Intan heran mendengar ucapan Zein barusan. "Maksudnya apa, sih? Apa secara gak langsung dia bilang kalau dia itu cinta sama aku?" gumam Intan. Ia merasa ucapan Zein barusan seperti pengakuan.
"Ah, mana bisa begitu. Kalau cinta ya harus bilang cinta. Masa diem-diem aja. Mana masih galak pula," keluh Intan. Ia masih tidak terima jika Zein belum mengungkapkannya dengan benar.
Beberapa saat kemudian, Zein pun keluar dari kamar mandi. "Ayo pulang!" ajaknya.
Intan tidak menjawab. Ia langsung berdiri dan membuntuti Zein.
"Mas duluan aja! Nanti aku lewat jalan lain," ucap Intan saat keluar dari ruangan Zein.
Zein menoleh ke arah Intan. "Kenapa? Kamu malu jalan sama saya?" tanya Zein.
Intan menghela napas. "Bukan begitu. Apa kata orang nanti kalau mereka lihat kita sering bersama? Kan kita harus merahasiakannya dari orang lain," ucap Intan.
"Kita atau kamu yang pingin pernikahan ini dirahasiakan?" skak Zein.
Intan menghentikan langkah dan menatap suaminya. "Emangnya Mas pingin banget pernikahan kita diumumkan, ya? Kenapa?" tanya Intan.
"Kamu kok nanya gitu, sih?" Zein sebal ditanya seperti itu oleh Intan.
"Ya kan Prof bilang cuma aku yang pingin pernikahan kita dirahasiakan. Berarti Mas maunya diumumkan, dong?" Intan membalikan ucapan Zein.
"Kamu nih, makin pinter aja balikin omongan! Ya udah sana kalau kamu gak mau jalan bareng saya! Tapi awas kalau saya lihat kamu ketemuan sama pria itu. Akan saya hukum, paham!" ancam Zein.
"Ya ampun, aku jadi berasa kayak anak kecil, pake dihukum segala," keluh Intan.
"Kamu kan memang masih kecil. Kuliah aja belum selesai," sahut Zein, gemas.
"Oh iya, ya. Aku jadi gak sabar pingin cepet-cepet ujian. Biar bisa magang. Siapa tau dapet yang jauh, hehe. Ya udah aku duluan ya, Mas," ledek Intan. Kemudian ia pun meninggalkan Zein.
Zein semakin kesal. "Kenapa dia malah senang kalau dapat yang jauh?" gumamnya. Ia tidak terima melihat Intan senang seperti itu. Padahal dirinya tidak rela jika Intan jauh apalagi harus ke perbatasan.
"Seandainya aku bisa membatalkan itu, pasti sudah aku buat dia magang di sini jadi asistenku lagi," ucap Zein, kesal.
Ia pun bergegas menuju parkiran. Zein tidak ingin memberi Intan waktu untuk bertemu dengan Bian sedikit pun.
"Sore, Prof!"
Sapa para suster yang berpapasan dengannya.
Salah satu dari mereka ada yang melihat Zein sering bersama Intan.
"Eh, Prof ada hubungan sama dokter Intan, ya?" tanya suster itu. Ia berbeda divisi dengan Zein dan Intan. Sehingga tidak tahu mengenai hubungan mereka.
"Enggak, ah. Kata siapa?" sahut suster.
"Aku sering lihat mereka naik mobil bareng. Tadi juga datang bareng. Tapi dokter Intannya ke mana, ya?" ucap suster itu.
"Mungkin lagi ada kerjaan aja kali. Makanya sama-sama. Kamu gak tau aja, mereka tuh kayak tom and jerry. Kasihan dokter Intan sering dimarahin Prof," jelas suster yang bekerja di ruang VIP.
"Oya?"
"Iya. Hampir setiap hari dimarahin. Malah minggu lalu pas lagi operasi, dokter Intan dibentak di depan umum." Ucapan suster itu membuat mereka percaya bahwa tidak ada hubungan spesial diantara Intan dan Zein.
"Wah, kirain punya hubungan. Tapi kasihan dokter Intan, ya. Masa dimarahin di depan umum?"
"Itu dia. Makanya aku tuh gak tega. Untung sih sekarang dokter Intan udah selesai koas. Jadi gak perlu ketemu beliau setiap hari."
"Iya, penderitaannya udah bebas, hehe."
Mereka tidak tahu bahwa penderitaan Intan masih berlangsung. Namun kali ini penderitaannya lebih manis.
Beberapa saat kemudian, Zein sudah tiba lebih dulu di parkiran. "Dia ke mana, sih? Lama sekali?" gumam Zein.
Ia yang tidak sabar itu mengetuk-ngetuk stir mobilnya. Zein kesal karena Intan tak kunjung terlihat batang hidungnya.
"Apa dia beneran ketemu sama pria itu?" gumam Zein. Ia yang mulai emosi pun keluar dari mobilnya, ingin mencari Intan.
Namun, saat Zein baru membuka pintu dan melangkahkan kaki, Intan pun muncul sambil berlari menuju mobil Zein.
"Itu dia," gumam Zein. Ia pun kembali menutup pintu mobilnya dari dalam.
"Maaf, Mas. Tadi aku ketemu dokter Dimas, terus beliau ngajak ngobrol. Aku gak enak buat ninggalinnya," ucap Intan dengan napas terengah-engah.
Ia pun terburu-buru masuk ke mobil Zein.
Zein menoleh ke arah Intan. "Kamu lebih tidak enak pada Dimas dari pada saya?" tanya Zein.
"Bukan begitu, Prof. Tapi kan dokter Dimas juga senior. Aku jadi bingung kalau begini," sahut Intan, memelas.
Melihat Intan seperti itu, Zein jadi tidak tega. Saat ia hendak menginjak gas, Zein melihat Bian berjalan dari arah yang sama dengan Intan tadi. Kemudian ia menoleh ke arah Zein.
"Kamu beneran habis ketemu Dimas. Bukan pria itu?" tuduh Zein.
Intan menatap Zein dengan tatapan datar. "Maaf ya, aku lagi PMS, bad mood. Jadi males berdebat. Terserah Mas mau percaya apa enggak, yang penting aku udah jelasin," ucap Intan, kesal. Kemudian ia memalingkan wajahnya.
Mendengar jawaban Intan, Zein pun percaya. Kemudian ia melajukan mobilnya. "Kita makan malam di luar, ya," ucap Zein.
Kali ini ia bersikap lebih lembut pada Intan.
"Iya," sahut Intan, singkat.
"Kamu mau makan apa?" tanya Zein.
"Apa aja," sahut Intan.
"Kenapa sih kamu selalu begitu? Sekali-kali kamu itu harus bilang apa yang kamu mau. Jadi saya gak asal pilih makanan. Kalau ternyata makanan yang saya pilih kamu gak suka, kan repot," keluh Zein.
Ia sebal karena Intan selalu menjawab seperti itu jika ditanya.
"Tapi aku emang lagi gak tau mau makan apa, Mas. Lagi gak pingin makan juga," sahut Intan.
"Ya udah kalau kamu gak pigin makan. Kita pulang aja!" ucap Zein, kesal. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumah.
"Ya kalau Mas pingin makan, makan aja. Biar aku temenin," ucap Intan.
"Gak usah, saya udah gak mood," sahut Zein. Lalu ia pun diam.
Akhirnya mereka kembali hening. "Dih, aku yang PMS kok dia yang sensi," gumam Intan, pelan.
"Apa kamu bilang?" tanya Zein.
"Gak apa-apa," sahut Intan tanpa menoleh ke arah Zein. Ia masih memalingkan wajahnya.
'Kenapa dia semakin berani melawan aku. Padahal dulu dia tidak seperti itu, apa aku terlalu baik padanya?' batin Zein.
***
Seminggu kemudian ....
Zein baru saja pulang dari masjid setelah melaksanakan shalat isya.
"Assalamu alaikum," ucapnya sambil masuk ke rumah.
Ia bingung mengapa Intan tidak menjawab salamnya. Zein pun mencari istrinya itu.
"Oh, lagi shalat," gumamnya saat melihat Intan sedang shalat di kamarnya. Zein pun kembali menutup pintu dan hendak pergi ke dapur karena haus.
Namun, saat Zein melangkah, ia teringat akan sesuatu. "Udah shalat lagi?" tanyanya dengan wajah berbinar.
***
Emang kenapa Zein kalau Intan udah shalat lagi? Wkwkwk,
See u,
JM.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)
RomanceIntan yang sedang melaksanakan koas di rumah sakit Harapan Keluarga begitu benci pada konsulennya-Zein yang sangat galak dan selalu memarahinya jika melakukan kesalahan, sialnya ternyata mereka telah dijodohkan dan harus menikah. "Saya harap Prof bi...
