Uhuk, uhuk!
Intan yang sedang mengunyah makanan itu langsung tersedak. Bak tersambar petir di siang bolong, ia sangat terkejut mendengar bahwa dirinya akan dijodohkan dengan profesor yang paling ia benci itu.
'Aku yakin ini pasti mimpi. Mana mungkin aku menikah dengan manusia jahat seperti itu? Oh no! Itu bagaikan musibah,' batin Intan sambil meneguk air mineral.
Ia tidak berani mengatakan apa pun karena khawatir penyakit ibunya kumat.
Sementara itu Zein masih berusaha bersikap tenang meski sebenarnya ia pun tak kalah terkejut dari Intan. 'Mimpi apa aku harus menikahi gadis manja seperti itu?' batin Zein. Ia tidak mengatakan apa pun, sehingga Muh dan Rani menganggap bahwa Zein setuju dengan perjodohan ini.
"Emm ... sepertinya kalian berdua tidak keberatan? Wajar, sih. Kalian kan sudah saling mengenal, jadi tidak sulit untuk membangun chemistery. Bukan begitu?" ujar Rani tanpa dosa.
Padahal, jangankan chemistrery. Sekadar hubungan baik antara konsulen dan koas saja tidak ada. Mereka lebih sering berdebat meski hanya karena hal sepele.
"Saya juga senang kalau kalian berdua setuju," timpal Fatma yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Apalagi saya, Bu. Almarhum ayahnya Intan pun pasti akan bahagia jika mengetahui hal ini. Sebab beliau pernah menitipkan Intan pada saya. Semoga Zein bisa menjaga amanah ini, ya?" ujar Muh dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
Zein hanya tersenyum getir. Ia ingin menolak, akan tetapi dirinya yang menjunjung tinggi etika itu tidak mungkin langsung menolak di hadapan Fatma begitu saja. Jika hanya Intan mungkin ia tidak akan peduli. Namun ia memikirkan perasaan Fatma yang sebelumnya memang pernah ia kenal itu.
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dan berpamitan di depan restoran tersebut. "Zein, apa kamu bisa mengangtar Intan dan Bu Fatma?" tanya Muh. Ia tidak tega melihat dua wanita itu pulang berdua.
Zein terlihat keberatan. Ia tidak ingin mengantar Intan karena khawatir gadis itu akan merasa diperhatikan. Menyadari hal itu, Intan pun segera menjawab ucapan Muh.
"Gak usah, Om. Saya bawa motor," sahut Intan. Saat ini ia pun tidak ingin terlalu dekat dengan makhluk paling menakutkan baginya itu.
"Wah, tapi gak apa-apa kalian naik motor berdua malam-malam begini?" tanya Muh.
"Gak apa, Om. Aku udah biasa, kok. Bahkan biasanya aku pulang dini hari dari rumah sakit," ucap Intan sambil melirik ke arah Zein. Ia sengaja menyindir konsulen yang menurutnya tidak punya perasaan itu.
"Ya Tuhan, itu berbahaya sekali. Zein, kamu gimana, sih? Masa kamu biarin Intan pulang malam sendirian?" Muh protes pada Zein. Ia menganggap anaknya keterlaluan karena itu sangat berbahaya.
"Papah kayak gak tau aja. Kalau lagi koas kan emang gitu. Dokter lain juga gak ada yang ngeluh, kok. Ya ... kecuali kalau emang manja," sindir Zein. Ia kesal karena Intan mengadu.
"Ya udah, kami duluan ya, Om?" Intan bergegas pamit. Ia tidak ingin berdebat dengan calon suaminya itu.
"Oke, hati-hati!" sahut Muh. Mereka pun pulang ke rumahnya.
Tiba di rumah Muh, Zein langsung protes pada orang tuanya itu. "Apa Papah dan Mamah tidak salah? Dia itu masih kecil, Pah. Bahkan masih banyak yang harus ia lalui untuk menjadi dokter."
"Why not? Bukankah dulu kalian cukup dekat? Apa kamu lupa, Zein? Kamu bahkan dulu sangat menyayangi Intan," ujar Muh. Tadi mereka tidak sempat membahas masa lalu karena hari sudah cukup malam.
"Apa?" Zein mengerutkan keningnya. Ia seolah tak percaya atas apa yang Muh katakan.
"Kamu ingat ibunya Intan kan, Tante Fatma?" Muh berusaha membangkitkan ingatan Zein.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)
RomansaIntan yang sedang melaksanakan koas di rumah sakit Harapan Keluarga begitu benci pada konsulennya-Zein yang sangat galak dan selalu memarahinya jika melakukan kesalahan, sialnya ternyata mereka telah dijodohkan dan harus menikah. "Saya harap Prof bi...
