Cold Husband vs Naughty Wife 9

556 26 0
                                        

Supernatural :


Orang-orang hidup di zaman serba canggih, perubahan pada cara memandang hidup dan hubungan telah banyak dilakukan oleh kaum muda atau yang biasa kita sebut Gen Z.

Namun bagi wanita dewasa seperti Lily, dia tidak termasuk ke dalam Gen Z karena usianya sudah duapuluh delapan tahun.

Lily terlahir sebagai anak milenial yang mana masih menganut paham bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama itu memang benar adanya.

Melihat dan merasakan sendiri bagaimana perasaan cinta itu berlabuh dalam hati membuatnya tak bisa menolak tentang perjodohan yang telah dilakukan tanpa sepengetahuan nya.

Lily seperti boneka pajangan yang hanya bereaksi ketika ada orang bertanya kepadanya, begitu juga laki-laki disebelahnya.

Mereka sempat berpisah selama beberapa jam, kemudian pria itu datang kembali dengan penampilan yang masih sama. Hanya tatanan rambut nya tidak serapi tadi, dan Lily menyumpah, mengutuk diri sendiri karena kalau saja bisa, air liurnya mungkin sudah menetes saking kagum nya terhadap calon suami pilihan Daisy.

Pria itu jauh seribu kali lipat lebih tampan dengan penampilan berantakan, dan Lily merasa telah kehilangan jati diri karena terpesona pada Yuvaan.

"Sial." Dia tak sadar telah mengumpat berkali-kali, Yuvaan yang sibuk dengan benda persegi ditangan nya menoleh sebentar menatap Lily yang memalingkan wajah ketika tertangkap basah sedang memandanginya.

"Ada apa? Kamu bosan?" Yuvaan menjauhkan ipad yang sejak tadi ia pegang, lelaki itu sebenarnya tidak memiliki pekerjaan mendesak tapi duduk bersama dengan Lily yang memakai jasnya, dan ia tahu betul dibalik jas kebesaran itu tersembunyi tubuh indah Lily sungguh membuat kepala Yuvaan pusing.

Dia seperti pria murahan karena mudah sekali membayangkan hal-hal tak senonoh, padahal gadis disebelahnya lebih parah.

"Engga juga, tapi aku beneran ngga tahu harus ngapain selain duduk disini nungguin mami sama mama kamu selesai. Kita udah pilih semua nya, terus apa lagi yang harus diurus? Aku capek, baru juga sampai udah diajak kesini".

Lily tak percaya dia mulai membiasakan diri dengan kehadiran Yuvaan, bahkan dari caranya bicara pada Yuvaan pun tak seperti keduanya masih baru pertama kali bertemu. Akrab dan santai.

Lily merasa degub jantung nya semakin kencang, mungkin dia sebentar lagi akan pingsan kalau begini terus.

Tak terhitung berapa kali ia mendesah kesal, semua itu tak lepas dari mata Yuvaan.

Bagi Yuvaan, duduk bersama gadis disebelahnya ini sangat menyenangkan. Walau pun mereka tidak mengobrol, hanya diam dengan sesekali mencuri pandang, tetap saja Yuvaan merasa senang.

Rasa tertarik yang perlahan berubah menjadi suka.

"Mau jalan keluar dulu sebelum pulang? Saya yang akan antar kamu pulang nanti, tante Daisy sama mama saya ngga akan selesai cepat. Ayo!" Ajak Yuvaan meraih tangan Lily agar bangun dari tempat duduknya.

"Jalan kemana? Aku lagi ngga mood jalan-jalan".

"Kemana aja, lagi pula kita belum banyak mengobrol. Saya belum kenal kamu secara pribadi, kita akan segera menikah lalu tinggal serumah. Kan lucu kalo saya ngga tahu apapun tentang kamu padahal saya suami kamu".

Lily tak tahu jika mendengar seseorang mengklaim dirinya sebagai suami bisa membuat dadanya kembali diterpa perasaan asing yang membuat perutnya mulas tapi kupu-kupu seolah mendesak keluar terbang mengelilingi mereka. Sungguh tidak romantis tapi Lily benaran jatuh cinta pada setiap kata yang dipilih Yuvaan ketika berbicara padanya.

Sebuatan 'saya' tak pernah terdengar se-seksi ini dimulut seseorang, hanya Yuvaan yang membuatnya menjadi sangat candu.

Ah, Lily..

"Aku suka.."

"Ya?"

Lily menghentikan langkah mereka yang sebentar lagi akan mencapai pintu keluar butik.

"Cara bicara kamu ke aku, aku suka."

Yuvaan termenung menatap wajah malu-malu Lily, tapi tak urung dia memalingkan wajah.

Kenapa jadi seperti ini?

Padahal seharusnya mereka bersikap kaku, canggung atau bahkan menjaga jarak karena pertemuan pertama. Tapi mengapa justru sangat akrab, Lily tak seperti gadis kebanyakan yang malu-malu. Dia bicara terus terang, apapun yang dia pikiran akan dia sampaikan tanpa ragu.

Dan Yuvaan suka sikap calon istrinya itu.

"Yuvaan?"

"Ya, Lily?"

"Kamu ganteng banget, jangan genit sama perempuan lain ya. Papi aku setia banget orang nya, ekspektasiku tentang suami juga sangat sempurna dan aku ngga akan menurunkan seleraku demi memaklumi kesalahan kamu. Aku benci orang ngga setia, aku cantik, aku kaya dan apapun bisa aku dapetin dengan mudah. Kehilangan satu laki-laki ngga bikin aku rendah diri, selama itu berpacaran, aku ngga mau pusing. Tapi kita akan menikah, kita berdua juga tau kalo pernikahan ini hasil perjodohan. Aku ingin menikah satu kali seumur hidup, baik buruk kamu akan aku terima, begitu pun sebaliknya. Aku harap kamu juga begitu, sesuram apa kehidupan kita dimasa depan tolong jangan pernah berniat menceraikan aku. So.. you know what i mean, right?"

Tolong jangan hina raut Yuvaan yang takjub dengan perkataan Lily barusan, laki-laki itu sungguh pandai menyembunyikan perasaan nya melalui ekspresi datar meski dalam hati ia bersorak senang dengan ungkapan Lily.

Saat Yuvaan menyetujui perjodohan ini, pria itu sudah memikirkan nya secara matang dan keputusan nya tak diambil dalam waktu singkat. Rentang waktu penawaran ibunya memakan waktu hampir dua bulan, dan ketika ia sadar usianya sudah cukup dewasa untuk menikah, tak ada salahnya menerima dijodohkan.

Lagi pun, Yuvaan selalu bekerja bersama ayahnya. Tak punya waktu untuk mencari kekasih, jadi Lily adalah satu-satunya yang Yuvaan inginkan.

Sial.

Kata 'ingin' sungguh menggetarkan dada lelaki jangkung itu.

"I get it. Tidak akan ada perceraian diantara kita, dan apapun yang terjadi kamu tidak boleh melarikan diri dari saya, Lily."

"Aku ngga suka main kejar-kejaran, tapi kalau mr. right itu kamu, aku bakal kejar sampai ke ujung dunia".

"So, we deal about all of this."

"Yes."

Yuvaan merenungi wajah Lily, sangat lama dan gadis itu tak ragu untuk membalasnya.

Mereka memiliki perasaan tertarik terhadap satu sama lain, tapi tentu butuh waktu lama untuk membuka dan mengakuinya.

Dua wanita yang sejak tadi menguping pembicaran anak-anak mereka mulai berbisik-bisik. Mereka terlihat sangat senang.

"Bener kata kamu Di, Lily sama sekali ngga nolak dijodohin sama Yuvaan. Padahal aku udah cemas nunggu dia pulang".

"Lily itu anak aku mbak, aku kenal karakternya. Lagi pula, Yuvaan itu tipe dia banget. Lihat sendiri kan? Selera Lily itu tinggi, tanpa Yuvaan berusaha pun dia udah menangin hati anak aku. Tinggal pusing nya aja nanti kalo udah serumah, semoga Yuvaan ngga kena hipertensi".

SHORT STORYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang