69. Sakit

47.7K 2.2K 70
                                        

Zein dan Intan terkesiap. Kemudian Zein menoleh ke balik pohon.

"Eh, ada Mas Bian. Kirain gak ada orang," ucap Zein tanpa dosa.

"Santai aja, Prof. Silakan dilanjut! Anggap aja gak ada orang," sahut Bian. Kemudian ia melirik ke arah Intan dan memalingkan wajahnya.

"Oke kalau begitu. Kami permisi dulu," jawab Zein. Ia malah sengaja bersikap seolah tak merasa bersalah.

"Ayo, Sayang!" ucapnya. Kemudian Zein merangkul Intan.

"Iyah," sahut Intan, kikuk. Meski ia tidak memiliki perasaan pada Bian. Namun ia tak enak hati melihat Bian seperti itu. Seandainya ia tahu atas apa yang telah suaminya lakukan pada Bian pagi tadi, mungkin Intan akan lebih mengasihani pria berseragam loreng itu.

Mereka pun meninggalkan Bian begitu saja. Sementara Bian menatap kepergian mereka dengan tatapan nanar.

"Argh!" pekiknya sambil meninju pohon. "Aawww!" keluh Bian karena tangannya terasa sakit. Ia pun langsung mengibas-ngibaskan tangannya itu.

"Sial!" Bian sangat kesal karena tidak ada yang mendukungnya termasuk pohon.

Akhirnya ia memilih untuk kembali ke markas. "Aku tidak akan pernah duduk di pohon itu lagi," gumam Bian, kesal. Padahal itu adalah tempat favoritnya sejak ia tugas di sana.

Namun sayang, tempat itu kini justru menjadi tempat yang menyedihkan.

Setibanya di markas, Bian langsung menyibukkan diri dengan berolahraga. Ia melakukan hal itu agar bisa melupakan Intan.

Akan tetapi, sampai keringatnya bercucuran pun bayangan Intan selalu ada di pikirannya. Apalagi suara yang ia dengar di rumah Intan tadi pagi, membuat hatinya terbakar api cemburu.

Anak buah Bian bingung mengapa komandannya olahraga sampai seperti itu.

"Komandan kenapa?" tanya salah seorang anak buah Bian pada temannya.

"Entahlah, sepertinya mood komandan hari ini kurang baik. Sejak pagi beliau terlihat murung," sahut temannya.

"Kasihan sekali. Kira-kira ada masalah apa, ya? Setahuku selama ini beliau tidak pernah seperti itu."

"Aku juga kurang tahu. Ya sudahlah, kita jaga-jaga saja. Aku hanya khawatir beliau pingsan. Sebab sudah sejak tadi Komandan tidak berhenti olahraga.

Saat ini hari sudah malam. Namun Bian masih terus berolahraga. Ia bahkan tidak tahu bahwa Intan sudah kembali ke Jakarta.

"Dan, ini sudah malam. Apa Komandan tidak ingin beristirahat?" tanya anak buah Bian.

Bian tak menggubrisnya. Pikirannya sedang kosong, sehingga tak mendengar ucapan anak buahnya itu.

Hingga beberapa menit kemudian, kesadaran Bian mulai berkurang. Pandangannya pun gelap dan ia tak sadarkan diri.

"Dan!"

Anak buah Bian berlari ke arahnya dan berusaha menyelamatkan Bian.

"Panggil dokter!" ucap salah satu anak buahnya.

"Ya Tuhan, kenapa Komandan sampai seperti ini?" gumam anak buah Bian itu.

Kebetulan saat itu di Markas sedang tidak ada dokter. Sehingga mau tidak mau anak buah Bian pergi ke rumah dinas Ira untuk minta pertolongan.

Ia menggunakan motor dinas yang ada di sana.

Tuk, tuk, tuk!

"Selamat malam Bu dokter!" ucap orang itu setelah mengetuk pintunya.

"Siapa sih malam-malam begini?" keluh Ira. Namun sebagai tenaga medis, ia harus siap 24 jam. Akhirnya Ira pun turun dari tempat tidur dan membuka pintunya.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang