"Ibu tau kan gak boleh ada yang berani hukum Putri, dia gak boleh kecapekan bu dia punya penyakit sesak didadanya!" bentak Fildan pada guru yang mengajar dikelas Putri.
"Kak ini bukan salah ibu Tia, tapi tadi Putri sendiri yang mau dihukum kak, karena dia bilang sebagai tanda minta maafnya sama aku" ucap Rara.
Fildan terdiam dan menjabak rambutnya frustasi, ia baru ingat semalam akan ucapan papinya yang menyuruh Putri meminta maaf pada Rara.
"Saya minta maaf bu" ucap Fildan datar. Ibu Tia menganggukan kepalanya.
"Maafin ibu juga karena ibu tidak tau Putri punya penyakit sesak nafas, semoga Putri cepat sembuh dan sadar ya ibu permisi" pamit ibu Tia.
Ridho menatap Putri yang terbaring lemah dikasur UKS, wajahnya pucat dan cara dia bernafas juga sepertinya susah.
"Adik lo emang keras kepala" ucap Ridho sedari tadi diam dan kini baru membuka suaranya.
"Kak Fildan maafin Rara juga ya udah berapa kali Putri pingsan gara-gara Rara" ucap Rara menunduk takut. Fildan hanya melirik Rara datar tanpa menjawab ucapan Rara, yang ia mau kini adik tercintanya itu sadar.
"Kenapa lo selalu ada disaat Putri pingsan Dho?" tanya Fildan datar.
Ridho terdiam, ia juga bingung kenapa dirinya selalu datang tepat disaat Putri pingsan padahal tadi ia izin ketoilet dan ia juga tak sengaja melihat Putri berlari memutari lapangan dan tiba-tiba saja Putri terjatuh dan tak sadarkan diri, dengan cepat Ridho langsung berlari menggendong Putri lalu membawanya keUKS.
"Gue gak tau" balas Ridho. Fildan menghela nafasnya kasar.
"Kenapa kamu kayak gini sih Put, kamu tau kan kamu gak boleh kecapekan, gak gini juga cara kamu meminta maaf sama Rara, kamu kan bisa minta maaf secara baik-baik bukan malah nyakitin diri kamu sendiri kayak gini" lirih Fildan mengelus pucuk kepala Putri.
Ridho menatap Putri nanar, ia merasa kasihan melihat Putri seperti ini, ia tau semua penyabab asal mulanya adalah dirinya sendiri.
"Gue cari minyak kayu putih dulu, lo tolong jagain Putri, kalau ada apa-apa bilangin gue" ucap Fildan, Ridho mengangguk pelan sembari mengambil kursi dan duduk disamping ranjang Putri.
"Kak emangnya diUKS ini gak ada minyak kayu putih?" tanya Rara pada Fildan.
"Gak ada tadi kakak udah tanya katanya habis" ucap Fildan lalu berjalan keluar.
Ridho terus menatap wajah Putri yang terlihat pucat, kenapa akhir- akhir ini Putri terlihat lemah dan sering jatuh pingsan apa semua ini gara-gara Ridho? Tanpa sadar Ridho mengelus pipi Putri entah kenapa hatinya sakit juga melihat Putri terbaring lemah. Ridho mengelus tangan Putri dan diganggamnya.
"Bangun dong lo lemah banget sih" ucap Ridho pelan, ntah dorongan dari mana Ridho mencium tangan Putri singkat.
Ridho lupa tak hanya dia yang ada diruangan ini namun ada Rara juga, air mata Rara sudah dari tadi turun melihat perlakuan manis Ridho pada Putri hatinya sakit ya, sangat sakit, cemburu? Iya Rara sangat cemburu. Dengan cepat Rara menyeka air matanya sebelum Ridho melihat. Tak lama Fildan pun datang dengan minyak kayu putihnya namun Fildan tak sengaja melihat Rara menyeka air matanya kasar.
"Rara lo kenapa?" Ridho dan Rara menoleh dan Ridho pun melihat Rara.
Ridho merutuki dirinya, ia lupa kalau ada Rara disini pasti Rara melihat Ridho mencium tangan Putri tadi, Ridho juga tak tau dorongan dari mana ia berani mencium tangan Putri dan mengelus pipi chubby Putri.
"Gapapa kok kak" ucap Rara menutupi kegugupannya. Fildan hanya mengangguk paham.
"Dho ni lo kasih dekat hidung Putri" Fildan memberi minyak kayu putih pada Ridho.
Ridho pun mendekatkan minyak kayu putih itu didekat hidung Putri, tak lama kepala Putri bergerak-gerak dan Putri mulai mengerjapkan matanya sebelum akhirnya terbuka sempurna.
Putri menatap sekitarnya ia melihat ada Fildan dan Rara disebelah kanannya kemudian Putri menoleh kesebelah kirinya ia terkejut melihat Ridho yang menatapnya sendu."Kamu minum dulu" Fildan memberi air pada Putri sembari membantu Putri bersandar diranjang.
"Kamu lain kali jangan gini lagi ya, tubuh kamu masih lemah, kemarin kamu hujan-hujan dan sekarang malah mutar lapangan" Putri memutar bola matanya jengah, ia tau kakaknya ini sangat khawatir tapi Putri bosan mendengar nasehatnya itu.
"Kak aku ni gak lemah!" ucap Putri tegas.
"Gak lemah tapi pingsan terus" sindir Ridho dengan menatap kearah lain, Putri menoleh cepat dan menatap Ridho tajam.
"Gue emang lemah puas lo" balas Putri, Ridho menatap Putri dan tersenyum samar.
"Ngaku juga" ucap Ridho pelan. Putri memilih diam, ia malas untuk marah marah sekarang karena kepalanya sangat terasa nyeri.
"Put gue minta maaf, seharusnya lo gak ngelakuin hukuman gue, tanpa lo minta maaf udah gue maafin kok" ucap Rara, Putri memutar bola matanya malas.
"Lo jangan ge-er gue mau minta maaf sama lo karena bokap gue" balas Putri datar.
"Tapi gak harus dengan cara gantiin dia mutar lapangan kan Put, kamu bisa minta maaf dengan baik" sambung Fildan.
"Ini terpaksa kak, lagian aku males masuk kelas, aku juga pengen cari keringat diluar" ucap Putri.
"Alasan" celetuk Ridho lagi. Putri menatap Ridho tajam dan menahan amarahnya agar tak marah-marah karena kepalanya masih terasa sakit.
"Terserah lo" balas Putri ketus.
Ridho menatap Putri lekat, kenapa Putri tak marah-marah, padahal Ridho sedari tadi memancing emosinya.
••••••
👇Klik bintangnya⭐

KAMU SEDANG MEMBACA
Ridho, I Love You! [END]
RomanceRidho, gue suka sama lo, gue sayang sama lo, gue cinta sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue? -Aurora Putri Beniqno Gue gak suka sama lo, dasar cewek gila! -Ridho Akmaliki --- Bagaimana hubungan mereka selanjutnya, akankah Ridho mencintai Putri seper...