100. Ending

97.1K 2.3K 150
                                        

Hola ... ini adalah bab terakhir, ya ... di bawah ada catatan dari aku, tolong dibaca, hehe.

***

Melihat suaminya siuman, Intan pun sangat bahagia. "Mas! Maafin aku," ucap Intan sambil memeluk Zein.

Zein tersenyum. Ia senang karena Intan sudah tidak marah padanya. "Kamu gak perlu minta maaf, Sayang. Mas yang seharusnya minta maaf," sahut Zein.

"Tapi kan gara-gara aku, kamu jadi sakit kayak gini," ujar Intan.

"Udah, aku gak apa-apa. Ini cuma karena kurang kasih sayang sama belaian kamu aja," ucap Zein.

Intan langsung mengerungkan wajahnya. "Mas!" tegurnya. Ia tidak enak hati pada Muh dan Rani.

Sementara itu mertua Intan geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. "Sepertinya kamu sudah sembuh," sindir Rani.

"Sembuh kalau dirawat istri sendiri, Mah," jawab Zein sambil tersenyum.

"Mass! Lagi sakit juga. Sempet-sempetnya bercanda, deh," keluh Intan.

"Tapi aku serius, Sayang," ucap Zein sambil menatap istrinya.

"Ya udah deh, mamah nyesel tadi udah panik. Sekarang mendingan kita pulang yuk, Pah!" ajak Rani. Ia tahu anaknya itu sedang butuh waktu berdua. Apalagi ia telah diabaikan oleh Intan seminggu lamanya.

"Ayo, Mah! Yang penting kamu baik-baik aja," sahut Muh. Ia pun malas berada di sana terlalu lama.

"Alhamdulillah," ucap Zein sambil tersenyum.

"Kamu nih!" Rani langsung menepuk kaki Zein. Ia kesal karena anaknya itu tidak punya malu.

Mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu. Kini hanya tersisa Zein dan Intan.

Zein menggenggam tangan istrinya. "Sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Zein. Ia seperti sudah lama tidak bertemu dengan istrinya itu.

"Aku juga, Mas," jawab Intan. Kemudian ia memeluk kembali suaminya itu.

"Kalau kangen, kenapa kemarin kamu nyuekin aku terus?" tanya Zein, manja.

"Abisnya kamu tega jahatin aku. Aku kesel," sahut Intan, tidak kalah manja.

"Iya, aku minta maaf. Itu kesalahan terbesar aku. Tapi aku mohon, jangan nyuekin aku kayak gitu lagi, ya? Lebih baik kamu pukul atau hajar aku! Dari pada dicuekin begitu, sakit banget rasanya," lirih Zein.

Intan mengangguk. "Gak akan, Mas. Lihat kamu pingsan tadi aja, aku nyesel banget. Rasanya pingin mutar waktu dan gak akan nyuekin kamu lagi. Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Intan.

Zein tersenyum. "Takut aku mati?" tanyanya.

"Hus! Kamu nih kok ngomongnya sembarangan, sih?" tegur Intan. Ia tidak ingin mendengar kalimat itu.

"Tapi bener, kan?" tanya Zein lagi.

"Iya. Tapi gak usah diomongin, lah!" Intan sebal karena Zein membahas hal itu.

Zein mendekap istrinya. "Ya udah, doain aja biar umur Mas panjang. Jadi kita bisa sama-sama terus," ucap Zein.

"Aamiin," sahut Intan.

"Kamu tau gak biar Mas panjang umur gimana caranya?" tanya Zein.

"Gimana?" Intan balik bertanya.

Zein pun membisikkan sesuatu pada istrinya itu.

"Maass! Kamu nih abis pingsan juga sempet-sempetnya bahas itu. Ya ampun!" Intan sebal karena suaminya itu sangat genit.

"Tapi emang begitu. Kan kalau dikasih jatah, aku jadi happy. Semakin aku happy, imun aku semakin meningkat. Makanya kalau kamu mau aku panjang umur. Sering-sering kasih jatah!" ucap Zein sambil mengedipkan sebelah matanya.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang