68. Hutang Budi

41.6K 2.1K 46
                                        

Tuk, tuk, tuk!

Pintu rumah Intan diketuk. Intan dan Zein yang baru saja hendak makan pun menoleh.

"Siapa ya, Mas?" tanya Intan.

"Biar Mas yang buka!" sahut Zein. Ia khawatir Bian yang datang lagi ke rumah itu.

Zein pun beranjak dan membuka pintunya.

Ceklek!

"Bagus, ya! Gara-gara Abang. Aku jauh-jauh dari Singapura jadi dikirim ke sini!" ucap Ira sambil berkacak pinggang.

Zein langsung tersenyum. "Tunggu! Maksudnya gimana, ya?" tanyanya. Sebenarnya ia sudah dapat menebaknya. Namun Zein masih ingin memastikan hal itu lagi.

"Halah! Gak usah pura-pura gak ngerti, deh! Aku dikirim ke sini buat gantiin Mbak Intan. Puas!" ucap Ira, gemas.

"Alhamdulillah ... jadi istriku sudah bisa pulang?" tanya Zein. Ia sangat bersyukur karena sudah ada yang menggantikan istrinya. Zein tak peduli meski itu adalah adiknya.

"Ya ampun, Mbak! Lihat itu suaminya. Masa tega mau ninggalin adiknya di sini sendirian?" keluh Ira.

Intan tersenyum. "Tapi makasih ya, Ra. Aku juga seneng kalau bisa pulang ke Jakarta," jawabnya.

Ira ternganga. "Astaga ... aku menyesal telah menerima tawaran ini. Kalau begitu aku mau telepon Papah aja. Biar semuanya batal!" ucap Ira sambil mengambil ponselnya.

"Eits! Kamu kan abis perjalanan jauh, lebih baik masuk dulu!" ucap Zein sambil mengambil ponsel adiknya itu.

"Nah, gitu, kek! Masa ada tamu datang dari tadi gak disuruh masuk?" keluh Ira.

"Iya maaf. Abang terlalu happy lihat kamu ada di sini," sahut Zein sambil menarik koper Ira.

"Happy aku ada di sini apa happy karena aku mau gantiin Mbak Intan?" tanya Ira, kesal.

"Dua-duanya, hehe," sahut Zein.

"Cih, dasar kanebo!" ucap Ira, sebal.

Ia sudah tahu bahwa kakaknya itu dijuluki sebagai kanebo. Sebab, kadang-kadang lembut, kadang-kadang kaku.

"Kamu udah makan belum? Kalau belum, ambil nasinya sana! Kita makan sama-sama," ajak Zein.

"Ya belumlah, makan di mana, coba? Di sini gak ada resto," sahut Ira.

"Tenang aja! Nanti Abang pesenin catering. Jadi kamu gak usah khawatir masalah makanan!" ujar Zein.

"Asiikk, gitu dong! Sekalian bayarin, ya!" pinta Ira.

"Tenang! Selama kamu di sini, urusan akomodasi biar aku yang bayar!" sahut Zein. Ia memberikan itu sebagai reward karena adiknya telah membantunya.

"Cih! Giliran ada maunya aja baik banget," cibir Ira sambil menjebik. Kemudian ia pun mengambil nasi dan makan bersama mereka.

"Kalian ini hemat piring atau emang sok romantis, ya?" sindir Ira saat melihat Intan dan Zein makan sepiring berdua.

"Kamu gak akan tau bagaimana nikmatnya makan sepiring berdua. Apalagi kalau sambil disuapi kayak gini," ucap Zein. Kemudian ia menyuapi Intan.

"Dasar gak ada akhlak! Udah tau aku sendirian, pake pamer segala," keluh Ira. Ia sebal melihat tingkah kakaknya itu.

Zein dan Intan tersenyum melihat kelakuan Ira.

Intan sendiri sudah mengenal Ira sejak pernikahannya dengan Zein.

"Oh iya, tadi tuh aku ada cerita yang bikin aku gondok, deh," ucap Ira sambil menikmati makanannya.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang