Bab. 35

735 24 0
                                        

Sepanjang perjalanan di mobil, Lintang menggunakan masker. Indera penciumannya benar-benar sensitif, ia akan merasa mual kembali dan rasanya sangat menjengkelkan jika bau menyengat itu kembali terendus. Anzel yang duduk disebelahnya menjadi sangat kesal, suasana bahagia akan pergi berdua dengan kekasih menjadi kacau karena keadaan Lintang yang tidak suka dengan bau parfumnya. 

"Kamu aneh banget sih yank, kaya orang alergi aja." Kata Anzel menatap heran. 

"Nggak tahu, namanya juga nggak nyaman ya mau gimana lagi." Ujar Lintang yang fokus menyetir. 

Mereka berdua menuju pusat perbelanjaan. Hal yang sudah lama Anzel dan juga Lintang tidak lakukan. Mengingat keduanya sama-sama sibuk, dan jarang bertemu hanya untuk menyempatkan berbelanja. 

"Aku langsung milih baju nih?" Tanya Anzel masih agak kesal. 

"Iya, sekalian ganti parfum, aku nggak suka baunya terlalu menyengat." Kata pria itu merasa eneg. 

"Dih.. Apaan sih, kamu tuh aneh, kayaknya perlu periksa, orang baunya wangi enak gini dibilang nyengat." Anzel terlihat kembali bete. 

"Ya habis aku nggak nyaman, gimana lagi." Jawab Lintang tak mau dibantah. 

Lintang hanya diam menunggu, sementara Anzel mencari baju yang diinginkan. Setelah menemukan yang pas, Anzel menghadap Lintang, lalu pria itu melakukan pembayaran. Anzel juga langsung menggantinya dikamar pas. 

Entah suatu kebetulan atau memang sedang bernasib sial. Lintang tak sengaja bertemu dengan ibunya yang sore itu tengah berbelanja dengan bu Maryam. Keduanya sama-sama terdiam. Menatap satu sama lain dengan jarak beberapa meter cukup jelas. 

"Tadi beneran mama bukan sih? Kenapa nggak nyamperin, semoga bukan, salah lihat aja kayakanya," Gumam Lintang penuh harap. 

"Siapa yang salah lihat, Tang? Kamu lihat apa?" Tanya Anzel mendengar celetukan dari Lintang spontan. 

"Nggak ada, tadi tuh disana keyaknya model pakaiannya lebih bagus-bagus." Sanggah pria itu ngasal. 

Sementara bu Lisa merasa sangat kecewa dengan tingkah putranya. Ternyata diluar sana, asyik jalan dengan perempuan lain. Lintang benar-benar merampas kepercayaan darinya yang telah ia peroleh. 

Bu Lisa nampak melamun di perjalanan. Sangat berbahaya untuk membawa mobil sendiri. Terlihat tidak fokus, dan benar saja, bu Lisa hampir menabrak pengendara lain. Seorang pria yang tengah bersepeda dipinggir jalan. 

"Bu, awas bu!" Pekik bu Maryam melihat pengendara sepeda didepannya hampir ditrabas begitu saja.

"Astaghfirullah..." Ucap bu Lisa membanting setir, membuat bu Maryam yang duduk didepan sampai terjungkal membentur dashboard. 

"Bu Maryam!" Pepik bu Lisa melihat besannya tersungkur tak sadarkan diri.

"Ya Allah.. Bu bangun bu!" Seru bu Lisa merasa sangat teledor. 

***

Noza yang hampir lelap menjemput mimpi, kaget dengan seruan pintu yang diketuk dari luar cukup keras. Perempuan itu turun dari ranjang dengan bibir menggerutu. 

Begitu membuka pintu menemukan Lintang disana, wajah ayunya langsung mendung seketika.

"Ngapain ke sini?" Tanya Noza menatap enggan. 

"Jemput kamu, ayo ikut!" Ajak Lintang tanpa memberitahukan keadaan ibunya. 

"Ck, sepertinya kamu bermimpi. Jadi, mending kamu pulang!" Usir Noza menutup pintu, namun Lintang menahan dengan satu kakinya. 

"Ibumu sakit, mengalami musibah sore tadi, sekarang ada dirumah sakit. Aku kesini menjemputmu." Kata pria itu membuat Noza shock seketika. 

"Apa?! Ibu sakit?" Tanya Noza terperanjat. "Sakit apa?" Tanyanya lagi langsung lemas seketika. 

Hanya sembilan bulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang