3

224K 15.2K 247
                                        

Happy tuesday!!!!
.

.

.

Selamat membaca. Jangan lupa vote dan comment!!!!

***

Prediksiku selalu benar.

Dalam sekali pertemuan, Geralt sudah tampak akrab dengan Thea. Entah apa yang mereka obrolkan, otakku tidak sampai kesana. Sedangkan sepupu perempuanku yang lain?

Tampak luar biasa penasaran dengan sosok Geralt Widjaya. Bahkan Roseline yang tadinya menolak, sekarang ia tampak sangat antusias menunggu giliran mengobrol dengan Geralt.

Satu pertanyaan, apakah Geralt tahu, jika yang sedang mengantri untuk berbicara dengannya adalah calon istrinya?

Pada kesempatan itu, aku memutuskan untuk menghampiri Pak Warso yang sedang berada di luar dengan cerutu yang bertengger di bibirnya. Menepis rasa keingintahuanku sebagai wartawan majalah, untuk dapat giliran mewawancarai si pria itu.

Catat. Mewawancarai, bukan mendekatinya. Aku tidak mau membuang-buang waktuku hanya untuk di tolak olehnya.

"Jovie," kata pak warso kemudian menundukan sedikit kepalanya ketika melihat kehadiranku.

"Pak Warso," kataku.

Aku memilin tanganku, menyusun kata-kata yang tepat untuk bertanya kepada pak Warso, agar terdengar sopan.

"Bagaimana?" Katanya

Aku menarik nafasku kemudian menatapnya "saya harap pertanyaan saya tidak menyinggung. Tetapi, apakah laki-laki itu tahu tentang semua hal ini?"

Pak warso tersenyum, hampir tertawa. "Ya,"

"Dan dia setuju?"

"Benar."

"Dengan santainya dia setuju? Untuk mengobral sepupu-sepupuku? Apa ini menyenangkan untuknya?"

Pak warso terkekeh "mengobral?" Katanya. "Bukan seperti itu, Jovie. Kakekmu, entah apa yang pernah dia lakukan. Ia memiliki semacam perjanjian dengan keluarga Widjaya,"

"Perjanjian?"

"Ya perjanjian. Kamu fikir bagaimana kakekmu bisa menjadi seorang politikus kondang tanpa ada campur tangan seseorang di belakangnya? Kamu jelas tahu siapa keluarga Widjaya itu,"

"Tapi ini tidak masuk akal!"

"Tidak ada yang bilang ini masuk akal, Jovie. Tidak ada satupun orang yang pernah mengerti dengan keputusan yang selalu di ambil kakekmu. Semuanya tidak masuk akal. Tetapi kamu tahu, semua keputusan yang selalu di ambilnya, selalu berujung baik. Dan saya rasa, kakekmu pasti tahu yang terbaik untuk cucuk-cucuknya."

"Nasib sepupu-sepupuku yang di pertaruhkan disini. Ini bukan main-main pak Warso. Pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral. Dan mereka bahkan belum mengenal laki-laki itu,"

"Mereka? Kamu tidak lupa kan, kalau nasibmu juga di pertaruhkan di sini?"

"Aku tidak ikut, pak Warso. Dari awal aku tidak pernah berniat untuk ikut dalam pertarungan aneh ini,"

"Tapi namamu juga ada di dalan surat wasiat sebagai kandidat istri Geralt, pilihannya hanya menang atau kalah. Tidak ada pilihan tidak ikut."

"Kalau begitu pak Warso. Biarkan aku kalah. Aku sama sekali tidak mengharapkan menang."

MalfeliĉaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang