92. Terpaksa Berbohong

35.3K 2.1K 59
                                        

Seperti biasa, mereka berdamai ketika sudah selesai bercinta.

"Mas kenapa sih selalu begitu?" tanya Intan, manja. Ia sebal karena Zein selalu menyalahkannya setiap kali ada pria yang mendekatinya.

"Maaf ya, Sayang. Mas terlalu cinta sama kamu jadinya cemburu buta. Mas janji akan berusaha untuk lebih mengontrol emosi," jawab Zein.

Sebenarnya ia pun tidak ingin seperti itu. Namun entah mengapa jika sedang cemburu dirinya selalu kehilangan kendali. Sehingga pikirannya negatif terus.

"Tapi tolong jangan diulangi lagi ya, Mas! Kalau gak, nanti aku kabur beneran," ancam Intan.

"Iya, maaf. Jangan pernah tinggalin aku, ya? Aku gak sanggup," bisik Zein sambil mendekap istrinya.

Mereka lupa memiliki janji dengan Rani. Bahkan sejak tadi ada panggilan masuk di ponsel Zein, pria itu terus menolak dan menonaktifkan ponselnya.

Intan mengerutkan keningnya. "Mas, kayaknya ada yang kurang, deh. Apa, ya?" tanya Intan.

Ia merasa ada sesuatu yang perlu dilakukan.

"Apa?" sahut Zein tanpa dosa.

"Oh iya, tadi banyak telepon masuk. Dari siapa, Mas? Coba dicek! Siapa tau penting," pinta Intan.

Zein menuruti permintaan istrinya. Ia mengambil ponsel dan mengecek panggilan yang tadi sempat ia tolak.

"Mamah. Mau ngapain, ya? Tumben telepon sampe berulang kali gini," gumam Zein. Ia masih belum sadar.

"Mamah?" tanya Intan, santai. Namun kemudian ia ingat akan janjinya pada Lena.

"MAMAH?" pekiknya. Ia bahkan langsung melompat duduk. "Aww!"

"Hati-hati, Sayang!" tegur Zein. Ia khawatir kandungan Intan kenapa-kenapa jika istrinya itu asal bergerak.

"Mas! Kita kan punya janji sama Mamah," ucap Intan, panik.

"Astaghfirullah, iya. Aku lupa," sahut Zein. Mereka pun heboh. Bergegas mandi dan shalat dzuhur.

Beruntung tadi asisten rumah tangga sudah masak. Sehingga Intan membawa bekal untuk mereka makan di jalan.

"Kamu sih kebiasaan banget! Tiap berantem pasti ujungnya ke situ," keluh Intan sambil menyiapkan bekal.

"Udah gak usah protes! Kamu juga nikmatin, kan. Ini aku mau telepon mamah dulu. Semoga Mamah masih di sana," jawab Zein. Ia mengambil minum sambil berusaha menghubungi mamahnya.

Telepon terhubung.

"Astaghfirullah, Zeiiinnnn! Kamu itu nyasar ke mana, sih? Dari tadi ditelepon gak diangkat-angkat. Yang ada malah direject. Kamu sengaja mau bikin Mamah jamuran di sini?" pekik Rani.

Ia sudah sangat gemas pada anaknya itu. Sebab sejak tadi mereka berdua sulit dihubungi.

Bahkan Zein sampai menjauhkan telepon dari telinganya karena suara Rani sangat kencang.

"Iya maaf, Mah. Tadi Intan kelaparan makanya kami makan dulu. Ini baru selesai mau meluncur ke sana. Tunggu sebentar ya, Ma!" sahut Zein.

Mendengar nama menantunya disebut, Rani pun tidak protes. "Awas kalau lama, ya!" ancam Rani.

"Iya."

Telepon terputus.

"Udah, Sayang?" tanya Zein.

"Udah, ayo jalan!" sahut Intan.

Mereka pun bergegas meninggalkan rumah.

Sambil di jalan, Intan menyuapi suaminya. Ia pun makan karena merasa sangat lapar.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang