Bahkan jika itu suatu hubungan, semua orang tak menginginkan akhir yang sedih. Setiap manusia ingin memiliki hubungan yang terikat agar menyambung jalinan kasih diantara sesama, namun sebaik apapun mereka menjaga tentu akan selalu ada badai yang menerjang ikatan tersebut.
Pangeran menatap wajah sendu yang beberapa hari ini tak pernah lagi ia lihat tersenyum, ada yang berbeda sejak terakhir kali ia melihat tawa diwajah cantik itu namun Pangeran tak memiliki kuasa untuk sekedar bertanya.
Dari kejauhan dia memandangi betapa cantiknya sosok jelita itu, meski tanpa senyum pun ia semakin menarik diri Pangeran ke dalam pusat perasaan yang tak bisa dijelaskan. Bagaimana kelopak mata itu berkedip setiap kali angin menerpa wajah nya, hembusan nafas yang teramat berat serta genangan bening disudut mata semakin membuat Pangeran ingin sekali mendekat.
Ada apa? Kenapa? Apa yang terjadi?
Tiga pertanyaan itu sudah berada diujung lidah Pangeran, tapi energi pemuda itu seakan terkuras habis hingga tak bisa menyuarakan isi pikiran nya.
Setiap hari yang dia lakukan hanya memperhatikan bagaimana perubahan itu semakin membawa jarak diantara mereka. Memberikan ruang kosong didalam hati Pangeran sehingga ia tak bisa lagi mendekat kepada Mara.
Hari-hari berlalu, tahun pun terlewati, sampai mereka berada di titik harus berpisah demi mencapai target kehidupan yang sudah direncanakan.
Pangeran memegang seikat bunga matahari yang baru saja ia beli dari toko bunga dekat rumah nya, selembar surat berisi salam perpisahan serta mainan kunci yang berlambangkan inisial nama Mara.
Ia genggam benda tersebut sangat erat, rasa gugup dan takut ditolak membuat Pangeran memelankan langkah nya mendekati Mara.
Seharusnya hari itu menjadi perpisahan yang manis bagi Pangeran, meski selama ini ia telah melakukan banyak hal untuk menarik perhatian Mara namun perubahan drastis dalam diri gadis tersebut membuat Pangeran tak mampu menembus dinding tak kasat mata yang dibangun oleh nya.
Kini yang bisa Pangeran lakukan hanyalah memberitahu Mara, bahwa dia menyukai gadis itu. Berharap jika Mara tidak membenci nya karena terlalu banyak perbuatan Pangeran yang menyebalkan, serta menyakitkan hati.
Pangeran berjalan dengan sangat hati-hati mengikuti langkah Mara yang tergesa-gesa menuju halaman belakang sekolah, baru saja ia hendak menyerukan nama Mara, suara isak tangis yang perlahan terdengar menyayat hati Pangeran bersamaan rintik hujan berjatuhan memasuki indera pendengaran pemuda tersebut.
Makin berisik suara hujan, semakin keras tangisan itu mengiringi derasnya air yang berjatuhan.
Pangeran tidak pernah menyangka bahwa dia akan melihat kehancuran seorang Mara, tidak pernah terpikir olehnya akan melihat betapa terluka nya gadis itu, bahkan air hujan tak mampu menutupi suara tangisan yang memilukan hati.
Pangeran menyandarkan tubuh pada dinding sekolah sembari menatap tiga benda yang ia genggam sejak tadi, berharap kalau ia tak pernah mengikuti Mara kesini sehingga tak perlu menjadi orang bodoh yang tak mampu memeluk Mara disaat ia sedang menangisi kesedihan nya.
Apakah ini penyebab Mara semakin hari semakin berubah pendiam? Luka seperti apa yang telah membuat gadis seceria Mara menjadi begitu diam, bahkan Mara tidak pernah lagi bicara dengan teman-teman yang lain, seolah dirinya telah kehilangan jiwa, tatapan kosong nya menunjukkan betapa hancur hati gadis itu.
Pangeran menatap langit yang masih menurunkan rintik air, berharap bahwa dia bisa menenangkan Mara tapi bisa jadi kehadiran nya justru semakin menambah luka Mara.
Dan disaat pikiran Pangeran semakin jauh berkelana, disitulah ia merasakan sentuhan lembut pada lengan nya. Sebuah pelukan dingin yang membuat hatinya bergetar, Pangeran ingin sekali memalingkan wajahnya tapi ia tak kuasa. Ia tahu siapa yang melakukan nya, dia sadar jika kehadiran nya telah diketahui oleh Mara namun yang tidak bisa Pangeran lakukan adalah membalas sentuhan itu.
"Mara.." Panggil nya pelan, nyaris tak terdengar karena beradu dengan suara hujan.
"Aku ga mau terima hadiah ini dari kamu, Pangeran", sahut orang yang sedang memeluk lengan Pangeran dengan tamgis yang belum mereda.
"Kenapa?"
"Karena kamu juga bakal tinggalin aku setelah kasih hadiah ini", balasnya sembari menahan desakan air mata yang semakin deras.
"Mara..."
Lalu pegangan itu terlepas secara perlahan, meninggalkan kehampaan serta kekosongan yang teramat menyakitkan bagi kedua orang tersebut.
"Ga ada orang yang benar-benar percaya pada cinta, Pangeran. Bahkan orangtua aku pun ga pernah saling mencintai, mereka cuma hidup serumah tanpa cinta sampai aku lahir ke dunia ini. Cinta itu kebohongan, dan manusia seperti kita ga perlu cinta".
Pangeran hendak menahan kepergian Mara namun ia tak bisa melakukan nya, Pangeran merasa jika ia mencegah Mara pergi maka luka gadis itu akan semakin berdarah.
Maka ia biarkan Mara meninggalkan nya, dan hadiah itu tak pernah diterima Mara bahkan sebelum Pangeran memberikan nya.
Kenangan itu terlintas dalam benak Pangeran setelah bertahun-tahun berusaha menguburnya dalam memori yang paling jauh. Pemuda tampan itu terus menghembuskan nafas berat nya ketika bayangan tatapan penuh kebencian di mata Mara kembali terngiang.
Sampai saat ini Pangeran masih tidak bisa bertemu Mara, meski dalam kebetulan sekali pun.
Seolah semesta memang tak mengizinkan ia bertatap muka dengan gadis itu lagi di mana pun, Pangeran tak pernah lelah mencari meski ia telah menghabiskan tahun-tahun dalam hidup nya demi mencintai seorang seperti Mara.
Perasaan dan cinta seseorang tak bisa diatur sedemikian rupa, jika ia belum bisa berkesempatan melihat Mara lagi dalam waktu dekat, maka biarkan dia terus melantunkan doa kepada gadis itu dari kejauhan agar ia selalu bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORY
RomantikShort story ! Kumpulan Cerpen yang mungkin bisa menghibur anda sekalian :) Namanya juga cerita pendek, ya jangan ngarep panjang :) Karena aku nulis nya pun asalan aja :-D
