"Damian"
"Demm?"
"God, Damn!"
Anna kesal karena panggilan nya diabaikan, tapi Damian lebih kesal lagi karena Anna terus mengamit lengan nya. Lengan berotot Damian ternodai karena menyentuh dada bulat Anna yang sekal. Sial
Kapan cobaan ini akan berhenti menguji kesabaran Damian. Dia sudah tidak tahan, dan pikiran nya sangat kacau.
"Sampai kapan kau akan mengabaikanku seperti ini?" Tanya Anna dengan raut wajah polos tanpa dibuat-buat, seperti bayi yang tak berdosa Anna terus menggerakan lengan Damian. Merinding sekujur tubuh Damian karena ulah Anna.
"Bisakah kau menjauh dariku, Anna? Demi Tuhan, kau seperti anaconda yang ngebet kawin!"
Anna menarik lagi lengan pria itu, menghentikan langkah mereka yang hendak menuju lift.
Anna mendengus karena mendadak dia lupa ingin mengatakan apa tadi. Damian yang sudah hafal kelakuan gadis gila ini hanya bisa merafal doa dalam hati agar tidak membenturkan kepalanya sendiri karena Demi Tuhan, Damian ini lelaki normal yang memiliki hasrat seksual sedangkan gadis disebelahnya ini adalah ujian hidup yang membuat Damian selalu gagal melewatinya. Brengsek
"Kau selalu mengabaikanku, Dam. Apa aku tidak semenarik itu dimatamu sampai kau selalu membuat ekspresi muak seperti ini?"
Gila, ini sangat gila dan Damian nyaris memukul kepala nya sendiri.
Ekspresi muak yang Anna katakan adalah ekspresi paling normal yang bisa Damian tunjukkan karena jujur saja, dia sangat ingin memakan Anna hidup-hidup. Membuat gadis itu mengerang dibawahnya, menyebut namanya dibarengi desahan lembut atau bahkan jeritan puas. Bajingan Damian!
"Kau menarik, Anna. Bahkan tanganmu bisa membelit lenganku sampai seperti ini, anggota tubuhmu yang paling menarik adalah tanganmu sendiri."
Damian membenarkan letak kacamatanya, menghirup sebanyak mungkin oksigen agar paru-paru nya bisa bekerja dengan baik.
Anna membuat semuanya terasa menyesakkan.
Oh yeah, tentu saja Damian merasa sesak karena lagi-lagi Anna menggesekkan dada indahnya pada lengan lelaki itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh Anna tentang dirinya, padahal ia sudah menarik diri dari semua orang tapi gadis itu sama sekali tak berhenti mengganggunya.
"Tanganku memang bisa menarik semua orang, Dam. Maksudku adalah, apa penampilanku sangat buruk sampai tidak ada satu pun laki-laki dikantor ini yang melirikku? Coba kau lihat baik-baik menggunakan kacamata jelekmu itu, aku sejelek itu ya?"
Kali ini Anna menjauhkan diri dari lengan Damian, membiarkan pria itu menilai dirinya dengan kacamata jelek Damian.
Damian tak perlu kacamata baru untuk mengatakan kalau Anna adalah gadis paling sempurna tapi gengsinya setinggi Burj Khalifa, tentu saja ia akan menutup rapat bibirnya untuk mengakui hal itu.
"Kau tidak jelek, Anna. Tapi kau gila, itu sudah cukup untuk membuat para pria di kantor ini menjauhimu!"
Damian menjawabnya dengan raut santai, seolah dia tidak ada andil apa-apa dibalik semua kejadian yang membuat Anna bertanya-tanya seperti sekarang.
Jangan lupakan kalau Anna adalah primadona di gedung ini, dia pusat perhatian. Meski kadang dia sangat ceroboh, cerewet dan selalu melakukan hal tak terduga tapi Damian lebih mengenalnya lebih dari siapapun.
Pria itu tersenyum miring setelah menyadari ekspresi sedih di wajah Anna, jangan salahkan dia karena alasan apapun.
Damian adalah pelaku utama atas apa yang dialami Anna. Dia adalah orang yang mengusir semua pria yang hendak mendekati gadis itu, ia sendiri yang telah memastikan kalau tidak akan ada kumbang mana pun yang berani menyentuh bunga miliknya.
Anna tidak tahu saja kalau dirumahnya ada banyak kamera tersembunyi yang dipasang Damian untuk mengawasinya diam-diam.
Anna gila, tapi Damian jauh lebih gila dan mengerikan.
Sayangnya kegilaan itu tertutupi wajah dingin yang biasa Damian tampilkan.
"Apa kita akan membahas penampilanmu sampai tengah malam nanti, Anna? Aku lapar!"
Damian mengeluh begitu karena memang sejak pagi dia belum menyentuh makanan.
"Kau lapar?"
"Tidak, aku kenyang!"
"Oh, itu berarti kita harus membahas penampilanku sampai tengah malam nanti. Apa aku bisa menginap dirumah mu?"
Damian kembali membenahi kacamatanya, kepalanya pusing dan nafasnya kian memberat. Bajingan dalam diri Damian lapar, tapi bukan ingin makan melainkan ingin mencium bibir merah Anna. Sial sial
"Pulanglah, Anna. Kau membuat kepalaku sakit," keluhnya lagi.
"Kau tadi bilang lapar, Dam."
"Ya, aku memang lapar. Sampai kapan aku harus meladenimu dengan percakapan yang sama setiap hari, Anna?"
"Sampai kita tua? Mungkin."
"Kau bercanda?"
Anna menggeleng kemudian berkata, "Tidak".
"Aku lebih baik menikahi babi peliharaan nenekku dari pada harus menjadikan mu istriku, kau liar!"
"Lebih baik menindih tubuh seksi dan mulusku dari pada mengawini babi nenekmu yang berbulu, Dam!"
"Apa?"
"Aku cantik, tubuhku seksi dan vaginaku mulus seperti Apel. Kau tidak rugi menikahiku!"
"Huh?"
Damian menjauhkan tangan Anna yang hendak mengamit lengannya kembali, kali ini dia benar-benar menjauhkan diri sampai membentang jarak yang cukup bagi Anna untuk tidak memeluknya lagi.
Pria itu melepas kacamatanya, memijit keningnya sebentar lalu menatap wajah Anna yang sedikit memerah karena udara malam yang dingin. Pria itu menelan ludah ketika menyadari kalau Anna sangat cantik bahkan dalam keadaan messy sekali pun.
"Jangan katakan itu pada siapapun, Anna. Aku tidak ingin membunuh orang karena tingkah bodoh mu ini, apa kau mengerti ucapanku?"
Anna menggeleng.
"Sial"
"Kau tidak sial, Dam. Kau sangat beruntung mendapatkan perhatian dariku".
"Diam, Anna!"
"Apa?"
"Tutup mulutmu!"
Anna merapatkan bibirnya, masih setia memerhatikan Damian yang gelisah.
"Apa semulus itu?"
"Apanya?"
"Brengsek!"
Damian menyerah, dia berjalan meninggalkan Anna sendiri. Dia tidak ingin pulang bersama Anna, berada dalam lift menuruni sepuluh lantai lagi hanya akan menyiksa batin Damian. Ia lebih baik berjalan menuruni tangga sekalian menurunkan imajinasi bajingan dalam kepala nya.
"Anna sialan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORY
RomansaShort story ! Kumpulan Cerpen yang mungkin bisa menghibur anda sekalian :) Namanya juga cerita pendek, ya jangan ngarep panjang :) Karena aku nulis nya pun asalan aja :-D
