90. Digoda Pasien

36.6K 2.2K 94
                                        

Seketika wajah Intan merona. Ia sangat malu ketika diingatkan akan hal yang ia sendiri sulit untuk melupakannya itu.

"Iih, Mas ngapain nginget yang kayak gitu, sih? Gak penting banget, deh," keluh Intan. Ia langsung memalingkan wajah karena malu.

Melihat reaksi Intan, Zein pun senang. Ia berdiri dan mendekat ke arah suaminya. "Gak penting gimana? Justru itu sangat penting dan membuat aku jadi ingin segera menghalalkan kamu," bisik Zein.

Tubuh Intan langsung meremang. Sontak ia menoleh ke arah Intan. "Maksudnya?" tanya Intan.

"Karena kamu sudah membangunkan naga yang sedang tidur. Jadi aku ingin minta pertanggung jawaban dari kamu. Tapi kan gak mungkin aku melakukannya sebelum halal," jelas Zein.

Kening Intan mengerut. "Oh, jadi Mas nikahin aku cuma karena itu?" tanyanya, kesal.

"Itu cuma salah satu dari sekian banyak alasan. Cuma sekarang aku penasaran, kenapa kamu berani membangunkan naga yang sedang terlelap? Padahal kamu tahu sendiri semburannya bisa berakibat fatal," ucap Zein sambil merangkul pinggang Intan dengan kedua tangannya.

"Ya aku gak sengaja, lah. Itu kan refleks karena kamu kesakitan, makanya aku elus sambil ditiupin biar sakitnya hilang," sahut Intan, gugup.

"Tapi kamu tau gak efeknya? Memang sakitnya hilang. Cuma malah jadi menimbulkan dampak yang lain," ucap Zein.

"Mulai, deh. Mulai ...!" Intan sebal karena Zein selalu seperti itu.

"Hehehe, lagian kamu duluan yang mulai. Aku kan cuma ngelanjutin."

"Cih! Tapi kalau ingat gimana reaksi kamu waktu itu. Aku langsung dibentak, bahkan wajah kamu sampai merah padam saking marahnya," ucap Intan sambil menjebik.

"Itu bukan marah. Aku kesal karena kamu telah memancing gairahku!" skak Zein.

Intan menggigit bibir bawahnya. "Kok bisa?" tanyanya.

"Ya aku kan normal. Coba sakarang kamu pancing! Pasti naganya langsung bangun lagi dan siap menyembur," ucap Zein, nakal.

"Udah, ah! Aku sampe lupa, kan. Aku tuh ke sini karena mau bilang siang ini Mamah minta kita buat fitting gaun pengantin," ucap Intan, gemas.

"Oh, aku kan gak pake gaun, Sayang," sahut Zein.

"Oh, ya udah nanti aku pergi sendiri aja!" ucap Intan, sebal.

"Duh, gitu aja ngambek. Aku kan cuma bercanda. Ya udah nanti kita ke sana. Aku juga kan harus fitting tuxedo," lanjut Zein.

"Ya udah, nanti kita ketemuan di mana?" tanya Intan.

"Nanti aku jemput ke ruangan kamu," jawab Zein.

"Oke, selamat bekerja, Sayang." Intan pun pamit. Sambil mengecup pipi suaminya.

"Gak semangat kerjanya kalau cuma itu," sahut Zein, manja.

"Terus?"

"Ini!" Zein menyodorkan bibirnya.

"Hiih, ngelunjak, deh!" Meski begitu, Intan tetap mau mengecup bibir suaminya itu.

Cup!

Zein langsung menahan tengkuk Intan dan mencumbunya.

"Kalau begini baru semangat," ucap Zein sambil mengusap bibir Intan dan melemparkan senyuman padanya.

"Dasar!" Akhirnya Intan pun pergi dari ruangan itu sambil menunduk. Ia malu, khwatir lipstick yang ia pakai berantakan.

Zein langsung berjalan ke arah wastafel yang ada di ruangannya. Kemudian ia bercermin sambil mengusap bibirnya yang ternoda oleh lipstick itu.

"Permisi!" ucap suster yang masuk ke ruangan Zein.

Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang