24. APOLOGIES

297 20 5
                                        

AUTHOR'S POV

Setelah sekian waktu berkutat di dapur, kedua wanita yang sebentar lagi akan menimang cucuk itu segera menyajikan semua masakan ke atas meja makan. Mereka saling melemparkan senyuman hangat setelah puas memandang masakan mereka.

"Makanan siap!!" Teriakkan Anne menggema di rumah yang sangat sepi itu. Seruan Anne bahkan terdengar ke seluruh ruangan yang ada.

Kendall yang sedang mengistirahatkan kepalanya langsung berusaha untuk bangkit dari posisinya dan berusaha sekuat mungkin berjalan untuk menggapai pintu. Kepalanya terasa lebih sakit daripada tadi pagi, ia juga tak henti-hentinya bersin hingga matanya berair.

Saat ia memutar knop pintu dan menariknya, ternyata Harry sudah menunggu Kendall di luar kamar. Namun Kendall enggan mengatakan sesuatu agar dirinya tidak terlihat sedang menahan sakit.

Ia berjalan melewati tubuh Harry dengan perlahan hingga akhirnya tiba di meja makan. Hidungnya langsung menghirup aroma lezat masakkan Anne dan Kris yang masih mengeluarkan kukus-kukus, itu berarti masih hangat.

Kendall dan Harry duduk berdampingan dan jangan tanyakan apakah mereka merindukan momen ini. Jika mereka berkata tidak, maka itu adalah kebohongan besar.

Biasanya Kendall selalu menyiapkan piring Harry dan meletakkan makanan untuknya. Namun kali ini, Harry melakukan itu semua sendiri. Sangat aneh rasanya.

"Tunggu. Ada sesuatu yang kurang." Ucap Kendall, menginterupsi kegiatan ketiga orang lainnya yang sedang memilah makanan mereka.

Tanpa menjelaskan apa-apa, Kendall bangkit dari kursinya dan berjalan ke kamar Tracy. Begitu tiba di depan pintunya, niat Kendall untuk mengetuk pintu kamar Tracy terhenti ketika ia mendengar Tracy sedang bercakap dengan seseorang. Sebenarnya Kendall tidak pernah peduli dengan apa yang Tracy lakukan di kamarnya, namun Kendall merasa bahwa Tracy sedang berbicara tentangnya, sehingga ia harus menguping pembicaraan Tracy.

"Ya, aku tahu."

...

"Aku tidak bisa mengirimkan uang padamu! Orang itu tidak pernah memberikanku uang, asal kau tahu."

...

"Benar, mereka sedang berperang dingin selama beberapa hari ini."

...

"Tentu. Perempuan itu tidak bisa melakukan apa-apa padaku jika ada suaminya."

...

"Kau gila."

Kendall yang sudah muak mendengarnya, langsung mengetuk pintu kamar Tracy dengan buru-buru. Suara Tracy yang sedang bercakap pun tidak terdengar lagi karena ia segera membukakan pintunya.

Matanya membulat begitu sadar bahwa Kendall yang mengetuk pintu, "Kendall? Ada apa?" Ujar Tracy sambil menahan agar tidak terlihat gugup.

"Apa yang kau bicarakan di telepon? Dan siapa yang berbicara denganmu?" Kendall menatap Tracy dengan mengintimidasi. Bahkan mata Kendall yang biasanya memancarkan keteduhan kini berubah, membuat suasana menjadi mencekam.

"Huh? Bukankah tidak sopan untuk mengetahui urusan orang lain, Ken? Maaf, aku tidak merasa perlu menceritakannya padamu."

Kendall memutar bola mata, membiarkan Tracy lolos kali ini. Perasaan curiganya akan ia simpan dan akan ia bongkar dengan sendirinya, tanpa harus melibatkan siapapun.

"Makan siang sudah siap." Ucap Kendall, kemudian langsung kembali ke meja makan, tanpa menunggu balasan atau respon dari Tracy.

"Apa yang kau lakukan, Ken?" Tanya Anne yang berposisi berhadapan dengan menantunya begitu Kendall sudah kembali duduk di kursinya.

Fight For Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang