Semakin Menyebalkan

50.9K 2.8K 64
                                        


"Saya mau minum ini. Nanti kan mau operasi, jadi butuh yang segar-segar supaya gak ngantuk," jelas Zein, kikuk. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya datang ke sana untuk menemani Intan makan.

"Ooh," sahut Intan, heran.

"Ya sudah, tolong cepat! Waktu kita tinggal lima menit," ucap Zein, santai.

Intan tidak menjawabnya. Ia pun buru-buru menghabiskan makanannya. Beruntung ia hanya memesan sandwich. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk menghabiskannya.

'Aku pikir dia berubah jadi malaikat. Tapi ternyata sama aja. Gila apa? Masa aku cuma dikasih waktu lima menit buat ngabisin ini?' batin Intan, kesal.

Zein tersenyum melihat Intan makan dengan cepat.

"Sudah selesai, Prof," ucapnya sambil mengunyah gigitan terakhir. Ia bahkan tak peduli dengan penampilannya ketika makan dengan cepat di hadapan Zein. Apalagi sandwich yang ia makan berukuran cukup besar. Hal itu membuat Intan harus membuka mulutnya lebar-lebar.

"Pelan-pelan makannya, ditelen dulu itu!" ucap Zein.

'What? Sekarang aku udah selesai makan, dia suruh pelan-pelan? Stress kali ni orang, ya?' batin Intan, kesal.

"Nih!" ucap Zein sambil memberikan tisu pada Intan.

Intan mengerutkan keningnya karena heran.

"Itu di bibir kamu ada saus. Apa perlu saya yang menghapusnya?" tanya Zein.

Sontak Intan langsung mengambil tisu itu dengan cepat dan segera menghapus noda di bibirnya. "Maaf, Prof. Terima kasih," jawab Intan.

Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. Ia merasa Intan sangat lucu.

"Oke, sekarang sudah waktunya bekerja," ucap Zein sambil beranjak. Ia bahkan tidak menghabiskan kopi yang ia pesan.

"Tadi katanya butuh minuman, tapi kenapa malah gak diminum? Aneh," gumam Intan, pelan.

Ia pun berjalan membuntuti Zein. Intan sungkan jika harus berjalan di samping Zein karena pria itu selalu memarahinya. Sehingga, jika Zein tidak menunggunya, ia tidak akan mengejar langkahnya dan tetap berjalan di belakang profesor itu.

"Apa kamu belum kenyang?" tanya Zein sambil menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya.

"Heuh?" Intan tidak paham dengan pertanyaan Zein.

"Jalanmu sangat lambat. Sepertinya kamu masih lapar?" tanya Zein lagi.

"Oh, enggak, Prof," sahut Intan. Ia bingung apa pun yang dilakukan selalu salah di mata Zein. Hal itu pun membuat Intan menjadi geram.

"Biasakan bergerak cepat! Jadi suatu saat jika kamu menemui kondisi darurat, kamu tidak akan bingung," ucap Zein sambil berjalan menuju ruang perawatan VIP untuk visit paisen yang sedang rawat inap.

"Baik, Prof," jawab Intan sambil berlari kecil mengejarnya.

Setelah itu, mereka pun mengunjungi setiap pasien yang dihandle oleh Zein.

"Selamat pagi," sapa Zein.

"Pagi, Prof," sahut pasien yang merupakan seorang pria muda. Ia langsung tersenyum saat melihat Intan muncul dari balik punggung Zein.

Zein langsung menoleh ke arah Intan. Ia bingung mengapa pasien itu tersenyum.

"Pagi dokter," sapa pasien tersebut sambil menatap Intan. Ia bahkan tak menghiraukan Zein.

"Pagi ... bagaimana kondisinya?" tanya Intan. Bukan bermaksud melangkahi Zien, ia hanya basa-basi karena sudah disapa.

"Baik ... dokter sendiri bagaimana? Apa sudah sarapan?" Pasien itu balik bertanya.

Zein mengerutkan keningnya. Ia sangat tidak suka melihat pasien itu genit pada Intan.

Belum sempat Intan menjawab, Zein langsung menyelak pembicaraan mereka. "Apa yang dirasa?" tanya Zein.

"Jantung saya berdebar kalau ketemu dokter Intan, Dok. Terus saya pun merasa kesepian kalau dokter Intan gak ada," jawab pasien itu.

Intan langsung mematung kaku. Ia malu mendengar jawaban pasien tersebut. Sementara itu Zein sangat geram. Ia kesal karena pria itu berani menggombali calon istrinya.

"Apa Anda butuh pemeriksaan jantung lanjutan?" tanya Zein, serius.

"Hehehe, maaf, Dok. Saya bercanda. Saat ini kondisi saya jauh lebih baik. Apalagi kalau dokter Intan yang mengunjungi saya," ucap pria itu sambil tersenyum ke arah Intan.

"Ehem! Syukurlah kalau begitu. Sepertinya hari ini Anda sudah bisa pulang. Nanti saya akan infokan ke bagian administrasi," ucap Zein.

"Baik, Dok. Terima kasih," jawab pria itu.

"Dokter Intan hari ini pulang jam berapa?" tanya pria itu lagi.

Zein yang sudah balik badan pun langsung menoleh. "Hari ini dokter Intan lembur. Mungkin baru pulang dini hari," jawab Zein. Lalu ia mengajak Intan keluar dari ruangan itu.

"Permisi!" ucap Zein.

Intan pun menganggukkan kepala ke arah pasien tersebut sebagai simbol pamit.

Saat mereka sudah berada di luar ruangan, Zein langsung komplain pada Intan. "Lain kali tolong jangan langkahi saya!" ucap Zein, kesal.

Intan mengerutkan alisnya. "Maaf, Prof. Maksudnya gimana, ya?" tanya Intan.

"Untuk apa tadi kamu bertanya padanya? Tugasmu hanya mengecek kondisinya. Bukan mendahului apa yang harus saya lakukan," ucap Zein, kesal.

Intan terkesiap. Ia tidak menyangka hal seperti itu akan membuat Zein sangat marah. Intan sadar bahwa tadi ia telah melangkahi Zein. Namun ia tidak akan melakukan hal itu jika tidak disapa lebih dulu oleh pasien tersebut.

"Maaf, Prof. Saya tidak akan mengulanginya lagi," jawab Intan. Ia malas menjelaskannya pada Zein. Bagi Intan, itu tidak ada gunanya karena Zein sangat keras kepala.

"Bagus," ucap Zein sambil kembali melanjutkan jalannya.

'Hiiiihh! Hati dia tuh terbuat dari apa, sih? Apa dia gak bisa hidup kalau sehari aja gak marahin aku?' batin Intan sambil mengepalkan kedua tangannya karena terlalu kesal pada Zein.

Zein tidak bisa menyampaikan maksudnya dengan benar. Sehingga selalu membuat Intan salah paham.

Setelah visit ke beberapa ruangan, mereka pun memulai praktek di poli.

Hari ini Intan diminta untuk menemani Zein di poli. Sehingga ia tidak bisa pergi ke mana-mana.

"Tolong kamu perhatikan baik-baik keluhan pasien. Hal ini bisa kamu jadikan acuan jika nanti kamu menghadapi pasien sendirian. Paham?" ucap Zein sambil duduk di kursinya.

"Paham, Prof," jawab Intan. Namun wajahnya terlihat tidak bersemangat.

Zein melirik ke arah Intan. "Kamu kenapa? Apa kamu tidak suka ikut praktek di poli? Kamu lebih suka jaga di ruang VIP, begitukah?" tuduh Zein.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang