membuka matanya "maaf jadi kebangun."ucapku.
"Enggak apa-apa,jam berapa dek?"
"Baru jam 1,mas tidur lagi aja aku mau kekamar mandi."aku langsung turun dari ranjang dan beranjak kekamar mandi.Aku sengaja berlama-lama berharap mas Bima sudah tertidur lagi,alhamdulilah sudah tidur lagi batinku.Aku naik perlahan biar nggak menimbulkan suara tapi nyatanya mas Bima terlalu peka dengan pergerakanku.
"Dek?"
"Lho tak kira sudah tidur lagi,masih jam 1 mas tidur."aku menarik selimut dan berniat tidur memunggungi mas Bima.
"Hadap sini,suaminya jangan dikasih punggung nggak boleh lho."
"Iya."perlahan aku membalikkan tubuhku dan mataku langsung terpejam,aku tahu jika aku membuka mata pasti sekarang pandangan mata kita saling bertemu.Aku nggak siap ditatap mas Bima seperti tadi saat aku baru bangun.
"Sudah mau tidur lagi?"tanyanya lagi.
"Aku ngantuk mas."jawabku dengan mata yang masih terpejam.
"Ya udah,kita tidur lagi."
cup
Ehh apa yang menempel,bisanya mas Bima mencium keningku lagi,ini terlalu manis sampai nggak sadar aku tersenyum tipis.
Aku membuka mataku pelan,kan bener mas Bima masih memandangku dalam, senyumnya bahkan tersinggung manis dibibirnya.
"Lho kok melek lagi,katanya mau tidur lagi,
mas ganggu ya??"gimana bisa merem lagi kalau tangannya malahan mengelus rambutku pelan.
"Mas kenapa juga nggak tidur lagi,tidur mas mumpung masih libur."
"terima kasih dek "ucapnya tiba-tiba,aku mendongak menatapnya bingung.
"Buat apa?"tanyaku.
"Terima kasih sudah mau jadi istri pria yang tak jelas ini.Pria yang asal usulnya nggak jelas,bahkan kedua orang tua mas juga nggak menginginkan mas ada didunia."
ucapnya dengan air mata yang sudah mulai turun,ini pertama kalinya mas Bima bicara tentang ini,mungkin itu isi hatinya yang selama ini dia pendam sendiri.
Aku mendekat kearahnya dan memeluk mas Bima erat dan benar saja terdengar suara tangisnya yang terdengar pilu.Aku memberi waktu untuknya tampa bertanya apa pun,hanya memeluknya erat.Pelukan mulai kendur,bisa kulihat sisa air mata dikedua pipinya,aku menghapusnya perlahan."Mas nggak boleh bicara gitu lagi,
bagiku sejak kita jadi adik kakak dan sampai hari ini status kita jadi suami istri, mas Bima adalah bagian terpenting dalam hidupku.Kalau nggak ada mas Bima mungkin aku nggak bisa seperti sekarang,
semua ini berkat mas Bima."ucapku pelan.
Aku memeluknya sekali lagi seolah ingin mengatakan kalau dia tak sendiri,ada aku yang selalu ada disini untuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ceritaku
RomanceWAJIB Follow dulu ya sebelum membaca thanks !!!! Ini berisri kumpulan cerita dan yang pasti dengan konflik yang ringan dan berakhir dengan happy ending karena aku nggak suka sad ending. Ini murni karangan saya pribadi dan masih dalam tahap belajar.J...
