"Sore, Dok!" sapa Intan. Ia masih menghormati dokter itu sebagai atasannya. Ia pun tidak tahu bahwa Zein sudah menemui dokter itu.
Tentu saja hal itu membuat kepala dokter tersebut semakin ketar-ketir. Apalagi saat Zein melirik ke arahnya dengan tatapan sinis.
"Dok! Saya mau minta maaf karena sudah bersikap kurang baik pada dokter Intan. Saya tidak bermaksud seperti itu," ucap dokter itu, gugup.
"Lho, gak perlu minta maaf, Dok. Emang sayanya yang masih amatir. Justru saya yang harus minta maaf karena sudah membuat semuanya jadi berantakan," jawab Intan.
Ucapan Intan barusan membuat dokter itu tidak enak hati. "Tidak, Dok. Saya yang salah karena telah menempatkan dokter Intan di IGD. Besok saya akan atur lagi penempatannya. Dokter Intan sedang mengandung, jadi akan saya tempatkan di ruangan yang tidak terlalu sibuk," ucap dokter itu, gugup.
"Tidak perlu. Nanti saya sendiri yang akan memilih posisinya," ucap Zein. Setelah itu ia mengajak Intan pergi.
Zein masih kesal pada orang itu. Sehingga ia bersikap angkuh di depannya.
Dokter itu pun tercekat. Ia yakin bahwa saat ini Zein masih marah padanya. Ia pun khawatir Zein akan benar-benar menurunkan jabatan dan memecatnya.
"Mas, kok gitu ngomongnya?" tanya Intan saat mereka sudah jauh dari dokter itu.
"Memangnya kamu mau aku ngomong apa, hem?" Zein balik bertanya.
"Ya kalau gak bisa ngomong baik-baik, lebih baik gak usah ngomong apa-apa," sahut Intan.
"Memangnya ucapanku tadi ada yang gak baik?" tanya Zein sambil menatap istri yang sedang ia gandeng itu.
Intan pun mengingat kembali ucapan Zein. "Ya gak ada, sih. Tapi ekspresi wajah sama nada bicaranya sinis banget," ucap Intan.
"Itu belum seberapa. Dia udah hampir nyelakain istri dan calon anakku. Gak aku pecat aja udah bagus," jawab Zein. Kemudian ia merangkul Intan dan berjalan keluar dari lobby.
Sementara itu, sejak tadi begitu banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
"Jadi gossip itu bener, ya?" tanya salah seorang suster.
"Iya, itu buktinya. Gak nyangka banget Prof jadi sama dokter Intan."
"Aku sih udah nyangka. Soalnya beberapa kali lihat mereka barengan."
"Ya tapi kan sebelumnya Prof itu konsulen dokter Intan. Wajarlah kalau barengan."
"Tapi kan selama ini Prof sering jadi konsulen dan gak pernah tuh ada yang sedeket itu."
"Iya juga, ya. Tapi aku denger-denger dulu itu Prof galak banget sama dokter Intan, lho."
"Oya?"
"Iya! Bahkan dokter Intan sering dibentak di depan umum."
"Wah, berarti ketula tuh Prof. Kena karma, ya. Sering dimarahin. Sekarang malah dinikahin, hihihi."
"Dinikahin Profesor Galak, hihihi."
Mereka malah asik bergosip.
Sementara itu, Zein dan Intan sudah ada di jalan.
"Sayang, hari ini mau makan apa?" tanya Zein.
"Gak tau, Mas. Tapi aku lagi males masak, deh," sahut Intan.
"Siapa yang mau nyuruh kamu masak, Sayang? Mas kan cuma nanya kamu mau makan apa. Lagian kamu lagi kelelahan begitu. Mana mungkin Mas tega nyuruh kamu masak, hem?" sahut Zein, gemas.
"Hehehe, ya enggak, ini aku cuma ngomong aja sama kamu. Tapi aku juga lagi males makan di luar. Maunya istirahat aja," jawab Intan.
"Tapi kamu tetep harus makan lho, Sayang!" ucap Zein.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)
RomanceIntan yang sedang melaksanakan koas di rumah sakit Harapan Keluarga begitu benci pada konsulennya-Zein yang sangat galak dan selalu memarahinya jika melakukan kesalahan, sialnya ternyata mereka telah dijodohkan dan harus menikah. "Saya harap Prof bi...
