Katanya Cinta Pertama🍂

399 30 2
                                        


Flashback

plak

"Dasar anak durhaka,susah payah bapak besarin kamu begini balasan kamu?"teriak bapak tepat dihadapan mukaku.

"Itu kewajiban bapak sebagai orang tua!"aku menatap nyalang lelaki yang setiap hari kesebut dengan bapak.

"Kewajiban kamu juga nurut sama orang tua!nikah sama juragan Rusli atau pergi dari rumah ini.!teriakan itu menggelegar dipenjuru rumah ini.

"Kenapa harus aku!kenapa tidak mbak Rasti yang bapak nikahkan dengan juragan!"aku berucap dengan suara yang tak kalah keras.

"Rasti wanita terhormat,dia bekerja dikantor kecamatan jadi suaminya pun harus pegawai negeri.Sedangkan kamu cuma karyawan toko biasa yang gaji pun tak seberapa."ucap bapak lagi padaku.

"Jadi aku bukan wanita terhormat seperti mbak Rasti gitu maksud bapak?oke aku keluar dari rumah ini sekarang juga."

"Keluar!jangan harap bapak akan mencarimu dan jangan pernah kembali lagi kerumah ini.Haram hukumnya kamu menginjakkan kaki dirumah ini."

"Baik!"

Aku kembali kekamarku dan mengambil semua baju dan berkas-berkas penting yang aku punya.Buat apa aku bertahan dirumah ini lagi jika keberadaanku saja tidak pernah dianggap ada oleh bapak dan mbak Rasti.
Sejak ibu meninggal 5 tahun lalu,duniaku juga ikut hancur saat itu.Aku selalu tidak dianggap ada dirumah inu,aku diperlakukan seperti pembantu dirumah ini.Berbeda dengan mbak Rasti yang selalu bapak banggakan,dia cantik, pintar dan bisa bekerja sebagai pegawai kecamatan.Sedang aku cuma gadis biasa lulusan SMA yang hanya bekerja disebuah toko sembako dipasar deket rumahku.

Sejak SMA aku sudah banting tulang sendiri demi biaya sekolahku,demi bisa beli buku dan juga peralatan sekolahku.Bapak sama sekali tidak peduli padaku dan apa lagi pendidikanku.Bapak hanya peduli dengan mbak Rasri,semua baju yang aku pakai dulu adalah baju mbak Rasti yang sudah kekecilan dan kadang juga sudah sobek.Aku anak kandung tapi diperlukan seperti bukan anak kandung bapak.

"Lho mau kemana kamu?"teriak mbak Rasti saat aku keluar kamar dengan sebuah tas besar ditanganku.

"Pergi."jawabku tampa menatap wajahnya.

"Kalau kamu pergi siapa yang nuci bajuku?
siapa yang membersihkan rumah?"ucap mbak Rasti padaku.

"Bukan urusanku,permisi."

"Heh!Kinan!berhenti!

Aku tetap melangkah pergi tampa menoleh sedikitpun,sudah cukup selama ini aku hidup dengan keluarga yang toxic.Dirumah ini pun aku tidak pernah dihargai,bapak dan mbak Rasti hanya butuh tenagaku untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah.Bagi mereka aku seperti pembantu yang bisa diperlakukan sesuka hati mereka.

"Kinan tunggu!"teriakan bapak membuat langkah kakiku berhenti."Selangkah kamu berani keluar dari rumah ini,jangan harap kamu bisa kembali."ucap bapak padaku.

"Kinan tidak akan pernah kembali lagi kesini,ini bukan rumah tapi neraka dalam bentuk rumah."jawabku sambil menatap bapak.

"Kurang ajar,kamu berani berkata seperti itu padahal selama ini kamu tinggal dirumah ini."ucap bapak padaku.

"Tapi aku cuma dianggap pembantu dirumah ini,aku juga anak bapak sama seperti mbak Rasti tapi kenapa aku diperlakukan berbeda."jawabku pada bapak.

"Karena kamu bodoh tidak seperti Rasti yang pintar dan bisa jadi anak kebanggaan bapak."ucap bapak lantang.

Aku tertawa mendengar apa yang bapak ucapkan sebelum berkata"anak bodoh ini yang setiap hari membersihkan rumah, anak bodoh ini yang setiap hari menyediakan makanan dimeja yang kalian makan dan anak bodoh ini yang mengurus semua pekerjaan rumah."ucapku pelan.

CeritakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang