74. Berita Baik

40.8K 2.2K 36
                                        

Intan gelagapan saat diledek seperti itu. Ia khawatir mereka mencurigainya. "Heuh?"

"Hehehe, bercanda, Dok. Serius banget, deh. Kita juga taulah. Gak mungkin dokter mau sama Prof yang galak itu," ucap salah seorang suster.

"Hehehe." Intan hanya bisa tersenyum getir. Sebab faktanya Prof yang disebut galak itu adalah suaminya.

"Ya udah aku duluan, ya," ucap Intan lagi. Kali ini dia benar-benar pergi meninggalkan mereka.

"Heh, kalian gak ada yang lihat?" tanya salah seorang suster.

"Lihat apa?" tanya yang lain.

"Itu tadi aku lihat tangan Prof tuh nyentuh tangannya dokter Intan. Terus kayak dicoleh gitu, lho."

"Ah masa? Kebetulan aja kali, tuh. Gak sengaja. Kan tau sendiri Prof itu jaga jarak sama orang lain. Mana mungkin beliau sengaja nyentuh?"

"Ya gak tau juga, sih. Tapi kayaknya aku lihat begitu tadi."

"Mungkin kamu salah lihat. Udah sarapan belum?"

"Hehehe, iya kayaknya lapar, nih."

Akhirnya mereka tidak ada yang percaya bahwa Zein menyentuh tangan Intan. Padahal memang seperti itu adanya.

Saat pintu lift yang Zein masuki hampir tertutup, Intan muncul. Zein pun segera menahannya agar istrinya itu bisa masuk.

"Terima kasih, Prof," ucap Intan sambil tersenyum meledek.

Zein memicingkan matanya ke arah Intan sambil menekan tombol untuk menutup lift.

Saat pntu lift tertutup, Zein pun langsung merangkul pinggang Intan dan mencium pipinya. "Gak usah ngeledek! Nanti aku sun di depan orang banyak. Mau?" ancam Zein.

Ia berani melakuakn hal itu karena di lift tersebut sedang tidak ada orang.

"Hehehe, jangan, dong! Bisa heboh nanti. Udah ah lepasin! Masa gadis berhijab dipeluk sama cowok," canda Intan sambil tersenyum simetris.

Zein pun terkekeh. "Apanya yang gadis? Kegadisan kamu udah aku ambil," ucap Zein, bangga.

"Cih! Ngambil secara paksa aja bangga," cibir Intan.

"Emang kamu terpaksa? Kayaknya enggak, deh," sahut Zein sambil meledek Intan. Ia ingat betul kala itu awalnya Intan memang kaku. Namun kemudian ia malah menikmati permainan suaminya itu.

'Udah deh, Mas! Gak usah ngeledek, ah. Aku bete," ucap Intan, kesal. Padahal ia yang awalnya meledek Zein.

Ting!

Pintu lift terbuka. Zein pun tidak melanjutkan ledekannya. Ia keluar dari lift sambil menggandeng tangan Intan.

"Mas!" Intan protes.

"Kamu nih kebanyakan protes. Udah di sini sepi. Gak mungkin ada yang lihat," ucap Zein. Ia pun terus menggandeng Intan sampai ke ruangan papahnya. Zein yakin koridor menuju ruangan papahnya memang sepi. Sebab di sana hanya ada ruangan-ruangan petinggi rumah sakit.

Beberapa saat kemudian Zein dan Intan sudah tiba di ruangan Muh. "Assalamu alaikum, Pah," ucap Zaki.

"Waalaikum salam," sahut Muh. Ia senang karena anaknya itu sudah datang.

"Lho, Mamah kok ada di sini?" Zain bingung saat melihat mamahnya.

"Iya, kebetulan tadi Mamah abis ada acara, sekalian aja mampir," jawab Rani.

"Sayang, apa kabar kamu?" sapa Rani sambil memeluk Intan.

"Alhamdulillah baik, Mah," jawab Intan. Ia pun senang bisa bertemu dengan orang tuanya di sana.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang