Tentangku🌺

252 27 6
                                        

Satu tahun berlalu,luka kehilangan orang yang kita sayang,masih terasa sampai sekarang.Tapi seperti kata mas Satya kita harus ikhlas dan hidup berdampingan dengan luka itu.Satu tahun yang tak mudah bagiku dan juga bagi kita berdua,banyak hal yang kita lalui,mulai dari ayah yang jatuh sakit dan sempet di rawat di RS selama hampir satu bulan,sekarang sudah sehat,sudah bisa berjalan normal seperti sedia kala.Belum lagi masalah toko yang hilir mudik nggak ada habisnya,mungkin juga ini masa adaptasi kita dengan ritme pekerjaan yang baru,dengan orang-orang yang baru kita kenal.Alhamdullilah semuanya sudah semakin membaik dan dikurung waktu satu tahun ini kita sudah bisa menempati rumah kita sejak 4 bulan yang lalu.Sebenernya sudah bisa ditempati jauh sebelum ini,tapi kita sengaja mengosongkan dulu biar bau cat dan bahan kimia lainnya hilang.Tak lupa kita pasang air purifier yang kita beli ditoko orange,
kita beli beberapa buah dan kita pasang dikamar terlebih dahulu baru setelah itu diruangan lain.

Pindahan rumah itu ternyata capeknya luar biasa,walau nggak bawa barang banyak karena semua furniture sengaja kita beli yang baru sumbangan dari ayah yang nggak bisa aku tolak.Barang-barang dari apartemen hanya beberapa yang kita bawa,
lebih banyak ditinggal,sebulan sekali kita masih kekota buat ngecek usaha kita yang ada disana.Untuk rumah kontrakan yang dulu aku tempati,sudah aku kosongkan beberapa bulan yang lalu.Aku harus menunggu hati ini siap untuk menginjakan kaki disana,walau pada akhirnya aku tetep menangis teringat semua tentang ibu.Aku hanya mengambil barang-barang yang rasanya aku perlu,aku juga mengambil beberapa surat penting yang ibu simpan sepertin ijazah dan akta kelahiranku.Akta kematian ibu dan surat pindah kita sudah diurus semuanya oleh mas Satya,aku tinggal terima beres pokoknya.

Bapak dan ibu sesekali akan datang kerumah untuk menginap dirumah atau kadang kita yang nginep dirumah beliau.
Malam ini semuanya kumpul dirumah karena ada tahlilan 1 tahun meninggalnya ibu.Sejak pagi semuanya sudah sibuk didapur,aku mau bantuin masak tapi nggak dibolehin sama bunda dan ibu,padahal aku sehat nggak ada keluhan apa-apa.Mas Satya aja yang terlalu over protektif karena aku habis opname di RS kena typus beberapa hari yang lalu,aku sudah sehat,sudah kerja juga tapi tetep aja masih boleh megang urusan dapur.

"Sudah to marahnya,aku lho udah sehat mas nggak sakit lagi.Bosen tahu nggak cuma diem aja,sedangkan yang lain ngerjain ini dan itu."kataku pada mas Satya.

"Tapi kan kamu baru sembuh sayang,kata dokter juga belum boleh ngerjain pekerjaan yang berat dan terlalu capek."jawabnya tenang,lembut mesti aku tahu dia masih marah karena ulahku.

"Aku udah sehat mas,berapa kali aku bilang kalau sudah sehat.Lagian masak itu nggak capek yang capek itu kalau cuma duduk liatin orang lain masak."kataku judes.

"Bukannya kebalik ya? lebih capek kalau masak ya?"

"Itu bagi orang lain,bagiku enggak.Aku bisa nolak apa pun kecuali masak."walau dirumah sudah ada 2 orang yang bantuin bersihin rumah tapi urusan kamar utama dan dapur adalah jadi tanggung jawabku.

"Kenapa susah banget suruh diem dek?mas nggak mau sakit lagi?"

"Masak kan diem kalau main bola itu baru lari-lari.!"jawabku ketus dan langsung membuang mukaku menghadap jendela.

"Sama aja sayang,sama capeknya."

"Enggak beda!aku mau sama ayah aja.Aku benci sama mas."aku beranjak dan keluar mencari ayah.

"Lho sayang!"mas Satya mengejarku keluar kamar,panggilannya tak aku hiraukan.

Aku berjalan kearah ayah yang sedang duduk diruang tengah sendirian."Ayah!mas Satya jahat sama aku!aku benci sama dia!"
tunjukku pada mas Satya yang berjalan kearahku dan ayah.

"Lho kenapa?kalian berantem?"bapak yang berjalan cepat kearah kami.

"Aku benci sama mas Satya!aku nggak deket-deket sama mas.!"kataku lagi dan langsung duduk memeluk ayah.

CeritakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang