76. OVERDOSE

290 32 11
                                        

Bagun pagi dengan pusing yang menghujami kepala adalah rutinitas Harry setelah satu minggu belakangan ini. Hal itu membuatnya harus bergantung pada obat pain killer karena ada urusan penting setiap harinya di kantor.

Bangkit dari ranjang, duduk dan menyesuaikan pandangan rupanya adalah hal yang sia-sia. Kepalanya tetap terasa berat dan pandangannya buram. Walau samar, ia masih bisa mendapati satu botol obat di nakasnya.

Seolah ada dua orang berdebat di kepalanya. Yang satu mengatakan untuk jangan melakukan itu lagi, namun yang satu bersih keras untuk melakukannya karena kalau tidak, Harry tidak akan bisa menjalani hari.

Dengan obat itu pula Harry bisa setidaknya tidak ingat dengan Ava dan Arel.

Sudah satu minggu lamanya setelah ia mengantar anak-anak itu untuk hari pertama sekolahnya. Sejak itu Harry benar-benar menjauh demi menuruti keinginan Kendall, demi membuktikan kalau Harry tidak egois dengan memikirkan perasaannya sendiri.

Bahkan dering ponsel bersamaan dengan nama Kendall tertulis di sana tidak ia hiraukan. Ia tau itu pasti Ava dan Arel yang mencoba menghubunginya. Namun ia tidak bisa mendengar suara anak-anak itu sedikitpun.

"Masa bodoh!" Ia mengumpat sebelum menelan dua butir kapsul sekaligus tanpa bantuan air.

'Obat ini dianjurkan untuk diminum satu kali sehari, satu kapsul dan tidak boleh lebih.'

Harry menggelengkan kepala saat suara apoteker itu terlintas di otaknya. Tidak peduli apa efek yang akan ditimbulkan karena dia sudah melanggar anjuran seorang berkompeten di bidangnya.

Pandangan Harry semakin kabur, bahkan semuanya terlihat berputar dan ia tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri.

Ia sudah mengambil keputusan yang salah, dan semuanya terlambat karena tubuh itu sudah terlebih dahulu jatuh ke lantai sebelum ia sempat menekan tombol dial pada kontak Kendall.

***

"Awh!"

Kepala Kendall sontak terangkat dari majalah yang ia baca setelah mendengar suara anaknya memekik keras.

Ia mendapati Ava tersungkur di hamparan batu dengan posisi lutut dan kedua tangan bertumpu pada batu-batu tersebut.

Kendall pun segera berlari, menghampiri anaknya yang sudah meringis kesakitan.

Tunggu.

Ia menoleh ke belakang, kemudian melihat ke kedua kakinya. Betapa terkejutnya ia bisa kembali berjalan tanpa tongkat, oh bahkan dia berlari.

Namun itu tidak cukup penting. Tangisan Ava memanggil, membuatnya tersadar dan melanjutkan langkahnya.

"Ava, duduk di sini." Kendall menepuk batu besar yang memiliki permukaan halus.

Kedua lutut Ava terluka. Entah bagaimana ceritanya ia bisa terjatuh dari sepeda saat ia tidak perlu menjaga keseimbangan–sepeda itu bahkan bisa berdiri tanpa tuntunan manusia atau penyangga.

"Ava kenapa bisa jatuh, sayang?" Tanya Kendall, lembut.

Ava justru menangis pelan dengan kepalanya yang ia letakkan di bahu Kendall. Tatapannya lurus dan tangisnya tak mengeluarkan suara.

Ia tidak menangisi lukanya.

"Papa.."

Kendall mengernyit. Papa?

"Ava kangen Papa. Ava meleng lalu menabrak batu besar karena memikirkan Papa."

Mendengar itu, Kendall menekan bibirnya menjadi garis lurus, berusaha tidak terbawa suasana dan ikut menangis.

Fight For Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang