~Jika akhir nya seperi ini, aku ngak akan mau memulainya apa lagi mencampuri hidup nya sama sekali~
——————————————————————————
22.TANGISAN YANG TERBENUNG
Hari sabtu pagi, Dean duduk bersama teman teman nya di pinggir lapangan, ia sedang menyaksikan penampilan dari para anak paskibra generasi lima.
Dean hanya tersenyum, dia sedikit berubah sekarang, ia menjadi sedikit pendiam dan sering melamun, entah apa yang sudah membuatnya seperti ini.
Tepuk tangan dan siul pun riuh terdengar saat melihat adegan romantik dari sebuah gerakan senam lantasnya.
Dean pun tersenyum, "jadi ini yang di bicarakan waktu di kantin pantes aja kak Alva ngak mau" Batin Dean.
Terlihat Laras duduk di sela tumpuan paha Alva, dan ia menumpu lengan nya di pundak Alva sambil tersenyum, romantis banget, itu senam apa syuting film
Fita yang sedari tadi memperhatikan Dean pun mulai resah, dia sedikit berbeda sekarang, entah apa yang ia pikirkan sekarang Dean sering sekali melamun.
"Dean lo kenapa" Tanya Fita.
"Ngak apa apa kok, gue baik" Jawab Dean santai.
Fita masih tetap tidak percaya, dia tetap sedikit resah dengan nya.
Penampilan pun selesai semua siswa di persilakan untuk memasuki kelas masing masing.
"Dean itu kenapa sih, kok akhir akhir ini sering banget ngelamun" Tanya Hisyel dengan Fita.
"Setiap kali gue tanya dia ngak pernah jawab, kayanya sejak hari ulang tahun SMP deh dia jadi kek gini" Jawab Salma, lalu di angguki oleh Fita dan Relia.
"Dia kenapa sih sekarang lebih suka menyendiri" Sahut Riana.
"Ngak tau kayanya ada yang ngak beres" Timpal Hisyel.
"Ada yang perlu gue selidiki sekarang" Batin Fita.
***
Hari senin pagi, Dean berangkat seperti biasanya, hanya saja dia sedikit terlihat ceria.
"Selamat pagi" Sapa Dean.
Fita, Relia dan Salma pun menoleh.
"Pagi, tumben ceria banget, ada apa nih" Celetuk Salma.
"Ngak ada kok, gimana tugas IPS udah jadi semua"
"Gue kurang lima belas" Jawab Salma.
"Gue kurang sepuluh, lo dah jadi" Sahut Fita.
"Gue udah kok, kemaren minggu tak kerjain semua, kalo matematika gimana udah gue kurang satu" Jawab Dean.
"Gue belum sama sekali, pusing pala gue" Sahut Relia.
"Nih kalo kalian mau lihat" Dean pun memberikan sebuah kertas folio ke teman teman nya.
"Lo udah jadi semua" Kaget Relia.
Dean hanya mengangguk.
"Gila 55 soal, esai semua lo udah jadi, bener bener terbukti banget deh" Celoteh Salma.
"Terbukti apa"
"Terbukti banget bisa jadi anak pewaris generasi" Sahut Fita.
"Ngak juga gue kan gagal dapatkan tiga besar"
"Tapi kalo kaya gini lo bisa naik Yan nilainya" Sahut Relia.
"Dah ah mau lihat ngak"
Mereka pun menyontek jawaban IPS Dean.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEVA [REVISI]
Teen FictionSejak saat kejadian itu, nama mu selalu terukir di kepala ku, membuat semua tertuju pada satu nama yaitu nama mu -Qhillastika Ardean Marisha- Perubahan itu pasti ada, entah kapan akan berawal itu pasti ada di dalam hidup kita -Alva Arrayan- ...
![DEVA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/242178607-64-k38721.jpg)