79.Awal Yang Pernah Terjadi

17 9 2
                                        

79.AWAL YANG PERNAH TERJADI

"Bagaimana pun juga teman itu di pertemukan oleh pendidikan dan di pisahkan pula oleh pendidikan dan waktu"

-Qhillastika Ardean Marisha-

***

Hari ini adalah hari dimana Dean akan menempuh ujian kelulusan nya. Ia sudah menyiapkan sedetail mungkin tentang mapel mapel nya. Dia juga sudah berlatih baik di bimbel mau pun di rumah.

Ada rasa gugup, takut juga panik saat ia berjalan menuju ruang laboratorium Teknik Komputer.

Ia membuka pintu laboratorium dan mencari nomor peserta nya.

"189" Gumam Dean lirih.

Ia pun tersenyum saat menemukan tempat duduk nya, ia meletakkan tas nya di kursi dan mengambil buku ringkasan lalu keluar.

Dean duduk di teras laboratorium, ia termenung sesaat. Ia melirik jam tangan nya.

"Pukul enam lima lima, pantes masih sepi"

Waktu masuk ruangan adalah tujuh lebih tiga puluh menit dan waktu dimulai nya ujian adalah pukul delapan, tapi Dean tidak ingin terlambat dan memutuskan untuk berangkat lebih pagi.

Dia ingat jika ia tidak akan bertemu Fita di ujian kali ini karena nomor peserta mereka yang berbeda gelombang.

Dean menatap ke arah lapangan basket, sekilas dia ingat bahwa dulu dirinya pernah mengikuti ekskul musik bersama Anggi.

Tak terasa tiga tahun berlalu, kini dia sudah harus berpisah lagi dengan sekolah yang ia sayangi. Ia harus merelakan sahabatnya pergi dari nya.

Dean tersenyum hampar dan berkata, "bagaimana pun juga taman itu di pertemukan oleh pendidikan dan di pisahkan pula oleh pendidikan dan waktu"

Tiba tiba kepalanya terasa sakit dan sedikit mengingat suatu hal. Dean terdiam dan mencoba tenang sampai akhir nya ia ingat sesuatu.

Ia ingat bahwa dulu pernah mengucapkan perpisahan dengan Alva sewaktu Alva akan berpisah dengan nya.

"Jadi kak Alva beneran pernah sekolah bareng aku" Sela Dean yang masih sedikit bingung.

Tak hanya itu Dean juga mengingat suatu kejadian yang sangat tak ingin dia ingat lagi.

"Kak Ghisella"

***

Setelah ujian selesai semua peserta ujian di harap pulang. Dean berjalan keluar dari laboratorium bersama Ristha.

"Eh Fita dah berangkat belum" Sela Dean.

"Belum, dia kan ntar berangkat nya setengah sebelas"

"Hmm, ya udah gue duluan Rist"

"Iya"

Dean pun berjalan menuju halte lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Amara.

Sesampainya di rumah, Dean merebahkan diri nya di kasur. Ia memejamkan matanya lelah.

Dia pun melirik ke arah jam tangan nya, "sepuluh lewat, kak Alva berangkat ngak ya"

Karena sekarang Dean sudah memiliki ponsel baru dan Alva sudah memberikan nomor nya, Dean berniat untuk memberinya kabar.

Kak AlvaArr:

P
kak Alva?

Dean terdiam sejenak, tidak ada balasan apa pun dari Alva, hal itu membuat Dean berpikir bahwa dia tengah sekolah hari ini.

DEVA [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang