Enm to Love

1.7K 44 10
                                        

Jika kau terlahir menjadi cantik, maka mutlak itu bukan salah mu.
Begitu juga jika kau dilahirkan di tengah keluarga bahagia, berkecukupan serta di kelilingi oleh orang-orang yang paham apa arti saling mencintai.

Tugas mu hanya satu, yaitu hidup dengan baik memanfaatkan segala fasilitas yang ada, yang disediakan, serta bergaul bersama mereka yang mau menerima mu tanpa memandang dengan tatapan iri.

Meskipun begitu, tetap tak ada yang benar-benar menyukai mu walau kau telah berusaha menjadi baik.
Merendah diri kadang semakin membuatmu dibenci.

Claudia Tamara, biasa di panggil Mara adalah seorang siswi tercantik di sekolah nya. Selain penampilan yang selalu rapi, rambut yang terikat, senyum memikat tentu saja dia memiliki daya tarik sendiri ketika tersenyum membuat siapapun menyukai nya. Oh, tentu tidak semua orang karena setiap kali Mara tersenyum akan selalu ada cemooh yang keluar dari bibir seorang remaja laki-laki bernama Pangeran Dwijaya.

Mara telah menyelesaikan tugas piket kelas ketika semua teman-teman yang lain mulai berdatangan, mereka menyapa Mara dengan ramah. Gadis itu juga membalas tak kalah ramah, hanya Pangeran yang menatapnya malas setiap kali gadis itu tersenyum.

Melihat ruang kelas telah rapi, Pangeran jadi tak punya sesuatu yang bisa memancing kekesalan Mara. Anak laki-laki itu akhirnya menatap papan tulis yang telah dibersihkan, mengambil spidol dalam tas nya.

Mara yang melihat gelagat aneh dari Pangeran seketika menegakkan bahu, waspada terhadap setiap kelakuan anak itu.

Bukan apa-apa, Pangeran itu tingkah nya tak dapat di prediksi. Dan bukan sekali saja Mara terjebak akibat kejahilan nya.

"Apa lihat-lihat?! Naksir lo sama gue?" Bentak Pangeran sembari berjalan ke arah papan tulis, Mara yang masih berdiri di ambang pintu memegang sapu mengernyitkan kening, memandang aneh Pangeran.

"Jangan kotorin lagi meja guru nya, Pangeran, gue capek bersihin kelas dari pagi", ujar Mara sambil menyandarkan diri pada pintu dibelakang nya.

"Siapa juga yang mau ngotorin meja guru, berisik lo jelek!"

Mara tak membalas perkataan Pangeran yang selalu saja menghina nya, entah kenapa anak itu sangat tak suka padanya padahal seingat Mara, dia tak pernah mencari gara-gara pada nya.

Mara bahkan tak tahu sejak kapan tingkah Pangeran selalu menyebalkan, dan itu pun cuma kepada Mara saja.

Pangeran mencoret garis abstrak di papan tulis, Mara yang melihat hanya bisa menghela nafas berat. Ia tak tahu sampai kapan akan menghadapi kelakuan menyebalkan Pangeran, tapi sungguh, meladeni lelaki itu hanya menghabiskan energi nya saja.

Pangeran yang fokus pada pekerjaan nya, sama sekali tak peduli suara tawa yang berasal dari teman-teman kelas lain. Bahkan Mara pun tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan ulah Pangeran.

Sampai bunyi bel sekolah menggema, Pangeran masih tetap mengerjakan proyek tak masuk akal yang terlintas di kepala nya itu.

Mara mengembalikan sapu pada tempatnya, dia tadi nya enggan melihat apa yang sedang Pangeran lakukan tapi rasa penasaran membuat Mara menoleh ke papan tulis.

Dan betapa tak terduga nya apa yang Pangeran tulis didepan sana.

"Lo gila? Kalo ada guru masuk gimana?!" Wajah Mara seketika berubah panik, bagaimana tidak, Pangeran melukis sesuatu yang bisa membuat siapapun terkena serangan jantung.

"Hapuslah, ribet banget", jawab nya santai.

Selesai memandangi lukisan nya, Pangeran tersenyum puas menatap Mara dan papan tulis secara bergantian.

"Lo piket kelas hari ini kan? Sekarang bersihin lagi papan tulis nya!" Perintah Pangeran tanpa beban kepada Mara yang menggelengkan kepala, bagaimana bisa ada manusia ajaib seperti Pangeran Dwijaya ini.

Tak mau banyak bicara, Mara hanya melakukan apa yang diperintah teman sekelas nya yang menyebalkan itu. Pangeran yang masih berdiri di tempat, tak bisa menahan senyum memperhatikan setiap gerakan Mara.

Mara yang sedang mencoba menghapus gambar hasil coretan tangan Pangeran, mendesah pelan sedikit panik karena garis itu tak mau hilang. Raut nya berubah cemas kala mendengar suara guru pelajaran pertama sedang mengobrol diluar.

Ia menoleh menatap Pangeran, semakin ketakutan.

"Lo pakai spidol permanen? Lo gila apa gimana, Pangeran! Ga bisa dihapus!" Mara setengah merengek sambil tak henti berusaha menghapus nya, bahkan keringat mulai bermunculan didahi nya.

Pangeran yang memang pada dasarnya jahil, enggan percaya.

"Alah, alesan! Lo kurang kuat kali hapus nya, buruan ntar bu Ema masuk! Lambat banget lo kaya bekicot", masih dengan gaya pongah Pangeran justru meremehkan raut cemas di wajah Mara.

Menurutnya, kecemasan yang terpancar dari mata Mara justru membuatnya semakin cantik.

Huh?

"Pangeran, ga lucu ya! Coba cek spidol nya, ini permanen!"

Melihat betapa kerasnya usaha Mara menghapus lukisan di papan putih tersebut, akhirnya Pangeran mengecek benda yang sejak tadi ia pegang.

Dan benar saja, spidol itu permanen.

"Bangsat!"

Mendadak satu kelas semakin hening melihat kepanikan di wajah Pangeran, belum pernah hal seperti ini terjadi. Apalagi pemuda itu menggambar nyaris memenuhi satu papan tulis yang lebar.

Mara yang tak kalah panik, membuat penghapus yang dipegang jatuh. Tangan nya ikut gemetar, bukan takut dihukum namun ia tak ingin guru mereka nanti syok melihat hasil tangan ajaib Pangeran.

"Minggir!" Bentak Pangeran pada Mara yang malah melamun, ia mengambil cairan pel lantai untuk digunakan sebagai bahan tambahan menghapus.
Di bantu oleh Mara, mereka berdua kompak menumpahkan cairan tersebut ke kain tangan. Namun belum sempat mengelap papan tulis, suara benda terjatuh dari pintu masuk mendiamkan semua orang termasuk sejoli muda yang menatap pucat guru mereka.

"Bu Ema.." lirih Mara menatap pasrah wajah guru nya yang tengah syok.

"Siapa.. siapa yang gambar 'itu' disana?" Bu Ema bersandar pada dinding dibelakang nya, memegang dada secara dramatis.

Pangeran yang tak bisa mengeluarkan suara, diikuti Mara yang cuma membisu, hanya menatap wajah pemuda disebelahnya.

"Ibu tau, Mara ga bisa lukis. Disuruh gambar gunung aja kaya batok kelapa diwarnain, pasti kamu? Pangeran!"

"Proyek berdua kok bu, ya kan?" Entah kapan ekspresi panik di wajah Pangeran berubah, sekarang mimik menyebalkan itu telah kembali menghias wajah nya. Membuat Mara mau tak mau mengangguk, ia selalu kena sial kalau bersama Pangeran. Lebih tepatnya, Pangeran yang memberinya kesialan terus menerus.

"KELUAR! Keluar kalian berdua! Berdiri di lapangan sampe jam pelajaran ibu selesai, jangan masuk kelas ibu hari ini sampai seminggu ke depan!"

Mau tak mau, Mara melangkah dengan wajah lesu keluar kelas. Berbeda dengan Pangeran yang tersenyum secerah langit pagi ini.

Setelah keduanya keluar, barulah Bu Ema sadar bahwa lukisan di papan tulis itu benar-benar membuat nya syok setengah mati.





Setelah keduanya keluar, barulah Bu Ema sadar bahwa lukisan di papan tulis itu benar-benar membuat nya syok setengah mati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ilustrasi doang yee, jangan di laporin!!

SHORT STORYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang