Short story !
Kumpulan Cerpen yang mungkin bisa menghibur anda sekalian :)
Namanya juga cerita pendek, ya jangan ngarep panjang :)
Karena aku nulis nya pun asalan aja :-D
Only for rich readers, so if you rich, then read my story now!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Boleh disesuaikan dengan imajinasi kalian sendiri kalau visual dari aku ga sesuai dengan keinginan kalian, thanks :)
Life after break up itu tidak menyenangkan untuk di ulang namun memaksakan sesuatu agar tetap menjadi milik kita disaat hatimu sadar kalau dia bukan orang yang tepat untuk dicintai maka itu adalah tindakan penganiayaan terhadap diri sendiri. Kebodohan yang tidak seharusnya kamu lakukan di saat kamu kaya dan mampu bersenang-senang menggunakan semua uang yang kamu punya.
Adaline pernah mengalami patah hati di usia yang sangat muda, saat itu ia tidak terlalu pintar menilai perilaku seseorang sehingga salah memilih pacar pertama yang seharusnya bisa menjadi kenangan indah, paling tidak jangan memberikan track record menyedihkan bagi sejarah hidup nya yang serba matang dan terencana. Meski begitu Adaline tetap mengenang nya, berterima kasih juga sebab hal itu membuat Adaline sangat berhati-hati sekali dalam membuka pintu bagi siapapun yang mencoba masuk dalam kehidupan nya.
Bahkan untuk menjadi seorang teman Adaline pun sangat sulit, selain karena semua akses di batasi oleh ibu nya, Adaline juga muak terhadap kepalsuan yang mereka tunjukkan secara terang-terangan.
Kalau dia tidak kaya, dia hanya anak seorang janda tua.
Begitulah kata-kata yang sering Adaline dengar ketika ia baru saja menolak ajakan seseorang untuk keluar bersama. Adaline tidak benci mereka, dia hanya merasa jijik pada senyum menyebalkan yang selalu tampak mengerikan di wajah para penjilat seperti mereka.
"Aku mendengar semua yang mereka katakan. Kalau kau bertanya, apa aku sakit hati atau tidak? Jawaban nya, tidak!"
"Benarkah?"
"Ya, tentu saja. Mereka berandai-andai jika aku miskin, sayang nya di kehidupan yang serba sulit ini aku dilahirkan menjadi kaya, aku bisa melakukan apapun, aku mampu membeli barang yang kusukai tanpa harus menjual tubuh, aku tidak perlu membuka celana hanya demi seorang lelaki karena mereka sendiri yang akan melakukan nya untukku. I am rich, mengemisreally not my style."
Adaline menyentuh bibir gelas yang berisi minuman kesukaan nya sambil tersenyum pongah, kemudian menoleh ke samping untuk melihat reaksi pria yang telah menjadi kekasih rahasia nya selama tiga tahun terakhir.
Gadis berambut hitam pekat itu semakin melebarkan senyum angkuh nya lalu berkata, "aku sangat menyukai kehidupanku. Terlahir kaya adalah anugerah terbaik yang di terima oleh seseorang, jadi aku harus menjadi umat yang taat pada Tuhan agar kekayaan ini abadi milikku, termasuk dirimu, Javier".
Lelaki itu bergerak mendekatkan diri pada Adaline, mereka saling berhadapan dengan Javier yang mendekatkan wajah mereka.
"Hmm.. apa aku memang setampan itu sampai kau harus bertaruh pada-Nya?"
"Aku tidak bertaruh apapun, aku hanya mencoba menjadi manusia baik meski pun tidak ada orang yang benar-benar baik. Seperti dirimu, kau tampak mengagumkan tapi orang lain tidak tahu bahwa tangan ini telah merenggut banyak nyawa".
Adaline menyentuh wajah Javier menggunakan jari telunjuknya, menelusuri wajah tampan itu sembari memberikan tatapan penuh obsesi yang membuat Javier menangkap jari tersebut lalu memasukkan nya dalam mulut kemudian mengecupnya perlahan, sangat sensual hingga membuat tubuh Adaline merinding.
"Kau tahu, sugar? Aku selalu suka tatapan penuh obsesi yang kau tunjukkan setiap kali kita bicara, andai saja aku tidak ingat kalau ibu mu sangat kejam mungkin kita sudah berakhir di ranjangku. Dan dalam beberapa minggu ibumu akan menerima surat Dokter bahwa ia akan segera memiliki penerus selain dirimu, sayang nya aku tidak punya koneksi langsung pada Tuhan untuk meminta nyawa cadangan andai saja ibumu menembak kepalaku",
"Jadi?" Tanya Adaline tanpa mengalihkan sedikit pun tatapan mereka yang semakin dalam saling menyelami perasaan masing-masing.
"Jadi, aku tidak bisa menyentuhmu sampai Monica Wilhemina merestui kita. Jujur saja, meski pun aku sering membunuh orang. Aku tetap meminta restu ibuku, yeah walau pun aku tidak punya ibu. Setidak nya kita meminta restu kan? Agar selamat ketika melakukan sesuatu", Javier mengungkapkan apapun yang terlintas di kepala nya meskipun terkadang hal itu akan mengundang rasa kesal sekaligus prihatin dalam hati Adaline.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa orang konyol sepertimu memiliki pekerjaan semengerikan itu, padahal kau sungguh mengenaskan. Entah itu penampilan mu, atau pun sikapmu yang sama sekali tidak mencerminkan seorang pembunuh", jujur saja Adaline tidak jauh berbeda dengan Javier. Itulah mengapa mereka bisa cocok sebagai pasangan.
"Naah, kita berdua juga tahu kalau aku terlalu baik untuk menjadi orang jahat. Sugar, seharusnya kau menjadi malaikat pelindung ku, iya kan?"
"Aku seharusnya menjadi istrimu, Javier. Aku tidak ingin menjadi malaikatmu!"
"Wohoo.. menjadi istriku apakah satu-satu nya tujuan hidupmu?"
"Apa aku terlihat memiliki hal lain untuk dilakukan selain menjadi istrimu?"
Javier memasang raut berpikir keras seolah dia memang melakukan nya padahal tidak. "Mungkin kau lebih cocok menjadi Lady Boss dengan puluhan pengawal dari pada istriku yang harus bersembunyi setiap kali aku selesai melakukan tugas, itu tidak menarik sama sekali, sugar".
"Aku tidak peduli, Jav. Dan kau? Kau tidak akan menjadi milik siapapun selain diriku", Adaline menjauhkan diri dari kekasihnya setelah berkata demikian karena ia melihat beberapa pengawal nya masuk ke dalam cafe tempat mereka bertemu.
"Aku harus pergi, Jav. Mama akan menembak kepala kita berdua kalau aku tidak datang rapat siang ini".
Ia tidak bisa menunggu sampai Javier menjawab lagi perkataan nya, Adaline hanya mencium pipi pemuda itu sekilas lalu berdiri mengambil tas nya yang sejak tadi terletak di atas meja.
"Kabari aku jika sudah selesai, hey sugar, don't forget your lunchbox!"
"OKE!!" Teriak Adaline sambil berjalan tergesa-gesa meninggalkan tempat dimana Javier masih bersantai, lelaki itu mengawasi setiap langkah Adaline yang semakin di lihat ternyata gadis itu sungguh dilahirkan menjadi orang yang memiliki kharisma luar biasa sebagai wanita karir. Bahkan suara ketukan sepatu nya bisa menyadarkan Javier bahwa Adaline tidak pantas di ajak bermain lumpur, karena bagaimana pun Adaline telah memegang berlian sejak kecil.
Tak masalah, Javier tidak semiskin penampilan nya. Adaline hanya belum tahu kalau Javier berkuasa di negara nya sendiri, pria itu di lindungi, dia tidak mudah di sentuh. Sayangnya karena pekerjaan ini dia harus mengorbankan sang ayah sebagai tameng agar semua hal tetap berjalan lancar.
"Dia selalu tampil menawan di keadaan apapun, seleramu memang terbaik, sir".
Javier tersenyum, menghabiskan minuman nya hingga tak bersisa kemudian menoleh ke sumber suara.
"Kau datang? Apa ada kabar baik?"
Pria berkacamata hitam itu tersenyum, mengangguk penuh percaya diri sangat meyakinkan Javier.
Berbeda dengan Adaline yang telah duduk dalam kendaraan, ia seolah tersadar akan sesuatu. Sebelum mobil nya benar-benar menjauh dari cafe, ia menoleh dan menggelengkan kepala nya tidak yakin.
"Apa hanya kami berdua yang mengunjungi cafe tadi, atau ada orang lain juga?" Tanya nya pada supir dan pengawal, dan kedua orang itu kompak menjawab bahwa tidak ada orang lain selain Adaline yang masuk kesana.