WAJIB Follow dulu ya sebelum membaca thanks !!!!
Ini berisri kumpulan cerita dan yang pasti dengan konflik yang ringan dan berakhir dengan happy ending karena aku nggak suka sad ending.
Ini murni karangan saya pribadi dan masih dalam tahap belajar.J...
Semakin hari Kinan jadi lebih sering menanyakan ayahnya,entah pagi,siang, malam tak luput dia bertanya tentang ayah. Dia juga pernah bertanya pada bik Asih apa punya ayah atau nggak?tanya juga sama temen-temennya punya ayah atau tidak. Mungkin sudah saatnya aku mulai menjelaskan tentang hubunganku dengan ayahnya.Selama ini memang aku tidak pernah menyebut ayah dirumah ini,tidak pernah sekali pun aku memberitahukan nama atau foto ayahnya.Sekarang mungkin sudah saatnya Kinan tahu sedikit tentang ayahnya,jika nanti usianya sudah semakin dewasa aku akan menceritakan semuanya. Aku duduk lesehan dikamarku dengan Kinan yang sedang asyik mewarnai,salah satu hobynya adalah menggambar sama seperti ayahnya.Kinan bahkan bercita-cita jadi arsitek seperti ayahnya,entah ini kebetulan atau memang hanya ucapan spontan anak-anak yang bisa berubah sesuai dengan umurnya nanti.
"Bagus kan bunda?"dia menunjukkan gambar gedung yang baru selesai dia warnai.
"Bagus banget sayang,pinternya anak bunda."aku mengelus rambutnya pelan.
"Kalau sudah besar aku mau buat gedung seperti ini,yang tinggi banget."
"Iya sayang jadi Kinan harus rajin belajar biar bisa buat gedung yang tinggi."
Aku berjalan menuju lemari,mengambil sesuatu yang selama ini aku simpan disana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(pict by pinterest)
"Ini ayah?masya Allah gantengnya ayahku." Kinan mengambil foto pernikahanku dengan mas Dewa,matanya terlihat berbinar-binar mempertahankan foto itu.
"Iya itu foto pernikahan ayah dan bunda."
"Namanya siapa?"Kinan masih memandangi foto itu tanpa menoleh kearahku.
"Sadewa Mahendra biasa dipanggil Dewa." aku berusaha mati-matian untuk tetep bersikap tenang didepan Kinan.
"Namanya bagus,pantes saja namaku Kinanthi Renjani Mahendra, ternyata ada nama ayah dibelakangnya.Terus sekarang ayah dimana?"Dia masih dengan posisi yang sama nggak ada niat melihatku.
"Kerja nak."
"Kok nggak pernah pulang?ayah nggak sayang aku ya jadi nggak pernah pulang." aku langsung memeluknya erat,aku tahu ini harus diluruskan.
"Sayang dengerin bunda ya,dulu saat bunda pergi ayah nggak tahu kalau ada kamu didalam perut bunda."ucapku pelan.
"Kenapa nggak tahu?"tanyanya polos.
"Saat itu bunda dan ayah sudah berpisah."
"Berpisah itu apa?"
"Berpisah itu tidak bersama-sama lagi,tidak seperti kakung dan uti yang selalu bersama."jelasku dengan bahasa sesederhana mungkin,agar mudah dipahami olehnya.