Suka sama pacar
orang gak dosa-kan
Kalau dosa berarti akulah orang berdosa itu
*************
Atika sudah seperti asisten pak Milan bagaimana tidak? beliau menyuruhnya mengantar tugas anak IPA sebelah yang dikumpulkan di depan gerbang. Kebetulan pak Milan petugas piket hari ini jadi beliau merazia para murid yang berpakaian seperti preman pasar alias tidak rapi.
BRUK!
Atika terpental karena seseorang sengaja menabraknya. Kenapa dibilang sengaja lihatlah Acha yang tersenyum miring padanya melihat ia terjatuh dengan posisi duduk buku latihan yang ia bawa tadi sudah berhamburan di lantai.
"Makanya kalau jalan itu jangan cuma kaki digunain, mata juga harus," katanya sinis lalu pergi meninggalkan Atika begitu saja dengan tangan bersidekap didada. Gadis itu mengepalkan tangannya kesal, kalau bukan karena Acha, sepupunya, ia sudah membalas perbuatan gadis itu. Ia lebih baik diam daripada berkepanjangan.
"Ayo kubantu!" Atika menoleh pada pemilik suara itu ternyata Frans, si lelaki irit bicara. Lelaki itu mengulurkan tangannya padanya dengan wajah tenangnya, mata lelaki itu tampak teduh membuat hati siapa melihatnya menjadi tenang. Mereka jarang bertegur sapa tapi lihatlah anak itu peduli padanya. Padahal kemarin lelaki ini sangat menyebalkan sekali dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Terimakasih!" Atika menyambut uluran tangan itu ketika melihat ketulusan lelaki itu.
Tangan Frans terasa hangat dan lembut membuat dadanya berdesir aneh. Ia terkesiap saat Frans menariknya dengan lembut hingga posisinya berdiri tegak.
"kok lo, bisa jatuh sih?" tanyanya dengan lembut lalu memungut buku-buku latihan itu. Gadis itu mengerjabkan mata beberapa kali memperahatikan lelaki itu yang sedang membungkuk, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Nada suara itu terdengar lembut.
Apa gue bermimpi?
"Ahhh.....itu.....gue tadi tersandung kaki sendiri, gue ceroboh," ucapnya tersenyum gugup lalu ikut memunguti buku itu
Kok gue jadi gugup ya?
Atika jadi bingung sendiri kenapa ia jadi berubah seperti ini, padahal dulu kalau berbicara dengan lelaki itu biasa saja.
"Oh, nih bukunya," ujar Frans seraya menyerahkan bukunya pada Atika dengan posisi mereka yang masih jongkok. Atika menerimanya seraya tersenyum kikuk, lidahnya terasa kelu walau hanya ingin mengucapkan kata terima kasih.
"Lain kali hati-hati!" pesannya sambil tersenyum manis, yang sukses mambuat Atika melayang. Hatinya terasa mengembang saat melihat senyuman itu, ia sudah biasa melihat Rizal tersenyum, tapi tidak semanis ini. Atika masih tetap terpaku ditempatnya menatap Frans yang beranjak berdiri lalu meninggalkannya.
Ugh, senyumnya manis sekali.
Atika dan teman sekelasnya lain belum terlalu kompak karena mereka masih kelas satu dan baru juga semester satu. Persaingan masih terlihat ketat, mereka jarang berkumpul dan dominan mengerjakan pr sendiri-sendiri. Jujur Atika kurang betah pada semester ini untung saja ada Rizal dan Melly. Memang tidak mudah mencari teman namun ia sangat bersyukur tanpa dicari kedua orang itu mau nerimanya sebagai teman. Pertemuan Atika dan Frans pertama kalinya pada waktu pendaftaran mereka waktu sama-sama bingung mencari kantor guru untuk mendaftar. Dimulai dari perkenalan tukar nomor dan kebetulan sekelas, sungguh hal yang tak terduga. Kalau Melly ia bertemu pada waktu Mos mereka satu kelompok dan kebetulan sekelas juga. So, Atika memang lumayan beruntung dalam hal berteman saat ini. Namun belakangan ini ada satu nama yang mulai ingin Atika masukkan dalam daftar pertemanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Atika (Selesai)
RawakRevisi Semuanya baik-baik saja menurut Atika saat ia belum masuk dalam anggota Osis. Entah mengapa hal itu merenggut masa-masa santainya. Apa lagi ia harus bertemu dengan Bryan, si ketua Osis, cowok super jutek, yang kalau bicara buat emosi. Sement...
