71. Cabe-cabean

1.5K 125 32
                                        

"Ya ampun, Nda. Jadi orang jangan kolot-kolot."

"Tadinya sempat gak percaya sih, tapi kok jadi kepikiran juga." kata Arinda sambil memainkan ujung sepatu yang dia kenakan.

"Emang eyang lo ngomong gimana?"

"Tadinya dia cuma nanya kenapa gue belum balik kerumah. Kemarin gue udah janji bakal jemput dia di terminal, tapi waktunya mepet sama waktu Kak Saka berangkat, yaudah gue batalin dan gue suruh Bang Alan jemput si Eyang." jelas Arinda.

"Dasar Bucin, laknat banget lo sama Eyang sendiri." semprot Fania.

"Dengerin dulu. Terus pas gue cari cincin, Si Eyang nelpon. Ya gue jelasin dong kalo Kak Saka ada tugas and bla..bla..bla.." jelas Arinda lagi.

"Eh kena semprot dong! Katanya bahayalah, pamalilah, bisa batal nikahlah. Sempat juga gue bercandain sampai Si Eyang ngambek, tapi pas di pikir, emang iya ya?" tanya Arinda lagi membuat Fania tertawa.

"Mungkin aja nih, lo gak boleh beli cincin sendiri karena takut cincinnya gak muat di jari Kak Saka nantinya." nasehat Fania.

"Iya juga sih, Fan. 'kan gak lucu pas tukar cincin, tapi gak muat di tangan Kak Saka. Bisa batal nikah cuma gara-gara cincin gak muat." ucap Arinda sedikit lega.

"Yaudah, Fan. Thank's ya! Gue mau cari tau ukuran jari Kak Saka dulu. Bye."

Sambungan telpon sengaja Arinda tutup terlebih dahulu karena Viko telah datang di hadapannya dengan mobil milik Saka. Terlihat dari raut wajah Viko yang kesal karena Arinda menghubunginya secara mendadak.

"Uuu tayang, maaf ya Abang Viko udah ngerepotin, tadi lagi bobok ciang ya? Gimana lagi? Calon istri komandan Saka lagi minta di jemput soalnya." ucap Arinda tak lupa dengan cubitan gemas di pipi Viko membuat Viko semakin kesal.

"Eheeemmm," suara dehaman itu membuat Arinda terperanjat dan menoleh ke sumber suara yang ada di belakangnya.

"Loh, lo nyimpen cabe-cabean di mobil calon suami gue?!" pekik Arinda.

"Cabe-cabean?! Mulut lo minta di cabein?" lawan perempuan yang berada di kursi belakang.

"Heh, cabe kok main cabe-cabean!" lawan Arinda kembali.

"Keluar lo! Ngapain nangkring di mobil calon suami gue?" tanya Arinda lagi.

"Yaelah mbak, baru juga calon, udah kebakaran jenggot." ejek perempuan tersebut.

"Lo gak tau aja, kalo gue simpanan calon suami lo."

"Ha?!" Mata Arinda terbuka lebar ketika mendengar ucapan perempuan tersebut.

"Kita udah jalan 5 bulan sih." ucap perempuan itu lagi, hingga membuat suasana memanas. Arinda yang sudag menahan emosi dan Viko yang mendadak jadi orang bodoh, hingga yang di lakukannya sekedar menggaruk kepalanya.

"Gue gak percaya, dasar cewe centil."

Arinda keluar dari mobil Saka dan berjalan menuju bahu jalan tanpa menghiraukan teriakan Viko dari dalam mobil yang memanggilnya untuk kembali ke mobil. Arinda lebih memilih menghindar dari pada berujung baku hantam dengan perempuan cabe-cabean menurutnya.

"Mbak Arinda, ayo masuk saya antar, nanti saya jelasin di jalan!!" teriak Viko hingga membuat pengunjung Mall menatapnya.

"Mbak, jangan lapor komandan!!" teriak Viko lagi.

"Dasar bedebah!! Diakan bisa ngejar gue pake mobil, gak perlu teriak-teriak kaya di hutan. Emang Sersan tolol!! Liat aja nanti!" umpat Arinda sambil berjalan.

Arinda menghentikan sebuh taxi yang tak jauh darinya, segera Arinda memasuki dan memerintah Sang Supir untuk sedikit mempercepat laju kendaraannya menuju rumahnya.

Bintara Perwira [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang