48. Kebohongan terbesar

2.3K 155 10
                                        

Arinda dan Bagas berlari sekuat mungkin,beberapa kali salah satu di antara keduanya harus jatuh karena Ghillie suit yang mengganggu pergerakan mereka.Sekitar 20 orang menyebar untuk mengejar Arinda dan Bagar yang tertangkap basah sebagai pelaku penembakan ketua mereka.

Setelah 15 menit mereka berlari tanpa henti membuat Arinda kesulitan bernafas,Bagas semakin di buat panik saat melihat Arinda yanng bernafas berat sambil menutup matanya,Bagas juga mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka,dengan gerakan cepat Bagas membopong tubuh Arinda layaknya karung beras.Tanpa mereka sadari seorang remaja yang mengawasi mereka dari jarak 3 meter dari selatan menarik pelatuknya ke arah mereka berdua,beruntung timah panas tak terarah dengan tepat,namun meggores Ghillie suit milik Bagas hingga menyebabkan luka robek pada lengan kanan Bagas.

Dengan tenaga yang tersisa,Bagas berbalik dan menembakkan pistol miliknya dengan asal sambil terus berjalan mundur.Setelah pelurunya habis tak tersisa,Bagas berlari menuju tempat aman dan tenang untuk menyelamatkan Arinda.Bagas mendudukan Arinda di dekat pohon beringin besar,namun tenaga Arinda yang sudah habis membuatnya terbaring lemas dan memanfaatkan akar pohon beringin sebagai bantalan kepalanya,namun Bagas segera menarik tubuh Arinda untuk tetap terduduk."jangan tidur,tetap duduk dan membungkuk ke depan,"

Setelah Arinda melaksanakan perintahnya,Bagas segera berlalu entah kemana,membuat Arinda khawatir jika dia akan di tinggalkan oleh Bagas.Tak berselang lama Bagas kembali dengan beberapa tangkai daun pisang membuat Arinda mengerutkan dahinya,dengan terburu-buru Bagas menarik daun pisang hingga menyisahkan tangkai daunnya saja,kemudian dia lilitkan tangkai daun pisang tersebut pada diafragma Arinda.

Arinda terpekik sebal saat Bagas melilitkan sesuatu pada perutnya,bukannya mengurangi sesak nafas Arinda justru memperparah hingga Arinda membuka mulutnya lebar-lebar agar mendapat pasokan udara yang lebih banyak.Dengan tenaga seadanya Arinda memukul perut Bagas dan membuka lilitan bodoh tersebut.

"Lo mau bikin gue mati!,"Arinda berbicara dengan terengah

"e-enggak gitu,Nda."Bagas terlihat sangat gugup,bibirnya bergetar dan sedikit memucat.

Arinda mencoba mengatur nafasnya sendiri,sesekali tatapan tajam dia layangkan pada Bagas,sedangkan Bagas hanya menunduk dalam menahan tangan dan bibirnya yang bergetar memucat.

5 menit sudah berlalu,nafas Arinda sudah kembali normal.Bagas melirik Arinda dengan takut,Arinda mendekat dan duduk di samping Bagas.

"Lo kenapa?,lengan lo kena tembak!," Arinda terkejut sedangkan Bagas hanya menggeleng.

"Gas," kata Arinda memaksa Bagas untuk berbicara.

"sorry gue bodoh banget,gue gak bisa bantu apa-apa,gue panik banget,Nda."Bagas menunduk dalam tanpa menatap Arinda sedikit pun.

"Gue tau,ini tugas lapangan pertama Lo," kata Arinda,Bagas tersenyum saat mengetahui tanggapan Arinda yang memakluminya

"sebagai hukuman,Lo harus laporan ke Komandan sekarang,gue matiin radio dari tadi biar fokus sama si biadab itu,gue ogah dengar si Saka ngomel-ngomel,"kata Arinda sambil sibuk memeriksa senjatanya.

"sama,gue juga matiin radio dari tadi," kata Bagas kemudian meneguk salivanya sendiri.

Bagas dan Arinda mulai memutar tombol pada radio yang terhubung pada setiap anggota operasi penyelamatan sandera,baru saja tangan mereka selesai memutar tombol,suara garang Saka terdengar membuat Bagas terkejut.

"Sertu.Bagas,Sertu.Arinda monitor!,"

Arinda melirik Bagas tak kalah garang dari suara Saka.Kepala Arinda bergerak seolah memerintah Saka untuk melakukan laporan situasi saat ini,lagi-lagi Bagas harus meneguk salivanya sendiri.Kepanikannya belum sempat mereda harus di tambah kegugupan karena harus berhadapan dengan Bagas,Tuhan memang tak berada di pihaknya.

Bintara Perwira [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang