25. LET ME GO

362 22 9
                                        

AUTHOR'S POV

Siang telah berganti malam saat Kendall baru selesai mengemas keperluan persalinan yang siang tadi ia dapatkan dari Kris dan Anne. Tentu saja ia mempersiapkan semuanya sendiri di dalam kamar, bahkan sesekali ia terharu melihat pakaian bayi yang begitu mungil. Ia jadi teringat akan penantiannya selama bertahun-tahun akan kehadiran sosok anak kecil yang disebut sebagai buah cintanya dengan Harry. Penantian yang tentunya penuh suka karena Harry selalu setia dengannya dan duka karena ada saja yang menyinggung perasaan Kendall soal kesehatan rahimnya.

Omong-omong, sejak terakhir kali ia bicara dengan Harry, pria itu masih belum menemuinya lagi. Oh, mungkin tidak akan menemuinya, pikir Kendall. Rasa gengsi Harry pasti semakin menjadi-jadi setelah mengatakan pertanyaan konyolnya.

Kini Kendall berusaha untuk tidak berharap lebih agar Harry berbalik 180 derajat kepadanya. Ia lebih memilih untuk fokus dengan rencananya sebagai ibu nanti. Walaupun hari-hari menjelang persalinannya ia jalankan tanpa Harry, tanpa dukungan atau kasih sayang suami. Perlu diakui bahwa hal itu sangat menyakiti hati Kendall.

Jam digital di nakas sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan baik Harry maupun Kendall masih enggan terlelap dalam mimpi mereka. Keduanya masih sama-sama terjaga dengan alasan yang berbeda. Perasaan Kendall tidak enak sejak sore bahkan ia merasakan mulas tidak biasa di perutnya. Sementara Harry sedang asik menghirup dalam-dalam aroma dari pakaian Kendall, lelaki itu rindu mendekapnya.

Tiba-tiba rasa sakit yang Kendall alami sudah tidak dapat ditolerir lagi. Ia tersungkur diatas karpet sambil tangannya mencengkram kuat selimut diatas kasur. Bahkan telapak tangannya mengeluarkan darah akibat tusukan kukunya yang begitu kuat. Peluh sudah membasahi wajahnya dan kedua kakinya lemas untuk menopang tubuh.

Dengan tangan yang bergemetar ia meraih ponsel di tengah ranjang dan mengetikkan nomor suaminya. Ia sudah tidak tahan lagi. Hanya Harry yang bisa membantunya.

"Please, Harry..." lirih Kendall sendiri saat Harry tak kunjung menjawab panggilannya padahal sudah lebih dari 5x Kendall menghubunginya. "ARGHH! SAKIT SEKALI, TUHAN!" Ponsel digenggamannya terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang sudah terlalu lemah.

Harry tidak peduli lagi padaku?
Batin Kendall.

Dikarenakan kamar tamu cukup dekat dengan kamar Susan, wanita itu terbangun dari tidurnya yang baru tiga jam saat mendengar suara jeritan majikannya. Dengan langkah cepat, ia menghampiri kamar Kendall dan membuka pintunya lebar-lebar.

Tubuhnya bergemetar hebat saat melihat Kendall sudah tidak sadarkan diri dengan keringat disekucur tubuhnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke kamar Harry dengan susah payah karena jantungnya berpacu sangat cepat dan kakinya lemas.

"Tuan! Tuan tolong Nyonya, Tuan!" Susan menghujami pintu jati itu dengan ketukkan yang sangat gaduh.

Harry yang berada di dalam kamar pun merasa terganggu karena itu. Dengan sedikit menggeram, ia berjalan untuk membukakan pintu.

"It's 2AM, Susan! What's wrong with you?!" Omel Harry, bahkan ia tidak curiga dengan kedatangan Susan yang panik saat dini hari sekalipun.

Tangan Susan menunjuk ke arah kamar Kendall berada. Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan apa yang terjadi pada Kendall.  Seakan mengerti maksud Susan, Harry pun berlari ke kamar Kendall dengan perasaan tidak karuan.

Harry bersumpah jika terjadi sesuatu pada Kendall dan anak-anaknya, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

Rasa panik Harry semakin menjadi-jadi begitu mendapati Kendall tergeletak seperti mayat karena seluruh tubuhnya pucat dan dingin. Ingin rasanya ia menangis namun ia tahu tidak ada waktu untuk menyesali kelalaiannya disaat Kendall sedang gawat.

Fight For Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang