Curiga

51.4K 2.2K 18
                                        

Intan terperanjat saat mendapatkan pertanyaan itu dari Zein. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Kan tadi udah dipijit sama Mas. Alhamdulillah langsung ilang sakitnya," sahut Intan tanpa menatap Zein.

Zein memicingkan matanya. "Apa tangan saya sangat ajaib sampai kamu langsung sembuh seperti itu?" tanyanya.

"Mungkin," sahut Intan. Setelah itu ia menyuap makanan ke mulutnya.

'Apa dia tidak sedang membohongiku?' batin Zein. Ia masih curiga pada Intan.

Saat sedang menikmati makanannya, Intan menatap Zein sambil tersenyum. Hal itu pun membuat Zein salah tingkah. "Ada apa?" tanyanya.

Intan mengulurkan tangannya dan mengusap sudut bibir Zein dengan jarinya. "Mas tumben makannya kayak anak kecil, berantakan," ucap Intan. Setelah itu ia menunjukkan tangannya yang terkena bumbu di bibir Zein, lalu menjilat tangan itu sendiri.

Tentu saja Zein semakin salah tingkah. Biasanya lelaki yang berbuat seperti itu terhadap wanit. Namun kini justru Intan yang melakukannya. "Apa kalau sedang haid kamu selalu agresif seperti ini?" tanya Zein. Ia merasa tertekan dengan sikap Intan. Sebab sikap tersebut selalu membuatnya salah tingkah karena malu.

"Agresif?" tanya Intan.

"Iya, sejak tadi saya rasa kamu sangat agresif. Tidak seperti biasanya," sahut Zein. Ia mengambil sambal lagi karena salah tingkah.

"Ohh, emang Mas lebih suka yang mana? Agresif apa pendiam?" tanya Intan sambil menatap Zein.

Zein menelan salivanya. "Kamu menantang saya?" tanya Zein. Tubuhnya terasa panas saat mendengar ucapan Intan barusan. Seandainya Intan tidak sedang berhalangan, sudah pasti ia langsung membuktikan seberapa agresifnya Intan.

"Kok nentang, sih? Aku kan cuma nanya, Mas," sahut Intan.

Zein yang sudah kesal pun akhirnya terdiam. 'Sial! Kenapa jadi aku yang tertekan seperti ini?' batin Zein. Akhirnya ia pun makan dalam diam. Kemudian meninggalkan meja makan begitu saja.

"Hem ... sampai kapan kamu mau gengsi terus, Mas? Apa salahnya ngaku cinta? Tapi maaf, aku sebagai wanita gak akan mau ngucapin duluan," gumam Intan sambil melirik ke arah suaminya yang sedang berjalan menuju ke taman samping rumah.

Intan melanjutkan makannya. "Tapi masakan dia enak juga. Ternyata tangannya bukan cuma pinter operasi, tapi pinter masak," ucapnya lagi.

Setelah selesai makan, Intan pun merapihkan meja makan dan mencuci piring.

"Kamu mau ngapain?" tanya Zein.

Intan menoleh. "Mau cuci piring, Mas," sahutnya.

"Kamu kan lagi sakit. Udah sana istirahat aja! Biar saya yang cuci piring," ucap Zein. Ia langsung merebut spons cuci piring yang ada di tangan Intan.

Intan pun menatap suaminya itu. Kemudian ia tersenyum. 'Dasar galak! Tapi perhatian. Bikin pingin meluk aja, deh,' batin Intan sambil mengulum senyuman.

"Apa saya sangat tampan sampai kamu memandangi saya seperti itu?" gumam Zein tanpa menoleh.

Jika dulu Intan gelagapan saat ditanya seperti itu, kali ini justru ia memberikan jawaban yang diluar dugaan Zein. "Iya, ternyata suamiku ganteng juga," sahut Intan. Kemudian ia mencuci tangannya dan berlalu.

Zein menoleh ke arah Intan yang sedang melenggang pergi. Dipuji sepeti itu, tentu saja hatinya sangat senang. "Dia mabok apa, sih?" gumamnya, kesal. Ia kesal karena selalu dibuat salah tingkah oleh istrinya itu.

"Ya Allah, berikan aku kesabaran dan kekuatan untuk mengalahkan ego suamiku," gumam Intan sambil menoleh ke arah Zein yang sedang mencuci piring itu.

Selesai mencuci piring, Zein mengambil minum karena tadi ia ke dapur memang untuk minum.

Setelah itu ia pun berjalan ke ruang tengah dan duduk di dekat Intan. "Mas kok gak ke rumah sakit?" tanya Intan.

"Gak apa-apa, lagi males aja," sahut Zein sambil pura-pura serius nonton televisi.

Intan kembali menoleh ke arah Zein. "Sejak kapan Profesor Zein jadi pemalas?" tanya Intan.

Zein pun menoleh ke arah Intan. "Sejak kapan kamu suka mencampuri urusan saya?" skak Zein.

"Sejak aku jadi istri Prof. Bukankah hal wajar seorang istri ingin tahu tentang suaminya?" balas Intan.

Zein tercekat. Ia bingung ingin mengatakan apa lagi. Beruntung saat mereka sedang bertatapan, ada telepon masuk di ponsel Zein. Ia pun merasa terselamatkan dan langsung menjawabnya.

Telepon terhubung.

"Ya halo?" ucap Zein.

"Halo, selamat sore, Prof. Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya. Saat ini di rumah sakit ada pasien darurat dan harus segera dioperasi. Apa Prof bisa segera ke rumah sakit?" tanya perawat yang ada di seberang telepon.

"Apa tidak bisa besok?" Zein balik bertanya.

"Tidak bisa, Prof. Kondisinya sudah kritis," jawab suster.

Zein terdiam sejenak, ia berat meninggalkan istrinya yang sedang kurang sehat itu. Apalagi saat ini Zein sedang nyaman bersama Intan. Namun ia tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja.

"Baiklah, saya akan ke sana sekarang," sahut Zein.

"Terima kasih, Prof."

Zein memutuskan sambungan teleponnya.

"Saya harus segera ke rumah sakit. Kamu gak apa-apa ditinggal sendirian?" tanya Zein.

"Gak masalah. Silakan pergi ke rumah sakit, urusan pasien jauh lebih penting," jawab Intan. Ia bicara serius. Namun Zein malah merasa tersindir.

"Maksud kamu?" tanyanya, heran.

Intan pun bingung dengan pertanyaan Zein. "Bener kan, Mas itu dokter. Jadi pasien jauh lebih penting dari pada aku. Apalagi kan aku cuma istri yang dinikahi tanpa cinta." Akhirnya Intan benar-benar menyindir Zein.

Zein menatap Intan dan ingin mengatakan bahwa dirinya tidak seperti itu. Ia sudah membuka mulut dan ingin mengatakan kalau dia mencintai Intan.

Namun, saat Zein baru mengeluarkan satu kata, kini giliran ponsel Intan yang berdering.

Intan pun melihat ponselnya dan ternyata Bian yang menghubunginya.

Sontak saja Zein meradang. "Sejak kapan kamu punya nomor ponsel pria itu?" tanya Zein. Ia semakin kesal karena ada foto Bian di layar ponsel Intan.

Foto itu berasal dari foto profil akun Bian, bukan Intan yang sengaja menyimpannya.

Intan pun bingung bagaimana cara mejawabnya. "Ini udah lama, kok. Sebelum kita nikah. Lagian dia juga gak pernah hubungin aku," sahut Intan.

"Terus kenapa dia hubungin kamu?" tanya Zein.

"Mana aku tau, kan aku belum jawab teleponnya," sahut Intan, kesal.

"Coba jawab!" Zein ingin tahu. Ia khawatir jika dirinya pergi, Intan pun akan pergi menemui Bian.

***

Hola ... FYI, aku ada rencana mau cetak buku ini. Tapi tenang aja, yang di WP atau Fizzo gak akan aku hapus, kok. Cuma ada sedikit perbedaan dari isi babnya aja.

See u,

JM.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang