51. Rahasia Zein

48.7K 2.4K 32
                                        

Intan terkesiap saat ditanya seperti itu oleh Rani. "Euh, enggak kok, Mah. Masa kasar sama istri sendiri?" sahut Intan, kikuk.

Ia tidak mungkin mengadu pada Rani. Khawatir jika Zein tahu maka dirinya pula yang akan disalahkan.

"Syukurlah kalau begitu. Soalnya selama ini kan kamu tahu sendiri Zein itu agak sulit ramah sama orang baru. Mamah kira dia bakalan jutek atau galakin kamu. Bagus deh kalau enggak," jawab Rani. Ia senang karena Zein ramah pada Intan.

Intan tersenyum getir karena sebenarnya tebakkan Rani memang benar. Selama ini Zein selalu jutek padanya.

"Tan, Mamah cuma mau ngasih tau. Mungkin Zein ini bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan perasaan. Dari dulu dia selalu begitu. Tapi dia bisa menunjukkannya dengan tindakan. Jadi, mamah harap kalau misalnya Zein belum bisa ngasih kalimat manis atau kata-kata cinta ke kamu, mohon dimaklumi," pinta Rani.

"Bukan berarti dia gak cinta, dia cuma sulit untuk mengatakannya. Banyak kok pria yang seperti itu. Lebih menunjukkan dengan sikap dari pada ucapan. Menurut kamu, sikap Zein selama ini bagaimana? Apa dia perhatian sama kamu?" tanya Rani lagi.

Intan tersenyum. "Jujur ya, Mah. Awalnya emang aku berharap suamiku itu bisa jujur dan mengatakan perasaannya. Tapi makin ke sini aku makin sadar. Mungkin aku tidak bisa terlalu menuntut karena dia sudah menunjukkannya dengan sikap," jawabnya.

Rani senang karena Intan bisa memahaminya. "Syukurlah kalau begitu. Mamah ikut senang mendengarnya. Tapi sebenarnya ada rahasia yang mamah pingin kasih tau sama kamu," ucap Rani.

Wajah Intan berubah jadi kaku. Ia khawatir rahasia ini ada hubungan dengan mantan kekasih Zein. "Apa, Mah?" tanya Intan.

Rani tersenyum. "Kamu kenapa jadi tegang begitu, sih? Santai aja, Tan! Lagian ini rahasianya so sweet, kok," sahut Rani.

"Hehehe, maaf. Aku cuma penasaran, Mah," jawab Intan malu-malu.

"Jadi gini ... kamu inget gak waktu Mamah minta pernikahan kalian dimajuin?" tanya Rani.

"Iya inget. Kenapa, Mah?" Intan balik bertanya.

"Jadi sebenarnya kami sengaja ingin kalian menikah secepatnya karena Zein memaksa kami untuk melamar kamu dalam waktu dekat," ujar Rani.

Intan ternganga mendengarnya. "Oya? Bukannya waktu itu Om dan Tante yang minta buru-buru?" tanyanya.

Rani menggelengkan kepala. "Meski kami yang menjodohkan kalian, kami berencana ingin melamar kamu setelah kamu ujian nanti. Tapi ternyata Zein minta dimajukan dalam waktu yang sangat dekat. Awalnya kami sempat menolak. Namun Zein tetap memaksa. Ia mengeluarkan seribu alasan agar kami mau menyetujuinya."

"Setelah kami pikir-pikir dan kami lihat bagaimana sikap Zein ke kamu, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menikahkan kalian saat itu juga. Sebab kami tidak ingin Zein khilaf. Maklumlah, namanya juga bujangan hampir expierd," jelas Rani panjang kali lebar.

Seketika wajah Intan merona. Ia tak menyangka ternyata Zein sudah mencintainya sejak saat itu.

"Pasti kamu gak tau kan kalau dulu Zein udah naksir kamu?" goda Rani.

"Hehehe, enggak, Mah," jawab Intan.

"Hem ... seandainya kamu tau, dia itu cinta banget sama kamu, Tan. Jadi dia tuh gak mau kamu ditikung sama cowok lain. Makanya pingin buru-buru nikahin kamu," ucap Rani, bangga.

Hati Intan berdesir mendengarnya. Ia merasa spesial karena Zein sampai takut dirinya diambil pria lain.

"Masa sih, Mah?" tanya Intan.

"Iya, Sayang. Apalagi sebentar lagi kamu mau magang, kan. Dia takut kamu dapet tempat yang jauh terus kepincut sama cowok lain, hihihi." Rani begitu bersemangat membongkar rahasia anaknya itu. Ia ingin Intan senang jika mendengar info tersebut. Sebab Rani khawatir Intan masih meragukan perasaan Zein.

Sementara itu, di tempat lain Zein dan Muh sedang bersantai di sebuah gazebo dengan menyelupkan kakinya ke kolam.

"Gimana hubungan kalian?" tanya Muh.

"Gimana apanya, Pah?" Zein balik bertanya.

"Halah, kamu nih suka pura-pura. Emangnya kamu pikir papamu ini gak tau kalau sampai sekarang kamu belum bisa mengungkapkan cinta pada Intan?" skak Muh.

Zein terkesiap. Ia tak menyangka Muh bisa mengetahui hal itu.

"Lho, Papah tau dari mana?" tanya Zein. Ia malah mengaku secara tidak langsung.

Muh tersenyum. Padahal ia hanya memancing Zein dan ternyata tebakannya benar. "Papah ini kan sudah berpengalaman, Zein. Hanya melihat hal seperti itu, tentu saja Papah tahu," sahut Muh, bangga. Padahal ia baru tahu barusan.

"Iya ... aku tahu Papah memang pengalaman. Tapi gimana, Pah. Setiap mau ngomong itu rasanya lidahku kelu. Bahkan ini lebih menakutkan dari pada sidang promosi untuk jadi doktor," sahut Zein. Ia kesal pada dirinya sendiri.

"Payah kamu, nih! Gaya aja galak sama bawahan, tapi berhadapan sama istri sendiri takut," ledek Muh.

"Bukannya takut, Pah. Aku cuma belum siap. Entahlah, aku juga bingung kenapa sangat sulit mengatakannya," curhat Zein.

"Belum siap apa, Zein? Belum siap nikah? Kan kamu yang waktu itu minta buru-buru nikah," ucap Muh. Mengingatkan bahwa pernikahan mereka terjadi memang atas keinginan Zein.

"Ya iya sih, Pah. Tapi ya udahlah, nanti juga kalau waktunya tepat, aku bisa ngomong," sahut Zein, kesal.

"Kapan? Nunggu Intan dilirik sama orang?" tanya Muh.

Zein langsung menoleh ke arah papahnya. "Pah!" keluh Zein.

"Lho, memangnya kamu pikir dengan kalian menikah itu kamu bisa mengikat Intan secara penuh? Enggak, Zein! Kalau sikap kamu gak bisa bikin dia nyaman, dia bisa pergi kapan aja. Kamu harus tahu, wanita itu butuh kepastian. Mereka butuh yang namanya pengakuan untuk menyakinkan hati mereka agar tahu bahwa pria itu memang mencintainya," jelas Muh.

"Tapi kan aku sudah membuktikan dengan tindakan, Pah. Bahkan kami sering bercinta dan aku selalu memperlakukannya dengan lembut." Zein mencari pembenaran.

"Ya terserah, Papah hanya berusaha menjelaskan apa yang Papah tahu tentang wanita berdasarkan pengalaman membangun rumah tangga bersama Mamah. Kalau kamu nyaman dengan kondisi sekarang, silakan saja! Tapi jangan menyesal jika di perbatasan nanti Intan bisa tergoda oleh pria lain," ancam Muh.

Deg!

Zein sangat terkejut saat Papahnya tahu bahwa Intan akan dikirim ke perbatasan.

"P-Papah tau dari mana mengenai hal itu?" tanya Zein, gugup.


Dinikahi Profesor Galak (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang