Bab. 57

732 23 0
                                        

"Bu, Noza kemana?" Tanya Lintang terjaga, tidak mendapati istrinya diranjang. 

"Dikamar mandi Tang, kamu sudah bangun? Minum dulu, itu ada teh hangat disana!" Tunjuk Bu Maryam pada mug yang masih mengepulkan asapnya. 

"Terimakasih bu, nanti saja. Gafi masih tidur ya." Tanya Lintang mendekati anaknya yang masih lelap di boxnya. 

"Iya, sebentar lagi paling bangun." Tebak bu Maryam. 

Lintang duduk disamping box bayinya. Langsung menoleh begitu pintu kamar mandi berderit. Noza keluar dari sana, berjalan pelan menuju ranjangnya kembali. 

"Masih keluar banyak darahnya?" Tanya bu Maryam melihat wajah masam Noza pagi-pagi.

"Enggak bu." Noza menggeleng. "Tapi perutku agak melilit." Jawab Noza jujur. 

"Nanti nunggu pemeriksaan dokter ya, kamu mau sarapan sekarang? Minum teh hangat dulu biar enakan." Ujar bu Maryam perhatian. 

Noza terlihat masih butuh banyak perawatan. Belum sehat benar, tubuhnya terlihat ringkih. Sementara wajahnya juga agak pucat. terlihat perempuan itu kembali berbaring. Sementara Gafi masih lelap dengan damai di boxnya. 

"Lintang keluar sebentar bu." Pamit Lintang beranjak. Ia hendak mencari sarapan, perutnya terasa lapar karena sejak kemarin tidak terisi karbohidrat. 

Obrolan random dari orang-orang sekitarnya mewarnai acara sarapan Lintang pagi ini. Pria itu juga memesan dua bungkus untuk bu Maryam dan juga Noza barang kali ingin makan menu dari luar. 

"Bu, ini Lintang beli sarapan, ibu sarapan dulu. Noza mau? Aku beli dua." Tawar Lintang sembari menaruh dua nasi bungkus beserta airnya. 

"Terimakasih, Tang, nanti ibu makan. Za, kamu mau makan biar agak enakan, atau mau makan apa?" Tawar bu Maryam melihat putrinya. 

"Nanti saja bu." Tolak Noza belum minat.

Tak berselang lama suster membawa sarapan untuk pasien ke kamar rawat. Noza hanya membirkan makanan itu, membuat Lintang berinisiatif kembali menwarkan. 

"Kenapa belum dimakan? Aku suapin ya?" Tawar Lintang mendadak perhatian. 

"Nggak usah, bisa sendiri." Tolak Noza cepat, meraih nampan dan mencoba sarapan sendiri. 

Hingga siang Lintang tidak pergi dari ruang rawat Noza, bahkan semua keperluannya diantarkan oleh orang suruhan. Sampai bu Lisa datang kembali membesuk cucu dan menantunya. 

"Za, besok kalau sudah boleh pulang, langsung kerumah ya. Mama udah siapin kamar buat Gafi." Ucap bu Lisa penuh harap. 

"Lihat nanti ma." jawab Noza bingung. Merasa tidak enak, tapi juga tidak bisa membohongi hatinya kalau dia tidak nyaman. 

"Kamu tidak mau pulang dulu, gantian mama yang jaga. Barangkali kamu mau mandi atau apa, Tang." Bu Lisa beralih menatap Lintang. 

"Disini juga bisa ma. Nanti titip pakaian kotorku saja. Eh, boleh deh ma, nanti sekalian Lintang ambil mobil. Mama masih mau lama kan disini?" Tanya Lintang yang masih betah disana. 

"Mama nggak ke klinik hari ini, jadi santai. Sengaja mau lama disini." Jawab bu Lisa sengaja meluangkan waktunya. 

Sore hari bu Lisa baru kembali pulang. Lintang juga ikut sekalian mengambil mobilnya. Noza merasa senang saat ruangan hanya diisi dirinya, Gafi dan juga ibunya. Damai dan terasa bebas untuk melakukan apapun. Suasana hatinya juga lebih leluasa dan bahagia. 

***

"Ngapain kesini? Ini kan sudah malam." Protes Moza tak suka Lintang yang kembali. 

"Kangen sama Gafi, tadi juga bilangnya mau kesini lagi kan? Lagian aku gak bisa tidur dirumah." Jawab Lintang dengan cueknya. 

Hanya sembilan bulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang