Diusir seperti itu di hadapan orang banyak, antara malu dan kesal Intan bingung harus melakukan apa. Sehingga ia tercenung karena terlalu shock.
Namun, mendengar Zein membentak Intan seperti itu, salah seorang dokter residen menghampiri Intan. Lalu menariknya perlahan.
"Lebih baik kamu keluar sekarang! Daripada nanti Prof semakin murka," ucap dokter tersebut. Ia tidak ingin kegiatan operasi mereka gagal hanya karena Zein marah..
"Tapi, Dok. Salah aku apa?" tanya Intan. Ia berusha memertahankan harga dirinya.
"Kamu enggak salah, tapi mungkin Prof sedang punya masalah lain. Jadi lebih baik kamu yang mengalah. Kamu kan tahu sendiri Prof seperti apa," jelas dokter residen tersebut saat mengantar Intan keluar dari ruangan operasi.
Ia merupakan salah satu dokter yang baik pada Intan. Sehingga bisa menenangkan gadis itu.
"Ya udah, terima kasih ya, Dok," sahut Intan, lemas. Akhirnya ia pun melenggang pergi.
Dengan kesal, Intan melepaskan sarung tangan karetnya, lalu melempar sarung tangan tersebut ke tempat sampah. Tak lupa ia pun bergegas mengganti pakaian operasi, lalu keluar dari ruangan itu menuju ke rooftop.
"Dasar Profesor sialan! Apa sih maunya dia? Dia minta aku nikah buru-buru bahkan minggu depan dia mau ngelamar aku. Tapi kenapa bisa-bisanya dia bentak aku di depan umum? Emang dia pikir aku enggak malu?" gumam Intan, menggerutu. Kali ini ia benar-benar emosi.
Intan merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Zein.
"Oke. Aku tahu dia itu konsulen aku. Dia memang pintar dan berbakat. Tapi bukan berarti dia bisa merendahkanku seperti itu, kan?" ucap Intan dengan napas yang menggebu.
Saat itu Intan marah-marah seolah ia benar-benar berani melawan Zein. Padahal jika berhadapan dengan Zein pun nyalinya langsung ciut.
"Aaarggghhh! Dasar Profesor Berengsek!" teriak Intan saat sudah berada di tepi rooftop. Dadanya sampai naik turun karena napasnya tersenggal.
"Gila kali tu orang? Ngapain coba tadi pagi dia nyuruh aku buru-buru ke ruangan operasi? Terus tiba-tiba aku diusir kayak gitu. Ya ampunnnnnn ... rasanya aku emosi banget. Baru kali ini aku emosi sampai ke tulang," gumam Intan, kesal.
Saking kesalnya intan sampai menendang dinding pembatas rooftop tersebut.
Bug!
"Aaaww!" keluh Intan. Ia kesakitan setelah menendang dinding tersebut.
Akhirnya ia pun berjongkok sambil menangis karena sudah terlalu kesal pada Zein.
"Parahnya lagi cowok brengsek itu bakal jadi suami aku. Aku enggak rela nikah sama dia, huhuhu." Tangisan Intan semakin menjadi saat ia mengingat bahwa Zein adalah calon suaminya. Ia seolah kembali masuk ke dalam mimpi buruk.
"Kirain anak kecil aja yang bisa nangis karena takut dokter. Ternyata dokter juga bisa nangis," ucap seorang pria.
Mendengar suara pria, Intan menoleh ke arah sumber suara. 'Dia ngapain di sini, sih?' batinnya. Kemudian ia berusaha menghentikan tangisan dan menghapus air matanya.
"Kalau mau nangis mah nangis aja! Gak usah malu. Aku cuma bercanda, kok," ucap pria itu lagi.
Intan beranjak dan hendak meninggalkan tempat itu. "Annoying!" ucap Intan. Lalu ia pun pergi.
"Yakin mau pergi? Aku ada coklat, nih. Katanya sih cokelat bisa nenangin hati yang lagi galau," ucap pria itu.
Intan menoleh ke arah pria tersebut dan ia kenal betul siapa dia. "Buat kamu aja. Kayaknya kamu lebih butuh, tuh!" sahutnya, kemudian ia meninggalkan tempat itu.
Pria itu pun tersenyum. "Dia emang lain dari yang lain," gumamnya. Dia adalah Bian. Tadi Bian melihat Intan sedang kesal dan menuju rooftop. Sehingga ia sengaja membeli cokelat.
Namun ternyata ia malah ditolak oleh Intan. Akhirnya Bian hanya bisa tersenyum getir.
Sementara itu, Intan bergegas menuju toilet untuk membasuh wajahnya. Ia tak ingin ada orang lain melihat dirinya dalam kondisi sembab. Sebab, ia akan sangat malu jika mereka tahu bahwa dirinya baru saja selesai menangis.
Huuh!
Intan menghela napas saat selesai membasuh wajahnya.
"Gak sembab lagi, kan?" gumamnya sambil menatap wajahnya itu di cermin.
"Oke, mari kita lupakan sejenak Profesor gila itu. Sebagai dokter yang lebih waras, aku harus ngalah. Dan sekarang aku pun harus standby supaya si gila itu gak marahin aku lagi," gumam Intan. Setelah itu ia pun meninggalkan toilet tersebut.
Saat hendak meninggalkan toilet, Intan baru merasakan kakinya sakit. "Aduh!" keluhnya.
Ia lupa bahwa tadi dirinya menendang dinding dengan sangat kencang. "Ada-ada aja, sih!" Ia kesal pada dirinya sendiri. Namun Intan tetap melanjutkan jalannya. Dan hendak menuju ke ruang poli untuk standby di sana.
"Permisi ...," ucap Intan saat memasuki ruangan praktek Zein. Ia memang sudah diizinkan masuk ke ruangan itu untuk mengerjakan yang bisa ia kerjakan jika Zein sedang tidak ada.
Sambil menunggu Zein, Intan memelajari buku status milik pasien yang sudah mengantree di luar agar ia bisa menganalisa penyakit mereka.
Beberapa menit kemudian, Zein datang ke ruangan tersebut. Intan pun langsung berdiri.
"Siang, Prof," sapanya.
"Siang," sahut Zein. Sikapnya semakin dingin. Sebenarnya ia bersikap seperti itu karena tidak enak hati tadi sudah membentak Intan di ruangan operasi.
Intan yang duduk di salah satu kursi pun mendekat ke arah Zein. Kakinya yang sakit itu membuat jalan Intan sedikit tertatih. Hingga mengalihkan perhatian Zein.
"Kaki kamu kenapa?" tanya Zein, serius. Ia sangat yakin tadi Intan baik-baik saja. Sehingga Zein heran mengapa Intan tiba-tiba pincang seperti itu.
"Gak apa-apa, Prof," sahut Intan. Ia berusaha berdiri tegak agar Zein tak curiga.
"Tolong tutup pintu dan tunda poli!" pinta Zein pada suster. Lalu ia beranjak dan mendekat ke arah Intan.
Deg!
Intan menelan saliva. Ia panik karena khawatir Zein akan mencecarnya. Ia tahu betul calon suaminya itu selalu bertindak di luar dugaan.
"Duduk!" ucap Zein, ketus.
"Mau apa, Prof?" tanya Intan, gugup.
"Apa kamu tuli? Saya bilang duduk!" pinta Zein lagi. Ia kesal karena Intan ngeyel.
"Iya, Prof." Akhirnya Intan pun duduk dan menyembunyikan kakinya di kolong meja.
Namun, feeling Intan benar. Zein melakukan hal yang tak terduga. Ia tiba-tiba berjongkok di samping Intan dan berkata. "Mana kaki kamu? Saya mau lihat!" pinta Zein.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)
RomanceIntan yang sedang melaksanakan koas di rumah sakit Harapan Keluarga begitu benci pada konsulennya-Zein yang sangat galak dan selalu memarahinya jika melakukan kesalahan, sialnya ternyata mereka telah dijodohkan dan harus menikah. "Saya harap Prof bi...
