Jika itu kamu, maka dengan kesadaran penuh aku akan selalu berada paling depan untuk membela mu, menjadi satu-satu nya yang akan melindungi mu dari setiap hal menyakitkan.
Dan bahkan jika itu bukan kamu, biarkan aku tetap menjadi satu-satu nya orang yang tahu seberapa dalam luka itu.
Pangeran tahu bahwa saat ini ia telah kehilangan semua harapan, bahkan untuk pertama kali dia merasakan patah hati terbesar dalam hidup karena seseorang. Mimpi akan sebuah pertemuan yang menyenangkan, harus pupus detik itu juga kala menatap sebuah surat berwarna merah jambu tergeletak di depan pintu rumah nya.
Ketika ia membuka surat tersebut, Pangeran berharap ia tak pernah membaca setiap kata yang tertulis, lelaki itu berharap bahwa semua itu hanyalah mimpi. Mimpi yang begitu menyakitkan sampai ia kesulitan bernafas.
Pria itu terduduk lemas diantara daun pintu yang terbuka lebar, menangis tanpa suara, memeluk surat yang seharusnya ia terima sejak lama.
Pangeran memejamkan mata nya, mencoba menggali kembali kenangan ketika ia masih berumur belasan tahun, dimana hari-hari itu ingin sekali ia datangi. Dia mencoba mencari momen terbaik yang pernah dirasakan untuk dinikmati, pria itu terus menangis tanpa suara.
Debaran yang selalu dirasakan setiap kali menyebut nama Mara, yang biasanya terasa menyenangkan kini berubah menjadi rasa sakit tak terhingga.
Pangeran tidak pernah sehancur ini, dia belum pernah putus harapan dalam melakukan sesuatu tapi dengan Mara, ia merasakan semua untuk pertama kali.
Pertama kali merasa tertarik pada lawan jenis.
Pertama kali merasa ingin mengganggu seseorang padahal Pangeran bukan orang seperti itu.
Pertama kali merasa ingin terus dilihat.
Pertama kali merasa ingin diakui keberadaan nya.
Pertama kali merasa ingin selalu diberitahu.
Dan pertama kali merasa ingin ditatap oleh seseorang, yaitu Mara.
Lalu ketika semua tak berjalan sesuai yang direncanakan, Pangeran melupakan kenyataan bahwa manusia memang tak memiliki kuasa atas apa yang berjalan di muka bumi ini.
Meski dia telah berusaha, tetap Tuhan yang memutuskan apakah itu terbaik untuknya atau justru membawa kehancuran untuk nya.
Namun saat ini Tuhan justru mematahkan setiap doa yang pernah dia panjatkan pada nya, Tuhan menenggelamkan semua yang pernah Pangeran langitkan.
Ini tidak adil, sekaligus membunuh perasaan cinta secara perlahan.
Hingga semua cerita ini selesai, tak pernah ada penyelesaian diantara Pangeran mau pun Mara.
Hubungan yang memang tak pernah dimulai, tak perlu memiliki akhir yang bahagia.
Bahkan saat mereka berada di satu tempat yang sama, takdir pun masih tak mempertemukan mereka.
Surat merah muda itu menampilkan nama orang yang paling dicintai oleh Pangeran, dan dibawahnya tertulis nama orang lain.
Bukankah kita selalu mendapatkan kejutan tak terduga, bahkan di waktu yang paling tidak kita inginkan.
Sejak kelulusan sekolah nya, Pangeran tidak pernah bertemu Mara lagi, meski ia membatalkan niat untuk melanjutkan perguruan tinggi keluar kota, Pangeran tetap tak bisa menemukan Mara disudut mana pun dalam kota ini.
Semua orang berkata 'tidak tahu' ketika Pangeran menanyakan keadaan Mara, bahkan saat Pangeran mendatangi rumah gadis itu. Yang didapati nya cuma rumah sepi dan penuh keheningan, seolah disana tersembunyi rasa sakit yang teramat perih sehingga Pangeran tak bisa menemukan Mara.
Kata-kata Mara di pertemuan terakhir mereka jelas mengingatkan Pangeran betapa benci nya gadis itu pada cinta, tapi apa ini?
Undangan pernikahan atas nama Mara, hal yang tak pernah ia ingin terima selama masih berusaha mencari Mara.
Jelas-jelas Pangeran tak pernah berhenti berusaha menemukan Mara, lalu dari mana undangan itu datang?
Kenapa Tuhan tidak mengizinkan Pangeran bertemu Mara, sekali saja. Setidaknya, Pangeran bisa melihat keadaan gadis itu sudah baik-baik saja setelah sekian tahun tak mendapati kabarnya.
"Mas, kamu ngapain disitu? Masuk ih, pamali duduk depan pintu!" Tegur seorang wanita paruh baya ketika melihat putranya sedang melamun jauh sambil bersandar pada daun pintu.
"Dia mau nikah ma, orang yang selama ini mas cari ternyata mau menikah", ucap Pangeran dengan suara bergetar. Ia menatap sendu wajah ibunya, belum pernah sepedih ini dan Pangeran tak kuasa menahan segala desakan air mata yang hendak keluar. Cairan bening disudut mata pemuda tampan itu keluar dengan sendiri nya.
Melihat kondisi putra nya yang mengenaskan, wanita itu pun berjalan mendekat sembari menatap undangan yang dipegang Pangeran.
"Berarti jodohnya udah sampai, kenapa mas harus sedih? Bukan nya kita harus seneng ya dapet kabar bahagia begini, apalagi perempuan itu yang selalu mas cari keberadaan nya", ibu Pangeran mencoba menenangkan putranya dengan mengelus pelan bahu sang anak. Memberikan senyuman hangat yang terasa menenangkan untuk hati Pangeran.
"Tapi mas patah hati kalo begini, undangan ini siapa yang ngirim? Dari mana dia tahu rumah kita, padahal selama ini mas selalu nyari tahu keberadaan dia, tapi ga ada satu pun orang yang bisa kasih penjelasan".
"Mas, ga semua pertanyaan itu punya jawaban dan ga semua jawaban itu harus kita dengar penjelasan nya, mungkin memang kalian ga ditakdirkan untuk bertemu dulu. Coba lihat, kapan tanggal pernikahan nya?"
Pangeran tidak sanggup membaca nya sampai habis, dia juga tidak membuka surat itu, membaca nama yang tertera diluarnya saja sudah sehancur ini apalagi jika ia membaca sampai habis. Pemuda itu memberikan surat tersebut kepada sang ibu, enggan menatap nya.
Ibu nya menghela nafas panjanga ketika membuka undangan pernikahan tersebut, menatap penuh prihatin kepada putra sulung nya yang kelihatan tak berdaya.
"Udah mas ga usah sedih, kalo ga sanggup datang sendirian nanti mama sama papa temenin. Jangan lemah cuma karena selembar undangan gini, malu sama umur!" Kata ibunya tanpa perasaan bersalah seolah rasa sakit hati yang dirasakan Pangeran bukan apa-apa.
"Ma, ini mas lagi patah hati loh. Ga lucu digituin", sahut Pangeran masih dengan mencoba menghentikan laju airmata nya.
Lelaki itu benar-benar patah hati.
"Ya mau diapain? Toh orang nya udah mau nikah, 2hari lagi acara nya. Mas mau gagalin acara nya? Mama ga mau ya jadi penanggung dosa mas kalo sampe itu terjadi".
"Ma! Ya ga gitu juga, ngertiin perasaan mas dikit kenapa? Ini lagi berdarah banget loh luka nya".
"Alah, badan doang kekar masa patah hati sekali aja bikin lemah. Udah-udah nangis nya, malu sama otot!"
Mendengar hal itu makin lah kacau perasaan Pangeran, sungguh ibu nya tak mengerti dan memahami perasaan nya. Jelas-jelas disini Pangeran sedang kesakitan.
Melihat putranya yang diam saja, wanita itu pun bangun dari samping Pangeran lalu membawa undangan itu bersama nya. Meninggalkan Pangeran yang kembali melamun sedih.
Tak lama kemudian bunyi ponsel milik ibu Pangeran berdenting menampilkan sebuah pesan singkat.
Setelah membaca nya sambil menahan tawa, wanita itu pun membalas pesan dari nomor yang baru saja mengirimi nya pesan.
Udah, kamu ga usah khawatir. Biar dia ngerasain patah hati dulu, emang enak kena karma. Aman terkendali situasi disini, kamu tenang aja ya sayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORY
RomanceShort story ! Kumpulan Cerpen yang mungkin bisa menghibur anda sekalian :) Namanya juga cerita pendek, ya jangan ngarep panjang :) Karena aku nulis nya pun asalan aja :-D
